Pendapat SUBJEKTIF, Timnas Indonesia VS Suriah
Mungkin bisa di hitung dengan jari kita merasa puas setelah menonton pertandingan timnas kita, saya malah tidak ingat kapan terakhir kali saya merasa puas setelah melihat performa timnas kita di lapangan.
Terdengar skeptik memang tapi paling tidak itulah yang sejujurnya saya rasakan setiap kali melihat timnas bertanding. Miris, mungkin itulah nasib timnas kita dari waktu ke waktu.
Memiliki pemain-pemain dengan bakat alami dan bertalenta tapi tidak bisa menyuguhkan permainan yang memuaskan, atau paling tidak bisa di bilang “sepakbola profesional” karena permainan timnas kita yang jauh dari kata bagus apalagi mau di bilang enak di tonton.
Mari kita cermati permainan timnas pada pertandingan terakhir melawan timnas Suriah di Gelora Bung Karno yang berkesudahan 4-1 untuk kemenangan Suriah.
Dari yang saya lihat Suriah banyak mengancam gawang kita karena lemahnya antisipasi pemain bertahan kita dalam menghalau crossing-crossing pemain Suriah, baik itu crossing rendah atau tinggi, bek-bek tengah timnas seperti “pasrah” dan tidak tahu harus berbuat apa untuk menghalau bola-bola crossing, kebanyakan dari mereka hanya mengejar pemain yg akan melakukan crossing dan meninggalkan pengawalan mereka pada striker lawan dan kejadian selanjutnya bisa di tebak, sang striker lawan yang berdiri bebas bisa menjebol gawang kita dengan mudahnya.
Bek-bek sayap kita juga punya andil dalam masalah antisipasi crossing ini karena ketidakmampuan mereka dalam menutup pergerakan pemain sayap lawan yg memancing bek tengah kita untuk meninggalkan “pos” nya untuk menutup pergerakan pemain sayap tersebut, para bek sayap kita kebanyakan terlalu bernafsu menyerang tanpa mengantisipasi kemungkinan serangan balik lawan mungkin itu masalah stamina atau juga masalah mental (disiplin dalam menerapkan instruksi pelatih).
Sedangkan para gelandang kita banyak melakukan gerakan-gerakan yang tidak perlu, umpan-umpan pendeknya terlalu lemah dan umpan-umpan jauhnya banyak yang tidak terarah.
Kita ambil satu pemain sebagai contoh yaitu Eka Ramdani, pemain ini sebenarnya adalah pemain potensial dengan banyak kelebihan tetapi pada perntandingan melawan Suriah kemarin dia bermain terlalu melebar dan banyak melakukan pergerakan yang menurut saya mubazir, seharusnya dia bermain lebih ke tengah di bawah striker tunggal sehingga dia bebas berkreasi dan bergerak tapi tidak sampai terlalu melebar, dengan posisi ini Eka akan lebih mudah menusuk tiba-tiba ke dalam jantung pertahanan lawan dan mengambil keputusan yang tepat untuk mengoper bola, mendribel bola atau melakukan shooting langsung.
Kita beralih ke barisan penyerang. 3 penyerang kita sudah cukup bagus yang kurang hanya kreatifitas dalam menciptakan peluang atau harus mengoper ke belakang dan dia mencari posisi yang bagus untuk membuka peluang serta mencetak gol.
Yang saya lihat Bambang harus mati-matian lolos dari bek lawan serta mencoba untuk melakukan shooting ke gawang lawan, Kabes bermain cukup bagus tetapi Budi sepertinya tidak cocok di plot sebagai penyerang sayap, mungkin Kolev bisa mencoba Atep sebagai penyerang sayap.
Setahu saya intinya adalah tempatkan orang yang tepat pada posisi yang tepat dengan instruksi yang tepat pula maka kita tinggal menanamkan kedisiplinan dalam melakukan semua instruksi pelatih, para pemain tinggal di berikan latihan yang tepat seperti kabes contohnya dia cocok di beri porsi latihan yang lebih untuk mengejar bola dan mengontrolnya dari hasil umpan pemain tengah ke bagian sayap kanan atau kiri serta latihan dribel dan crossing juga bisa di perbanyak (practice make perfect).
Akhirnya semua tergantung pelatih dalam menentukan ramuan taktik atau formasi yang akan di gunakan dalam setiap pertandingan.
Written by Suseno



permainan timnas adalah refleksi permainan klub di liga domestik, bagaimana kita melihat pemain melakukan tackling kasar, memukul pemain lawan, dan tindakan2 tidak sportif lainnya, yg ironisnya hal itu “sudah biasa” dilakukan pemain2 kita di liga domestik.
skil pemain & skema permainan itu relatif, semua memiliki kelemahan & kelebihan, tapi dalam pertandingan level internasional, MENTAL pemain menjadi yg utama. Ingat saat bulan lalu Skotlandia mengalahkan Prancis di kualifikasi Euro 2008? Atau saat Rusia mengalahkan Inggris?
timnas yg hebat hanya bisa terbentuk dari kompetisi yg “jelas” arah & tujuannya, bermutu, dan PROFESIONAL. timnas irak bisa menjuarai piala asia karena bermain di klub-klub negara-negara arab yg kompetisinya cukup baik, kalau sy ga salah ingat klub-klub arab selalu menempatkan wakilnya di final Liga Champion Asia.
coba kita lihat kembali kompetisi domestik kita?… bagaikan mengurai benang kusut yg semakin kusut, bagaikan lingkaran setan yg menjadi labirin tanpa pintu keluar, dan “setan”nya sendiri masih adem-ayem tinggal di dalam lingkaran tersebut, hehehe…
@ zoel :
100 % benar….lagi-lagi saya hanya bisa geleng-geleng kepala…seraya berdoa kepada Yang Maha Kuasa….saya ingin melihat Indonesia, masuk Piala Dunia, sebelum saya dijemput sakratul maut
@Andy:
Amiiiiiiiiinnnn!!!! saya juga ikut berdoa Indonesia tidak hanya ikut piala dunia tapi juga bisa jadi hostnya. Jangan sampai keduluan sama
“Malingsia” (hehe….peace!!)
[…] area sayap dan bahkan membantu pertahanan. Hal ini terbawa-bawa ke permainannya di timnas (Baca : Pendapat SUBJEKTIF, Timnas Indonesia VS Suriah). Akibatnya, Eka cenderung tidak fokus dan “nanggung”. Seandainya saja Eka difokuskan oleh […]