TC di luar negeri, useful or useless?

cefar.jpg

Membaca sebuah artikel di BOLA edisi Jumat, 5 Oktober 2007, hati saya sedikit tergelitik atas kutipan berikut ini :

“ ……TC di luar negeri bukan sekadar tren, tapi juga keharusan, sebab kontribusi tertinggi dari TC di luar negeri adalah pengalaman bertanding dan pengetahuan situasi sepakbola di negara lain…..”

Seperti kita ketahui bersama, timnas sepakbola U-23 (dibawah usia 23 tahun), sedang melakukan pemusatan latihan di luar negeri, tepatnya di CEFAR (Centro de Entrenamiento para Futbolistas de Alto Rendimiento), Buenos Aires, Argentina.

CEFAR diklaim sebagai salah satu pusat Training Center (TC) sepakbola terbaik, dengan dilengkapi lapangan kelas satu, bervariasi dari lapangan rumput, rumput sintetis dan pasir. Belum lagi fasilitas gym dan ruang medis yang lengkap dan modern.

CEFAR dulunya adalah markas Boca Juniors (penghasil pemain hebat macam Diego Maradona, Carlos Tevez dan Lionel Messi). Klub Barcelona (Spanyol) pun sampai saat ini terus memakainya, khusus untuk pembinaan pemain mudanya. Dengan alasan ini, tampaknya semakin jelas, mengapa tempat ini dipilih oleh PSSI, sebagai penggodokan timnas muda kita.

BOLANOVA melihat, bahwa terjadi missing link dalam dunia sepakbola Indonesia. Sudah bukan kejutan lagi, jika kita sering mendengar bahwa timnas “kecil” Indonesia ,KU (Kelompok Umur) 8-12 tahun, kerap berprestasi di tingkat dunia (Kejuaraan Danone, dll). Akan tetapi, memasuki tingkat umur 20 tahun ke atas, skill dan teknik yang mereka miliki, mendadak lenyap, bagai hilang ditelan bumi.

Memang skill mereka, sebenarnya “tidak benar-benar” hilang. Melainkan skill negara lain, berkembang lebih pesat dan cepat daripada kita. Seperti sebuah seleksi alam, Indonesia kalah bersaing, dan keluar dari percaturan dunia.

Banyak hal, yang menjadi “alpha dan omega” dari masalah pelik tersebut. Akan tetapi salah satu benang merahnya, bagaimana cara menjaga kualitas teknik dan psikologis dari timnas kita. Usulan melakukan TC di luar negeri, tampaknya adalah cara instan yang sedang dilakukan oleh PSSI. Kita harus menghargai usaha tersebut, sembari memikirkan, bagaimana kelanjutannya.

BOLANOVA mengusulkan, agar PSSI menjalin kerjasama dengan klub-klub kelas menengah/atas klub-klub Liga Inggris atau Australia. Ajak klub tersebut membuat suatu akademi sepakbola yunior di Indonesia. Lakukan seleksi dengan semestinya, hasil dari akademi yunior dapat dijadikan sebagai bibit pesepakbola di klub-klub tenar tersebut.

Untuk soal lokasi, Jakarta, Surabaya dan Bali, tampaknya cukup cocok. Soal klasik, yaitu masalah dana, sebenarnya tidak menjadi masalah yang cukup besar. Indonesia sebenarnya banyak memiliki “kaum berduit” yang cukup concern dan gila bola. Hanya saja tidak ada yang mempertemukan mereka dengan PSSI.

Usulan ini hanyalah sebuah titik kecil yang bermuara pada kepuasan dahaga bangsa kita, akan suksesnya timnas sepakbola Indonesia.

MAJU TERUS SEPAKBOLA INDONESIA !!!!!!

5 comments:

  1. seno, 17. October 2007, 10:54

    kalo saya liat TC emang penting tapi menurut saya kompetisi kita juga berpengaruh

    sebagian besar pemain muda kita (20 tahun keatas) maen di liga (divisi 1 atw 2) dengan gaya permainan yang sama (sadisnya) itu keliatan dari permainan waktu lawan boca

    bek2 kita ga tenang waktu ngejaga pemain cepat dan punya tehnik bagus dan bawaannya mau nekel keras trus….

    trus masalah stamina…. dimana2 klo kita udah capek pasti bawaannya maen kasar karena udah paksa untuk lari2(nafas aja udah ngosngosan) belon lagi pelatih ngeliatin dan perasaan ga mau di marahin pelatih….

    kalo kompetisi kita ga “sadis” pasti kita bakal jauh lebih berkembang baik permainan dan juga aspek2 lain, khusus suporter kalo rusuh di kasih sangsi pidana aja langsung…termasuk melempar apapun ke dalam lapangan (walaupun ga kena pemain atw wasit)penjarakan aja karena itu udah tindak kekerasan…

    trus saya setuju ama andy soal tim junior kita(20 tahun kebawah, udah kayak pelem aja nih)hihihi… , emang lebih mengkilap malah kalo ga salah striker kita jadi top score di salah satu kompetisi asia,pemain terbaik juga pemain kita yg dapet kemaren…
    pemain2 potensial kayak gt sekolahin di ajax atw di sekolah bola yg bagus (kerja sama ama klub2 inggris kayak kata andy) mulai dari muda bakal mupuk skill dan pengetahuan soal dasar permainan sepakbola…

    TC itu bagus tapi dengan dana yg sebesar itu bakal lebih bagus kalo pssi mikirin cara yg lebih bijaksana lagi…

    siapa tau dengan melihat kinerja PSSI yg bagus dan ga “nyari untung” banyak pengusaha2 yg maniak bola (kalo di medan dulu ada joni pardede) yg bakal ngasih support dana…..

    AYO SEMANGAT DAN DUKUNG SEPAKBOLA INDONESIA…..

     
  2. Andy N. Gultom, 17. October 2007, 11:00

    @ seno

    wah saya berterima kasih atas komentar2 mas seno yang benar2 bermutu…saya appreciated sekali, komentar anda membuat saya excited utk semakin membuat tulisan2 sepakbola yang lebih baik lagi

    again soal Dida, apa dlm benaknya, cuma dia dan Tuhan yg tahu..yg jelas, hw make fool mistake…

    soal pembinaan, saya sendiri suka gemes ngeliat timnas kita, tp apa daya, saya hanya seorang penulis bola, sembari berharap semoga tulisan saya dibaca oleh petinggi sepakbola kita….:)

     
  3. seno, 17. October 2007, 11:26

    waduh mas saya jadi ga enak sendiri karena komentar awam dengan bahasa sekenanya seperti ini kok di bilang bermutu..???

    yang pasti itu tulisannya bener2 bermutu sehingga mudahin orang2 awam seperti saya untuk mencerna maksud dari tulisan mas andy….

    regards..

     
  4. Hedi, 19. October 2007, 3:23

    Kunci pembinaan adalah kompetisi yang sehat, bagus, dan bermutu. Dulu waktu tim U-21 latihan ke Belanda, Fope de Hans, yang jadi konsultan teknis bilang timnas ga perlu pergi tc ke luar negeri. Yang bener, bikin kompetisi yang jelas.

    Udah ah, ntar kepanjangan :D

     
  5. Andy N. Gultom, 19. October 2007, 8:32

    wah..wah..wah…the real commentator is arrived…. terima kasih atas komentarnya mas, kompetisi kita memang carut marut, tp uji coba juga sepertinya penting mas hedi…setidaknya kita bisa tahu di mana kita berada…

    best regards

     

Write a comment: