Arsene Wenger dan Tantangan Paruh Musim
Setelah memesona dari awal hingga pertengahan musim di semua kompetisi yang diikuti, Arsenal mendapat tekanan baru dengan isu kepindahan sejumlah pemainnya. Di antaranya adalah Jens Lehmann, Gilberto Silva, dan Thomas Rosicky. Isu ini akan rasanya akan terus menguat hingga jendela transfer pemain dibuka sampai Januari nanti. Akankah permainan indah ala Wenger terusik oleh perubahan dan transfer ini?
Arsene Wenger membuat senyawa permainan anak-anak mudanya benar-benar melekat sekaligus memikat untuk dilihat. Kerja sama antarlini terasa kokoh, dan masing-masing lini memiliki jangkar pemain sentral yang menjadi jembatan antara lini belakang, tengah, dan depan terasa tiada celah. Di belakang, Kolo Toure adalah sentral. Di tengah, Fabregas adalah “senior” dari sisi permainan sekalipun umurnya masih terbilang kemarin sore. Di depan, Adebayor dan van Persie adalah ujung tombak yang jauh lebih ganas ketimbang ketika masih ada Thierry Henry.
Namun akibat persenyawaan permainan semacam ini, dua pemain yang sebelumnya tak tergantikan –Jens Lehmann dan Gilberto Silva– mulai gelisah. Secara terang-terangan, Lehmann melancarkan serangan terbuka terhadap Wenger, sementara Gilberto memilih bersikap santai dan cuma menegaskan bahwa dirinya akan berjuang semaksimal mungkin untuk mendapat tempat di tim inti.
Dominasi anak-anak muda dalam permainan Arsenal kali ini mengingatkan orang akan Alex Fergusson ketika di tahun 1992 ia mulai menuai hasil manis. Setelah hampir lima tahun memimpin MU, Alex akhirnya merasakan buah dari kepercayaannya terhadap pemain muda, yang mendapat topangan dari jenderal hebat bernama Eric Cantona. Padahal, saat itu Alex dikritik oleh legenda Liverpool Alan Hansen yang menyatakan, “Anda tak akan meraih apapun dengan anak-anak ingusan.”
Wenger, ekonom yang paham betul psikologi sepakbola, rasanya tak akan terlalu terintimidasi dengan ulah Lehmann. Apalagi, ia adalah lelaki yang bisa menempatkan diri dalam relasinya dengan para pemain atau pelatih klub lawan. Ia tetap menjaga jarak dan terus mencoba bersikap netral terhadap komentar-komentar pedas yang dilancarkan Lehmann. Gilberto bereaksi tidak sepedas Lehmann, namun tetap menyatakan kegundahannya selalu duduk di bench pada partai-partai penting The Gunners.
Wenger sendiri menandaskan, November-Desember adalah masa paling krusial dalam perburuan gelar. Di musim ini, kompetisi atau turnamen sudah memasuki separuh langkah. Di musim ini pula, urusan kepindahan bisa menjadi blunder yang menghancurkan ambisi klub, atau sebaliknya menjadi berkah bagi klub yang mendapatkan pemain yang tepat.
Di rezim Wenger, transfer pemain yang dilakukan di pertengahan musim semacam ini jarang sekali menghasilkan pemain kunci yang dapat mengubah arah permainan tim. Semua pemain yang direkrut Wenger dan berbuah bagus selalu terjadi di awal musim.
Maka, kunci bagi Wenger saat ini adalah bagaimana mencegah keguncangan psikis para pemainnya akibat perpindahan pemain di musim transfer Januari nanti. Sekalipun untuk saat ini pasukan muda Arsenal rasanya sudah nyetel satu sama lain, kestabilan mereka menghadapi tekanan menjelang musim kompetisi berakhir belum benar-benar teruji. Ini yang selalu didengungkan Lehmann selama ini.
Kalau Wenger berhasil meredam gejolak psikis ini, rasanya, peluang Arsenal untuk merebut gelar liga akan tetap terjaga di tengah persaingan yang akan ketat berlangsung dengan Manchester United, dan mudah-mudahan Liverpool.
Foto: www.arsenal.com



