Gelandang Bertahan ( Pahlawan tanpa tanda jasa…..)
Dalam era sepakbola modern saat ini, selain permainan yang atraktif, serta banyak gol, terdapat hal penting yang selalu dituntut oleh fans dan manajemen klub yaitu hasil akhir. Percuma saja, bermain menyerang, ataupun banyak gol, jika hasil akhir tidak berujung pada kemenangan ataupun gelar juara.
Salah satu faktor penunjang hal itu adalah dengan kehadiran gelandang bertahan. Pola permainan saat ini sudah sangat jauh berbeda dibandingkan thn 60,70,80-an. Di mana permainan sepakbola saat ini dimainkan lebih rapat, pressure lawan lebih keras dan ketat. Dampaknya, kebanyakan tim bermain dengan pola yang ”aman”, misalnya dengan 3-5-2, 3-4-1-1, 3-1-4-2, atau 4-5-1.
Formasi-formasi tersebut melahirkan sebuah posisi aspiratif, sebagai jembatan antara lini belakang dan lini depan. Posisi yang diyakini ”kurang populer” , karena tugas utamanya adalah menghambat serangan lawan, mengacaukan irama permainan lawan, dan menghalalkan segala cara untuk mengambil bola dari lawan. Gelandang Bertahan lebih dikenal dengan defensive midfielder ( DM ), dituntut untuk ”lebih” memiliki keunggulan fisik, stamina, power dan determinasi, dibandingkan kualitas teknik.
Akan tetapi pendapat ini tidak sepenuhnya benar, di dalam suatu pertandingan, tidak jarang mereka diminta melakukan man to man marking seorang kreator , macam Kaka, Ronaldinho, Zidane maupun Riquelme. Logikanya untuk menjaga seorang kreator serangan, seorang DM dituntut untuk juga mengetahui cara berpikir ke mana bola akan diarahkan oleh playmaker tersebut. Sehingga, intelegensi maupun teknik pun mutlak dibutuhkan oleh seorang gelandang bertahan.
Beberapa gelandang bertahan pada saat ini, yang cukup dikenal karena kelugasan dan kehebatannya, adalah Gennaro Ivan Gattuso ( AC Milan ), Patrick Vieira ( Inter Milan ), Claude Makelele ( Chelsea ). Di masa lalu kita juga mengenal Edgar Davids, Diego Simeone, Paul Ince, Dunga, ataupun Paul Breitner.


