Dua Kepribadian MILAN
Masih ingat kisah Dr Jeckyl and Mr. Hyde? Tampaknya cerita yang diambil dari novel karangan Robert Louis Stevenson tsb dapat dijadikan sebuah analogi yang paling tepat untuk menggambarkan performa Milan di serie A musim ini.
Pada cerita tersebut sang tokoh utama mempunyai 2 kepribadian yang sangat bertolak belakang, di satu sisi seorang peneliti/ilmuan yang kalem dan cenderung pasif , dan di sisi lain seorang monster pembunuh yang sadis.
Begitu pula dengan Milan yang sedang tertatih-tatih di serie A musim ini. Performa Milan sampai dengan pertandingan Match day ke 12 dapat secara singkat dikategorikan menjadi 2 macam.
Milan versi dr. Jeckyl yaitu Milan yang bermain pasif dan seperti kehilangan inspirasi. Milan yang lupa bahwa beberapa bulan yang lalu mereka adalah “raja” di eropa. Milan yang walaupun didukung oleh squad terkuat mereka tidak mampu melayani permainan tim2 yang di atas kertas di berada di bawah level mereka. Anehnya, justru Milan versi Dr. Jeckyl ini sering sekali “keluar” saat mereka bermain di San Siro. Lihat saja hasil kandang mereka yang buruk, kalah 0-1 dari Empoli dan Roma, dan yang terahir hanya berhasil menahan seri Torino, seperti sebelumnya juga menahan seri Catania, Parma, dan Fiorentina.
Bagaimana dengan Milan versi Mr. Hyde?? Walau tidak dapat diprediksi kapan kedatangannya, Milan versi ini adalah Milan yang bermain dengan kepercayaan tinggi. Salah satu cirinya adalah passing-passing yang brillian serta gol yang datang dari segala penjuru lapangan, kapanpun dan dengan cara apapun yang mereka kehendaki. Yang membingungkan justru Mr Hyde “keluar” saat mereka bermain away.
Tanyakan saja pada “korban keganasan” mereka yakni sampdoria (5-1), Genoa (3-0), dan Lazio (5-1) yang ketiganya mereka hancurkan di kandang masing2 tanpa ampun.
Apa penjelasan logis dari hasil-hasil ini? Apakah karena kekurangan motivasi saat bermain di kandang sehingga San Siro yang angker sekarang seperti “rumah kedua” bagi tim tamu? Atau faktor umur squad Milan yang sekali lagi dijadikan kambing hitam? Lalu, apa yang menjelaskan “kebrutalan” permainan Milan di kandang lawan? Lalu, bagaimana cara Milan dapat mewujudkan konsistensi permainan untuk meraih back-2-back liga champions dan paling tidak meraih posisi 4 besar serie A?
Saya punya sebuah teori “absurd” untuk menjawab pertanyaan di atas. Masih ingat perjalanan Milan di musim lalu? Minus poin akibat calciopoli ditambah permainan buruk di liga champions berubah seketika di paruh musim ketika mereka membeli Ronaldo dari Real Madrid. Tanpa mengesampingkan kerja keras dan determinasi Milan, Ronaldo ( yang mempunyai tulang terbuat dari gelas ) tampaknya merupakan “jimat” yang membawa faktor keberuntungan sehingga musim lalu menjadi sebuah cerita yang berahir dengan happy ending.
Bagaimana dengan musim ini? Apakah Milan membutuhkan “jimat keberuntungan” baru? Dapatkah seorang pemain Brazil lainnya dengan inisial R yang merupakan eks pemain terbaik dunia dari klub liga spanyol menjadi seorang protagonist yang kembali membawa keberuntungan?
Pertanyaan tersebut dapat diikuti dengan pertanyaan lanjutan yakni “apakah 70 juta euro merupakan angka yang pantas untuk mendapatkan (hanya) seorang pemain?” ….tampaknya cuma Ronaldinho yang mampu menjawabnya.
Written by Harya Bimo
Source : www.bbc.co.uk (Photo)



[…] AC Milan tampak sangat percaya diri memulai pertandingan, menampilkan skuad “standardnya” dalam balutan formasi cemara 4-3-2-1. Nantinya, pola ini akan sangat efektif, terutama untuk menghadapi tim dengan teknik tinggi dan punya kecenderungan bermain terbuka serta menyerang. […]
[…] rekor kandang yang buruk, masih terus berlanjut di pentas Liga. Seperti pernah diulas dalam tulisan Dua Kepribadian Milan, bahwa tim merah hitam tampak tidak begitu sangar, dalam “menjamu” […]