We are live in a YELLOW SUBMARINE

villareal1.jpgJudul di atas diambil dari refrain salah satu lagu gubahan The Beatles. Entah kebetulan atau tidak, nuansa lagu tersebut tergambar jelas pada klub Primera Liga, Villareal FC.
Villareal yang berkostum utama kuning-kuning, memasuki momen terbaik di dalam sejarahnya di Liga Spanyol.

Kemenangan 4-3 dalam partai away minggu 4 November 2007, melawan salah satu tim hebat lainnya, Atletico Madrid, semakin menegaskan potensi signifikan dari anak-anak asuhan Manuel Pellegrini.

Villarreal saat ini sudah mengais 8 kemenangan, tanpa imbang dan 3 kalah, menghasilkan poin 24. Berada di posisi ke-3 Primera Liga di bawah Madrid (25) dan Barcelona (24). Sepertinya Pellegrini benar-benar mengharapkan anak asuhnya berjuang untuk mengambil 3 poin dalam setiap pertandingannya. Kesimpulannya, menang sekalian atau hancur sama sekali.

Banyak yang tidak menduga, langkah mereka bisa sejauh ini, apalagi di partai perdana musim ini, mereka habis dibantai 0-5 di kandangnya sendiri !!!

Tetapi lambat laun, The Yellow Submarine mulai menemukan ritme permainannya. Kunci kekuatan Villareal mungkin terletak pada figur pelatihnya sendiri. Manuel Pellegrini, pelatih berkarakter keras, yang sangat mengutamakan kolektivitas tim. Sebagai buktinya, Juan Roman Riquelme, playmaker jenius yang pernah berjasa membawa sendirian tim ini ke semifinal LC 2006, justru disingkirkan dari tim, dengan alasan tidak cocok dengan konsep timnya.

Pellegrini, memang lebih suka mematok strateginya dulu, baru kemudian menempatkan pemain yang cocok dengan taktiknya tersebut. Hal ini membuat dirinya bebas menentukan pemain yang akan direkrutnya.

Polesan Pellegrini musim ini juga mencuatkan Guiseppe Rossi (baca : Guiseppe Rossi, di persimpangan jalan), seorang bintang muda berbakat, yang terbuang sia-sia di Newcastle, MU dan Parma.

BOLANOVA sendiri meramalkan, setelah Roberto Baggio dan Roberto Mancini, Rossi akan menjadi seorang centre forward hebat Italia di masa depan.

Meskipun melepas Diego Forlan ke Atletico, Villareal masih bisa berharap kepada Nihat Kahveci, eks bintang Real Sociedad yang mencetak 2 gol dalam pertandingan terakhir melawan Atletico. Plus dukungan hardworking midfielder Marcos Senna dan Matias Fernandes, Frenchman Robert Pires yang rajin menyisir sayap, dan ketangguhan Sebastian Viera di bawah mistar gawang, cukup membuat kapal selam Villareal ditakuti oleh lawan-lawannya.

Jika boleh dirunut, Villareal bukannya tanpa kelemahan. Sektor pertahanan masih labil, dengan diperkuat Pascal Cygan, the new star, Gonzalo Rodriguez, ataupun eks bintang Super Depor, Joan Capdevilla. Mereka masih membutuhkan penambahan jam terbang untuk mencapai puncak performa.

Secara umum, Villareal memang dianggap masih sulit mengatasi hegemoni Madrid dan El Barca. Namun dengan bintang-bintang “kelas duanya”, mereka memiliki gairah besar untuk menepis mitos tersebut. Dengan bermain nothing to lose, tampaknya perjalanan Villareal musim ini, bakal lebih bagus daripada sekedar menembus semifinal LC 2006.

Source : www.sobrefutbol.com.ar (Photo)

No comments yet.

Write a comment: