Efek Bosman Terhadap Pengembangan Pemain Muda

Sebelumnya, Bung Andy N. Gultom pernah membahas efek Bosman pada persepakbolaan Eropa. Tapi tahukah anda bahwa efek Bosman malah berefek buruk bagi pengembangan pemain muda?

Setelah transfer Bosman, klub-klub Italia tidak berminat lagi untuk pengembangan pemain. Akibatnya, sekolah dan klub amatir yang memasok pelatih. Pemain yang bagus diundang berlatih di klub profesional.

293144_MEDIUMSQUARE

Tidak hanya klub-klub Italia, pasca era Bosman, banyak klub Eropa yang meninggalkan pengembangan pemain muda. Kenapa susah-susah mengembangkan pemain muda jika akhirnya mereka membela klub lain ketika berusia 18? Hal itu membuat UEFA memutuskan agar klub mengikutkan pemain lokal di skuad mereka. Tetapi, karena UEFA tidak memperbolehkan diskriminasi kebangsaan, klub-klub bisa mengabaikan peraturan tersebut. Itu lantas membuat banyak klub-klub besar mencari pemain-pemain muda dari negara lain.

Dan karena inilah, klub-klub Inggris menerapkan imperialis bola yang menggurita di seantero dunia. PSV Eindhoven menjadi klub penyuplai Chelsea. Arsenal memiliki klub Belgia Beveren. Sedangkan, Liverpool mulai mencengkeram Antiguoko.

***

Referensi:
Majalah Cetak FourFourTwo Indonesia Juli 2007

5 comments:

  1. seno, 13. November 2007, 11:33

    wah kayaknya kurang satu tuh mas karena yang saya tau sporting lisbon melakukan hal yang sama untuk MU

     
  2. zoel, 13. November 2007, 14:28

    masih banyak lagi kalau mau dirinci klub-klub besar dengan “klub afiliasi”nya yg menyumbang pemain bagi “parent club”, tidak hanya di inggris, juga di italia-spanyol-jerman-hingga belanda. bicara ttg efek Bosman tak lepas dari industrialisasi sepakbola. Mungkin saya termasuk yg tidak sependapat dgn Blater ttg rencana pembatasan pemain asing, sy lebih tertarik dgn komentar Arsene Wenger bahwa orang nonton tenis wimbledon karena ada Roger Federer, org nonton golf karena ada Tiger Woods, demikian pula org nonton bola, ingin melihat pemain2 top, tak peduli kewargangeraan mereka, karena olahraga (sepakbola) telah menembus batas negara (football without frontier)… seleksi u/ pemain2 muda juga lebih selektif, Fabio Quagliarella di timnas Italia mungkin bisa menjadi salah satu contoh…

     
  3. Adi Wirasta, 13. November 2007, 14:42

    @zoel:
    Mengenai komentar Wenger, saya punya pendapat sendiri: bahwa orang nonton tenis wimbledon karena ada Maria Sarapova, org nonton golf karena ada Natalie Gulbis dan Michele Wie, seksi-seksi euy…. (ngilerrrr…)

    Sisanya, saya juga setuju pendapat anda.

     
  4. zoel, 13. November 2007, 15:14

    @ adi :
    wah, sy sgt setuju dgn Band Adi, ga usah jauh2 dari bola, sy juga mengikuti piala dunia wanita 07 di Cina bbrpa wktu yg lalu, apalagi lihat aksi pemain bola seksi seperti Marie Knutsen (Norwegia), Nadine Angerer (Jerman) atau Maria Quinones (Argentina)…. wah… sepakbola emang udah bener2 “without frontier”…

    slm u/ BN, udah lama nih ga’ maen kesini, lagi menyibukkan diri, hehehe…. :)

     
  5. zoel, 13. November 2007, 15:33

    waduh…. sori salah ketik, “bang Adi” jadi “Band Adi”, hehehe…. udah ngantuk neh, udah waktunya pulaang, hehehe…. slm bwt bang Adi :)

     

Write a comment: