Wasit dan Gelar Juara Liga Inggris

Setelah pertandingan Arsenal-MU, pelatih Setan Merah Sir Alex Fergusson menuding wasit berpihak dan memberi keuntungan kepada tim tuan rumah. Ia memang tak secara eksplisit menyalahkan pengadil yang kini tak lagi dijuluki korps baju hitam (karena warna seragamnya sudah lebih gaul).

Sir Alex menyebutkan bahwa atmosfer stadion memang memberikan tekanan besar kepada wasit untuk bertindak netral terhadap tim tuan rumah. Arsenal sendiri melalui bosnya Arsene Wenger mengatakan bahwa keputusan wasit mengesahkan sepakan William Gallas sudah melewati garis gawang adalah keputusan penting, yang akan mempengaruhi perebutan gelar hingga akhir musim nanti. “Anda tak bisa membayangkan konsekuensinya seandainya kami kalah karena gol tersebut dianulir,” tukas Wenger.

Dalam konteks keputusan sang pengadil, hingga pekan ke-12 Liga Inggris bergulir,  salah satu yang paling menderita adalah Liverpool. Apa pasalnya? Oleh wasit, Si Merah adalah tim yang paling banyak mendapatkan hukuman penalti. Dan hukuman penalti yang paling menyakitkan adalah ketika mereka bertarung melawan salah satu tim big four, Chelsea.

Lompatan menyongsong bola yang dilakukan oleh Steve Finnan saat itu dianggap mengganggu pemain Chelsea sehingga wasit mengganjar penalti yang berhasil diselesaikan secara sempurna oleh Frank Lampard. Dalam tayangan ulang terlihat, bahkan Steve Finnan tak menyentuh pemain Chelsea karena sang pemain jatuh karena lompatan yang tidak sempurna.

Dan karena penalti tersebut, Liverpool gagal meraih start sempurna setelah memenangi dua pertandingan sebelumnya. Meski merupakan start yang cukup baik dibandingkan musim-musim sebelumnya, penalti tersebut boleh jadi masih sangat membekas di hati para pemain Liverpool.

Tak hanya itu, sejak ditahan Chelsea di kandang sendiri, bahkan Liverpool tak pernah meraih sebuah kemenangan pun ketika bermain di hadapan para pendukungnya.

Dari sini saja, sudah seharusnya wasit dan cara wasit bekerja harus diperbaharui secara lebih modern. Penggunaan teknologi sudah saatnya dilakukan. Pengaturan waktu efektif bermain sebagai ukuran waktu pertandingan –seperti di bola basket– selayaknya dijadikan bahan pemikiran. Dan penentuan waktu pertandingan oleh wasit seharusnya dihentikan. Biarlah wasit berkonsentrasi penuh hanya pada jalannya pertandingan, karena para pemain bola sekarang ini dengan pintarnya mengelabui wasit untuk mendapatkan keuntungan bagi timnya.

Kalau keputusan wasit akan sedemikian menentukan di akhir kompetisi dan pada jalannya persaingan dari minggu ke minggu, itulah barangkali salah satu revolusi yang seharusnya juga dipikirkan Michel Platini.

No comments yet.

Write a comment: