How to Make a (better) Football Competition in Indonesia (Bagian 3)

cammeroon-soccer.jpgBagian I, klik di sini

Bagian II, klik di sini

Cita-cita Ir. Suratin akhirnya terwujud, begitu banyaknya perserikatan yang ada menciptakan terbangunnya kesadaran akan pentingnya sebuah Bangsa Indonesia yang satu. Itulah kemudian yang menjadi klaim ketika akhirnya Indonesia merdeka 15 tahun kemudian tepatnya pada tanggal 17 Agustus 1945.

Pasca proklamasi kemerdekaan, kompetisi sepakbola yang bertaraf nasional mulai digulirkan. Hal ini sekaligus untuk memperkokoh semangat persatuan yang telah terbentuk. Kompetisi sepakbola bertaraf nasional sejak kemerdekaan 1945 hingga saat ini dimana era globalisasi lahir dan berkembang, kompetisi sepakbola nasional terus bergulir, walaupun sempat terhenti di kurun waktu tertentu namun itu tidaklah vakum terlalu lama.

Sepakbola sekali lagi menjadi sebuah klaim, bahwa kompetisi si kulit bundar ini menjadi kompetisi olahraga yang berskala nasional, melainkan juga tempat penyelenggaraannya. Liga Indonesia yang secara resmi telah berumur 13 tahun –walaupun terus bergonta-ganti nama (Liga Dunhil,Liga Kansas,Liga Bank Mandiri, Liga Djarum)- seolah memberikan bukti eksistensi sepakbola di Indonesia kefanatikan khalayak akan sepakbola bukanlah isapan jempol, selebihnya kita tidak memiliki lagi kompetisi olahraga yang mampu bersaing dengan sepakbola.

Bulutangkis yang telah memberikan nama harum bagi bangsa dan Negara Indonesia di pentas internasional telah menjadi salah satu cabang olahraga yang menjadi kebanggaan bangsa ini, namun demikian cabang olahraga ini pun tidak memiliki system kompetisi yang berputar secara penuh sepanjang tahun di banyak kota di seluruh Indonesia.

Inilah kiranya yang menyebabkan timbulnya kontradiksi, Wakil Presiden Jusuf Kalla dalam sebuah kesempatan membuka Munas PSSI di Makassar beberapa waktu lalu menceritakan pengalamannya ketika ditanya oleh salah satu media internasional, ‘apa olahraga terfavorit di Indonesia?’, dengan lugas Jusuf Kalla menjawab ‘sepakbola’. Pertanyaan kemudian berlanjut dari sang wartawan ‘apa prestasinya?’, sang Wakil Presiden pun terdiam.

Ketika sebuah cabang olahraga tertentu begitu diminati dan menjadi terfavorit, idealnya tentu berbanding lurus dengan prestasi. Namun tidak demikian halnya di Indonesia. Hal senada juga dialami cabang olahraga bulutangkis, roda kompetisi yang tidak penuh bergulir setiap tahun tidak menjadikan cabang olahraga ini tidak berprestasi, namun malah sebaliknya sejumlah nama bintang besar lahir berikut prestasi telah diukir melalui cabang olahraga ini.

Tidak mau kalahnya sepakbola dari bulutangkis membuat visi PSSI bergerak satu langkah maju, sepakbola bukan lagi hanya sekedar alat kepentingan namun harus bisa berperan untuk mengangkat harkat martabat bangsa dan Negara. Namun hingga kini pun dengan visi tersebut tidak mampu mengangkat prestasi sepakbola kita bahkan di tingkat kawasan Asia Tenggara saat ini. Kita tidak lagi mudah mengalahkan Singapura, Vietnam dan Myanmar, bahkan selalu sulit untuk mengalahkan Thailand.

Sementara di belahan bumi eropa orang sudah menikmati glamournya suasana kompetisi sepakbola, sepakbola adalah industry, sepakbola adalah bisnis baru yang sangat megah dan menguntungkan. Di Amerika latin walaupun tidak semegah kompetisi eropa namun bintang-bintang muda terus dicetak dari wilayah ini. Pabrik atau pusat produksi pemain sepakbola layak disematkan bagi benua ini. Jepang dan Korea Selatan membuat mata pecinta bola dunia menjadi terbuka ketika keduanya secara tidak terduga mampu bergerak jauh pada Piala Dunia 2002, hasilnya beberapa pemain tim Nasional kedua negeri timur asia itu mulai menapak kompetisi sepakbola eropa.

Di sisi lain, Indonesia dengan visinya ‘sepakbola sebagai alat perjuangan dan alat pemersatu bangsa’, seakan terdengar seperti isapan jempol belaka. Slogan yang kental dengan aroma politis tersebut seolah ingin memberi bukti bahwa Indonesia telah tertinggal jauh dalam memaknai permainan sepakbola ini baik dalam hal filosofi makro dan mikro sepakbola, manajemen industry sepakbola, dll.

Written by Izumi Mutsu

2 comments:

  1. harya bimo, 3. November 2007, 2:44

    visi & slogan “sepakbola sebagai alat perjuangan dan alat pemersatu bangsa” diganti saja (terlalu orba). kata “alat” malah berkonotasi negatif kalau dikaitkan dengan pengurus2 PSSI. Jangan2 sepakbola malah dijadikan dijadikan alat politik, alat mencari duit, atau alat kebal dari sentuhan hukum (spt you-know-who yg sekarang mendekam di Cipinang).
    Mendingan ganti aja jadi yg lebih “gak klise”. Ada usulan?????

     
  2. Andy N. Gultom, 3. November 2007, 5:26

    @ harya :

    wuaduh….hayo..hayo… kayanya yg jawab harus mas izumi nih…gmna mas ? :)

     

Write a comment: