Emosi
Yang menarik dari liga BPL adalah betapa wasit sangat jeli menangkap gerakan pemain yang mencoba melakukan kekerasan dilapangan walaupun hanya gertakan. Dan hukumannya pun bisa membawa petaka bagi sebuah tim, yaitu kartu merah.
Seperti adegan yang tertangkap oleh seorang fotografer ini:

Gerakan memukul Paul Scholes memang tidak mengenai sama sekali Xabi Alonso. Tapi tetap saja Scholes dikenakan kartu merah. Jika di Liga Indonesia, oh, harap maklum deh. Kalau ga kena ya tidak apa-apa. Kalau pun kena, baru kartu kuning.
Ok, kita lupakan sejenak masalah kekerasan dilapangan dan relasinya dengan Liga Indonesia. Yang jadi pertanyaan sebenarnya adalah, kenapa Paul Scholes bisa dengan begitu mudahnya melakukan gerakan seperti ini? Bukankah dia sudah tergolong senior di kubu MU? Atau karena ada masalah keluarga yang masih terbawa ke lapangan sehingga dengan mudahnya dia melontarkan pukulan yang sepertinya hanya gertakan?
Masalah emosi memang tidak bisa terlepas dari kejadian sebelumnya. Artinya, sang pemain mungkin punya masalah dengan sesuatu atau seseorang sebelum masuk kelapangan sehingga terbawa dalam permainan. Atau bisa juga karena tuntutan pelatih. Bahkan bisa juga tekanan media massa. Untuk hal-hal seperti ini, solusi yang tepat adalah mengambil napas yang dalam dan pemanasan yang cukup sambil bercanda dengan rekan setim.
Bagaimana dengan pemain yang memang sudah memiliki sifat pemarah? Jika hal ini memang adanya, pendekatan pemain dan pelatih adalah solusinya. Ibaratnya, menjaga anak kecil supaya tidak lari jauh-jauh.
Kesimpulan, emosi memang tidak bisa dihapuskan. Emosi hanya bisa dikendalikan. Diredam. Dan yang membantu meredam itu tidak hanya dilakukan oleh pemain itu sendiri, tapi juga harus ada intervensi pelatih dan rekan setimnya. Masih tidak mempan juga? Masukan ke kelas “Anger Management“, selesai. Seperti yang diceritakan oleh Bung Hedi dalam tulisan ini: Simunic.



sangat paul scholes melakukan itu,tapi saya yakin dia melakukan itu bukanlah suatu kesengajaan belaka pasti ada faktor-faktor lain di belakangnya,bravo Scholes!!!aq selalu mendukungmu.GBU
@joerichard:
Mungkin karena tensi pertandingan pada saat itu yang tinggi sehingga di senggol sedikit saja, sang pemain mudah naik pitam. Mungkin.
Namun tetap, seharusnya Scholes tidak boleh melakukan hal itu. Dia sudah dikagumi ribuan anak kecil. Dan, saya rasa, hal ini tidak patut untuk dicontoh.