How to Make a (better) Football Competition in Indonesia (Bagian 2)

Artikel sebelumnya (klik di sini)
Sekilas Sejarah Sepakbola Indonesia
Perkembangan sepakbola saat ini sudah mencapai tahap yang mungkin tidak pernah dibayangkan oleh sebagian besar penduduk dunia. Mungkin tidak banyak orang yang mampu meramalkan bahwa sepakbola mampu menyihir dunia melalui pesona dan daya tarik yang dimiliki oleh olahraga ini.
Perkembangan sepakbola dunia sudah menjalar ke seluruh nadi bagian bumi ini. Eropa dengan berbagai Liga dan Kompetisi Domestiknya menjadi daya tarik tersendiri sebagai kompetisi olahraga dengan hegemoni terbesar di dunia.
Kawasan Amerika membuktikan walaupun kompetisi domestiknya tidaklah sebesar dan semegah kompetisi Eropa namun siapa yang tidak mengenal sosok legenda seperti Diego Armando Maradona, Pele, Mario Kempes, Socrates, dll. Bahkan ketokohan para generasi saat ini seperti Ronaldo, Kaka, Ronaldinho dan Lionel Messi mulai dibandingkan dengan para pendahulu mereka.
Mereka menjadi sosok legendaris dan menempati posisi tersendiri dalam sejarah peradaban sepakbola sekaligus mengisi relung hati manusia melalui penampilan dan aksi mereka di lapangan.
Benua Afrika yang dianggap sebagai belahan ‘dunia ketiga’ pun tidak lepas dari perjalanan sang kulit bundar, kerasnya kehidupan di Afrika seolah menempa sumber daya manusia di kawasan ini. Etos kerja, semangat yang tidak kenal lelah dan pantang menyerah direfleksikan melalui permainan lugas dan dinamis dalam mengolah sang kulit bundar di lapangan, ditunjang dengan stamina dan fisik yang prima menjadikan pemain-pemain sepakbola asal benua hitam ini selalu ada dan hadir (nyaris) di setiap klub dunia.
Benua Asia dan Australia pun tidak tertinggal, benua asia walaupun benua terbesar dan mungkin terpadat penduduknya di bumi ini menjadikan kawasan ini mencapai rangking teratas, namun jika berbicara tentang tradisi sepakbola yang kuat, Asia belumlah dapat dibandingkan dengan benua eropa dan amerika latin. Dalam dekade terakhir ini Asia mulai menapaki jalan untuk tidak kalah dengan eropa dan amerika latin. Sebuah langkah maju dan berani namun bukan sekedar omong kosong belaka kiranya.
Melihat perkembangan sepakbola dunia yang terjadi saat ini, sangat terasa betapa sepakbola kita (Indonesia) telah tertinggal sangat jauh. Bahkan hal ini disampaikan langsung oleh Bernard Schumm saat lawatannya ke Indonesia beberapa waktu lalu, dia mengatakan bahwa ‘sepakbola di Indonesia sudah tertinggal 20 tahun’. Sudah sejauh itukah ketertinggalan kita dalam hal pemahaman tentang sepakbola? Sejak diperkenalkan oleh seorang bernama Ir. Suratin pada tahun 1930, memang perkambangan sepakbola di Indonesia berjalan amat lambat. Sebagian opini malah menyebutkan bahwa semakin memburuk dari hari ke hari.
Banyak dari kita yang mungkin tahu atau bahkan tidak tahu bahwa ternyata ketika Ir. Suratin mendirikan PSSI pada tahun 1930 bukanlah sekedar hobi atau kesenangannya terhadap permainan sepakbola belaka. Namun ada sebuah misi yang diusung oleh Sang Insinyur, setelah sekian lama ia akhirnya memahami bahwa daya magis sepakbola ternyata mampu menyatukan masyarakat, mempersatukan jiwa dan raga rakyat Indonesia untuk bersatu melawan penjajah. Jadilah PSSI berdiri sebagai sebuah organisasi/wadah sebagai selimut agar tidak dibredel oleh penjajah/kompeni. PSSI sebagai sebuah alat perjuangan dan sepakbola adalah alat kepentingan.
Bersambung..
Written by Izumi Mutsu
Source : www.afcasiancup.com (Photo)



[…] Bagian 2 (klik di sini) […]