How to make a (better) Football Competition in Indonesia (Bagian 4)

forumania-3.jpg Bagian 2 (klik di sini)

Bagian 3 (klik di sini)

Paradigma dan Mainstream Berpikir

Mungkinkah terjadi salah landasan berpikir dalam menentukan arah perkembangan sepakbola di Indonesia!?? Saya beranggapan sah-sah saja memang sesuatu dijadikan sebagai klaim, termasuk ketika Ir. Suratin mendirikan PSSI bukan sekedar menjadi organisasi sepakbola namun juga sebagai alat perjuanganan untuk mengusir penjajah. Bandingkan dengan sepakbola eropa yang menganut filosofi bahwa sepakbola bukanlah sekedar permainan dengan durasi 90 menit, namun sebagai industry bisnis terbesar di dunia.

Hasilnya kompetisi Liga Inggris menjadi contoh mega proyek perputaran bisnis olahraga terbesar di dunia. Amerika Latin tetap menganut sepakbola adalah seni, dan seni adalah keindahan. Walaupun kini ada beberapa Negara Amerika Latin yang lebih mengusung bahwa kemenangan lebih prioritas dibandingkan sekedar seni mengolah bola di lapangan. Masing-masing pihak sah-sah saja untuk mengklaim sepakbola untuk tujuan tertentu, namun sekali lagi keuntungan dan kebaikan dari masing-masing filosofi diuji oleh waktu dan keberhasilan dalam tahap implementasi.

Saat Ir. Suratin mendeklarasikan idenya pada tahun 1930 menjadi sangat relevan bahwa PSSI didirikan untuk menyatukan rakyat. Mengingat kondisi zaman tersebut memang tak lekang dari para penjajah, pasca kemerdekaan mungkin masih berkesinambungan. Namun saat globalisasi mulai melanda dunia, Indonesia tak luput dari arus besar tersebut, filosofi bahwa sepakbola sebagai alat pemersatu semakin lama semakin menjauh ketika peradaban terus tumbuh, berjalan, dan berkembang.

Saat globalisasi mulai menguasai sendi-sendi kehidupan manusia, seketika itu pula fenomena kehidupan ekonomi menjadi berubah. Dunia diatur oleh sebuah system ekonomi besar yang berorientasi keuntungan sebesar-besarnya dengan menekan kerugian yang seminimalis mungkin. Tak ada satu pun yang luput dari arus besar globalisasi, termasuk juga sepakbola. Yang dulu mungkin hanya sekedar permainan rakyat untuk mengisi waktu luang, dan mengisi waktu istirahat bagi para kelasi-kelasi Inggris saat ini mulai berubah orientasi.

Mungkin pada tahun 1930 masyarakat eropa juga tidak pernah mengira bahwa sepakbola di eropa akan berkembang sedemikian rupa. Banyaknya penggemar permainan ini seolah menjadi potensi bisnis yang amat sayang untuk dilewatkan untuk mengeruk keuntungan materi. Hasilnya dapat kita saksikan saat ini, liga Inggris membuka mata dunia bahwa sepakbola adalah bisnis besar bahkan mega bisnis.

Tak ayal banyak konglomerat dunia yang bersedia menghabiskan uangnya untuk berinvestasi di Britania Raya ini.Mulai dari taipan Rusia hingga mantan penguasa Thailand. Bahkan perusahaan penerbangan Fly Emirates berani membuang uang untuk membangun stadion megah bagi klub asal London Arsenal dengan kapasitas hampir 90.000 penonton, dengan kapasitas stadion ini Arsenal mendapatkan jumlah pemasukan tiket yang cukup melonjak dari tahun-tahun sebelumnya ketika mereka masih bermarkas di Higbury.

Itu baru dari pendapatan tiket penonton, belum dari penjualan marchendise dan hak siar Liga Inggris. Dengan menganut filosofi bahwa sepakbola adalah industry bisnis, membuat seluruh entitas sepakbola menjadi semakin rajin dan ulet untuk meng-improve klub dan manajemennya. Sebab uang tidak akan datang jika prestasi tak kunjung tiba. Uang juga tidak akan dapat berkembang dan bertambah jika prasarana, sarana serta services terhadap penggemar tidak memadai. Mungkin fenomena / filosofi sepakbola industry adalah yang paling mendekati arus besar globalisasi yang memang trah lahirnya merupakan basis orientasi kekuasaan ekonomi.

Kita mencoba menapak tilas kondisi pada tahun 1930 di dunia, pada saat-saat tersebut isu tentang kemerdekaan dibelahan dunia manapun adalah keniscayaan. Bisa jadi baik di tanah Inggris maupun di Argentina serta di belahan bumi manapun pemikiran seperti Ir. Suratin juga tumbuh dan berkembang disana. Tidak salah jika kemudian sepakbola memang menjadi alat pemersatu dan alat kepentingan tertentu. Bahkan hingga saat ini sepakbola berhasil mempersatukan manusia dari isu rasial dan juga masyarakat borjuis dan proletar. Kita dapat saksikan di Stadion Stamford Bridge markas Chelsea, stadion penuh dipadati mulai dari para eksekutif periklanan sampai dengan tukang sapu jalanan, sebuah fenomena yang dapat membuat bumi gonjang-ganjing dalam sejarah Inggris Raya (meminjam istilah Franklin Foer).

Written by : Izumi Mutsu

1 comment:

  1.  

    […] Bagian 4 (klik di sini) […]

     

Write a comment: