Italia sudah berubah, Indonesia?
Ada fakta menarik yang terjadi di persepakbolaan Italia dan harus dicontoh oleh negara kita. Saat ini, tingkat cedera suporter di stadion Italia berkurang hingga 80 persen dibanding musim yang lalu. Tentunya hal ini merupakan hal yang sangat membanggakan federasi sepakbola Italia.
Bulan Februari yang lalu, kerusuhan di partai Catania vs Palermo merenggut nyawa seorang polisi Italia. Kejadian ini pun dengan cepat ditanggapi oleh ‘PSSI’nya Italia. Regulasi baru dikeluarkan, keamanan pun semakin ditingkatkan. Dan hasilnya? Tingkat cedera di stadion-stadion Italia dikabarkan berkurang hingga 80 persen.
Di negara kita, kerusuhan sudah menjadi makanan sehari-hari. Aksi membakar mobil, perusakan stadion, perusakan bus, dan lain sebagainya sudah sering kita lihat di layar televisi seusai pertandingan sepakbola Indonesia.
Jangankan suporter. Salah satu pelatih klub Liga Indonesia bahkan dijatuhi sanksi setelah melakukan aksi pelecehan dan penghinaan kepada wasit yang memimpin pertandingan. Apakah sebegitu buruknya moral bangsa ini yang tidak bisa menerima keputusan dan kekalahan? Apakah setiap kekalahan tidak bisa diterima dengan lapang dada? Mengapa kita tidak bisa duduk dengan tenang dan menyaksikan aksi-aksi pemain kebanggan kita di lapangan hijau?
Jika tifosi Italia yang juga terkenal anarkis bisa berubah, mengapa kita tidak bisa berubah? Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Semua bisa dilakukan asal kita memiliki kemauan. Namun pertanyaan adalah : Maukah kita berubah dan memajukan persepakbolaan negara kita ini? Jika jawabannya adalah ‘Iya’, mari kita mulai dari diri kita sendiri. Mari kita merubah sikap kita seperti saat timnas bermain di Piala Asia beberapa waktu yang lalu. Saat timnas kalah dengan mengenaskan dari Arab Saudi dan Korea, kita tidak mudah terpancing emosi dan mau mengakui kekalahan.
Maju terus persepakbolaan tanah air!
source : sports.yahoo.com



Saya mencoba melihat dari sisi budaya secara universal, di Italia saya lihat memiliki budaya suporter mirip dengan negara2 Eropa Selatan lainnya seperti Prancis, negara2 Balkan, Yunani, hingga Turki, dimana kekerasan antar suporter masih menjadi aroma tiap kompetisi (meskipun sekarang sudah berkurang, setidaknya menurut tulisan di atas), berbeda dengan negara2 Eropa Utara seperti Inggris, Skotlandia, Belanda, Jerman, hingga negara2 Skandinavia. Sebagai satu contoh sederhana adalah Liga Inggris, dimana jarak suporter dengan lapangan pertandingan hanya 2-3 meter, itupun tanpa pagar pembatas, sementara di Italia masih terdapat “sekat” dari “ancaman” suporter.
Sementara di Indonesia, “budaya” suporter kita lebih mirip dengan negara2 dunia ke-3 di Amerika Selatan, seperti Brasil, Argentina, hingga Meksiko. Sekali lagi saya melihat ini adalah sebagai perbedaan budaya, terlepas dari masalah lain seperti SDM dan kondisi ekonomi.
Namun demikian, sepakbola adalah “bahasa” universal yang menembus batas “budaya” itu tadi. Mungkin kit memang memiliki “budaya” sendiri, TAPI apabila ada contoh budaya lain yang lebih baik dan berdampak baik bagi iklim sepakbola di negeri sendiri, kenapa tidak kita tiru sisi positifnya? Tidak hanya suporter, tapi juga pemain, pelatih, pengurus klub, hingga PSSI & BLI yang mengayomi persepakbolaan nasional, nah… yang terkahir itu tadi sepertinya yang harus masih banyak belajar dari “budaya” sepakbola negara2 Eropa tadi. Begitu kira-kira analisis saya. Bravo sepakbola nasional!!!
@ zoel :
sungguh suatu analisa yg logis dan beralasan….kultur dan budaya kita memang mirip2 negara amerika selatan, jd memang masuk akal…btw kapan2 kalo punya tulisan yang bagus, kirim2 aja mas ke bolanova…
thanks