7 Keajaiban Sepakbola Indonesia

Berita dari Jakmania Online

7 Keajaiban Sepakbola Indonesia
1. KETUA UMUM TERPIDANA
2. KOMDIS VERSUS KOMDING
3. KOMPETISI TANPA KONSISTENSI
4. TONTONAN BERESIKO TINGGI
5. PEMBINA TANPA PEMBINAAN
6. PROFESIONAL TERGUGAT
7. SUPORTER KAMBING HITAM

1. KETUA UMUM TERPIDANA

Tidak kurang dari Federasi Sepakbola tertinggi di dunia telah menegur PSSI yang menjalankan roda organisasinya dengan pengarahan dari seorang napi. Tapi bahkan FIFA-pun tak berdaya dengan ulah para pengurus PSSI yang terkesan mengamankan posisi masing-masing. Lebih aneh lagi seluruh jajaran pengurus klub maupun Pengda hanya berlomba aksi cuap-cuap binti protes tanpa ada eksyen yang jelas dan kongkrit.

2. KOMDIS VERSUS KOMDING

Masing-masing mengaku bekerja beracuan pada peraturan FIFA namun anehnya keputusan yang dibuat seringkali berbeda dan tidak jarang bertentangan. Belakangan Komdis merasa gerah dengan pengampunan-pengampunan yang kerap diberikan oleh Komding.

3. KOMPETISI TANPA KONSISTENSI

Boro-boro berharap jadwal tanding yang pasti. Sistem kompetisipun kerap berubah dari tahun ke tahun dengan berbagai dalih dan alasan. Dari mulai pembagian wilayah, tuan rumah 8 besar, promosi degradasi, jumlah kontestan tiap divisi, perpindahan home base dll semuanya dijalankan tanpa ada kepastian dan dengan mudah bisa berubah di tengah kompetisi yang sedang berlangsung. Tapi yang lebih aneh, sponsor tetap datang.

4. TONTONAN BERESIKO TINGGI

Kenapa sih penonton di bioskop begitu sopan padahal tidak jarang film yang dipertontonkan tidak memuaskan dan meninggalkan rasa kecewa dan penasaran. Semua itu karena kenyamanan yang didapat selama menonton. Bandingkan dengan sepakbola. Tiket melambung tinggi di calo, tempat duduk tidak pasti, pintu masuk tidak memadai sehingga menimbulkan antrian panjang, pandangan terhalang pagar, penuh sesaknya pinggir lapangan oleh orang tak berkepentingan, serta bayangan ketakutan akan kekerasan pihak keamanan yang membabi buta. Toh dengan kondisi demikian tetap lahir kelompok-kelompok suporter yang setia memberikan dukungan.

5. PEMBINA TANPA PEMBINAAN

Lupakan pembinaan, yang penting prestasi. Gelar juara bisa mendatangkan simpati dan mengamankan posisi. Bapak Gubernur, Walikota dan Bupati dengan mudahnya mengaku sebagai penggila sekaligus pembina sepakbola. Pemain terbaik dari seluruh negri direkrut, pemain asing diambil sebanyaknya, pemain binaan sendiri terbuang. Bahkan ada pembina yang tega membinasakan fasilitas stadion.

6. PROFESIONALISME TERGUGAT

Sebagian besar tim di liga Indonesia masih mengandalkan dana dari APBD. Ketika kompetisi hanya berjalan selama 6 bulan, pemain mencari alternatif pemasukan lain lewat tarkam. Resiko cedera terpaksa mereka jalani demi mencari tambahan untuk menghidupi keluarga.

7. SUPORTER = KAMBING HITAM

Aksi diving pemain, keberpihakan wasit, ketegasan Pengawas Pertandingan, kekerasan pihak keamanan yang membabi buta, keputusan Komisi Disiplin yang sewenang-wenang tanpa melibatkan para pelaku, pemberitaan negatif media. Semua itu bisa menyulut perasaan tak puas yang menjurus anarkisme. Namun bukan penyebabnya yang diperbaiki malah suporter yang diadili. Asosiasi atau Jambore Suporter hanyalah peluang pihak tertentu untuk mencari popularitas dan materi. Kegiatannya terlalu menggurui tanpa ada solusi. Maklum penyelenggara sama sekali bukan berlatar belakang suporter tim manapun.

***

Sumber Tulisan : JakMania Online; Disalin ulang atas izin pemilik situs.

Technorati Profile

3 comments:

  1. snox, 27. September 2007, 20:40

    emang bener kali mas andy……

    gimana kita bisa bersaing klo mulai dari pembinaan pemain dan kompetisi aja kita ngawur dan asal-asalan (asal menguntungkan)

    sedihnya bertambah ketika saya membandingkan dengan negara2 miskin di afrika yang bisa mencetak pemain2 handal dan bisa masuk piala dunia…..

    kira2 kapan ya kita bisa bener2 di perhitungkan…??????

    atw mungkin tunggu mas andy jadi ketua PSSI dulu??????

     
  2. Andy Gultom, 28. September 2007, 11:25

    pembinaan sebenarnya sudah berjalan dengan baik, permasalahan selalu terjadi dalam level umur 18 tahun ke atas. Timnas indonesia umur 10-17,thn , sdh sgt sering memperoleh penghargaan di luar negeri, akan tetapi, setelah itu malah melempem..
    artinya ada missing link dalam range umur 18 thn ke atas…yg pertama menurut saya, benahi liganya !!!! pakailah sistem kompetisi full sponsor. Tim dilarang disupply APBD, atau gunakan sistem kuota maksimum 30 % anggaran yg boleh disuppy APBD…biarkan hukum alam bekerja, siapa kuat, dia yang bertahan dan survive…
    Sepakbola adalah suatu industri, tidak bisa dihindari lagi, karena memang begitunya yang terjadi di belahan dunia manapun…artinya kita pun harus mengikuti sistem survive or die, karena kalau tidak sepakbola kita tidak akan berkembang…
    untuk masalah dana, PSSI dapat menggunakan iuran olahraga atas nama Presiden RI, sifatnya segregated account…artinya tidak bisa diutak-atik, dikorup dsbnya…gunakan bunganya untuk semua kegiatan pembinaan, dll…
    sebenarnya msh banyak yg dapat diungkapkan, namun blogger ini pun sebenarnya masih belum cukup untuk membahasnya

    sekian komentar saya….

     
  3. sepatubola, 31. October 2007, 11:55

    bener semua tuch!!
    berantas korupsi, uangnya untuk kemajuan sepakbola Indonesia!!

     

Write a comment: