Kontroversi Perubahan Format Liga Champions
Michael Platini, bos UEFA yang baru menjabat seumur jagung terus berjuang dengan ide barunya mengubah format Liga Champions mulai musim kompetisi 2008-2009 mendatang. Ide dasarnya, memangkas jatah 4 klub di tiga liga teratas Eropa (Inggris, Spanyol, Italia) menjadi 3, dan memberikan jatah itu untuk para juara turnamen Liga untuk ikut bertarung di kompetisi Liga Champions.
Dengan komposisi ini, Liga Inggris misalnya, hanya berhak mengirimkan 3 wakilnya plus satu juara FA Cup. Spanyol dan Italia juga demikian, di mana juara Piala Liga Spanyol dan Piala Liga Italia akan menemani tiga peringkat teratas.
Ketika Platini pertama kali melontarkan ide ini, tiga pelatih top di Liga Inggris Sir Alex Fergusson, Arsene Wenger, dan Rafa Benitez langsung bereaksi dan menganggap ide ini norak dan merusak kompetisi yang sudah sangat ideal dengan format yang sekarang. Menurut mereka, tim terbaik di masing-masing negeri sudah terseleksi secara alamiah melalui kompetisi yang sangat ketat. Menghadirkan tim juara Piala Liga –yang kenyataannya sering menghadirkan tim-tim kejutan– hanya akan membuat kompetisi berlangsung timpang.
Namun, Platini yang ingin mendobrak kemapanan klub-klub kaya di Eropa dan memberi tempat pada klub-klub yang lebih kecil tetap ngotot dengan ide ini. Baginya, ide ini akan berefek pada pemerataan pendapatan dan kekayaan bagi klub-klub kecil, karena perputaran uang yang dihasilkan dari Liga Champions sekarang ini memang sangat menggiurkan.
Gagasan ini dilandasi pula oleh keinginan Platini untuk merombak “filosofi” sepakbola modern yang menurutnya sudah diperbudak oleh uang. Ia mengatakan, “Uang memang penting dalam sepakbola modern seperti sekarang ini, tapi saya tak ingin uang menjadi tuan atas sepakbola.”
Secara filosofis, ide ini memang patut disambut. Setidaknya, kapitalisasi uang yang menumpuk pada klub-klub besar akan bergeser, sekalipun mereka juga tidak dirugikan sama sekali dengan sistem ini. Menurut Platini, alangkah baiknya bila gagasan yang diusulkannya dijalankan selama tiga tahun kompetisi, untuk kemudian dievaluasi lagi. “Kalau gak cocok, ya tinggal balik aja lagi ke sistem yang sekarang. Tapi harus dijajal,” kata mantan kapten timnas Perancis ini.
Dengan kekayaan dan kekuatan finansial yang dimiliki, klub-klub besar Eropa seperti Manchester United, Real Madrid, AC Milan, Liverpool, Arsenal, Barcelona, kini berlomba-lomba untuk mendatangkan para pemain berbakat berusia muda masuk ke akademi mereka sebagai pelapis tim senior. Gagasan ini ditentang oleh Platini karena membuat pembinaan anak-anak muda di klub-klub lain menjadi timpang, karena kekuatan-kekuatan potensial itu kemudian menumpuk pada beberapa gelintir klub besar. Seandainya tim-tim ini diperbolehkan menurunkan dua tim dalam suatu kompetisi, boleh jadi mereka masih dapat berbicara banyak karena memiliki stok pemain berbakat yang melimpah.
Gagasan baru selalu menuai kontroversi. Tetapi gagasan baru juga perlu disemai untuk membuktikan kesahihan dan kesempurnaannya. Dan dalam hal ini, menurut saya tetap lebih baik mencoba merealisasikan ide baru ini.
Foto:
www.expressen.se dan www.uefa.com



Kalau gak salah belom lama ini anggota klub2 besar G-14 berkumpul sekaligus mengundang klub2 lain jangan2 utk “menggalang kekuatan” melawan proposal platini. Malah ada juga rumor mereka akan merencanakan “Euro League” dimana para klub besar meninggalkan liga mereka masing2 untuk bergabung pada sebuah liga eropa raksasa. (kayanya cuma mimpi isapan jempol)
Saya pribadi setuju sama Platini……HIDUP REFORMASI!!!! (lho???)
Saya juga mendukung Platini Bro Harya. Menurutku, segala sesuatu yang membawa suasana kesegaran baru perlu didukung, perlu dijajal. Di situlah letak kebesaran sebuah klub diuji…
setuju dengan Mr Platini,hehehe…
sy setuju dgn ide Platini.. klub-klub “marjinal” jadi lbh termotivasi u/ mengejar juara kompetisi piala domestik…. coba bygkan bila musim ini Watford bisa menjuarai piala FA, musim depan bakal ada partai liga Champion di Valley Parade antara Millwall vs Real Madrid, wow…..
tapi prediksi sy, pada akhirnya kualitas dan “uang”lah yg bicara…. hehehe
@ Zoel:
Setuju! Menurut saya musuh terbesar sepakbola saat ini justru komersialisasi (berlebihan) dari sepakbola itu sendiri.
[…] “aksi-aksinya” untuk menerapkan Liberte-Egalite-Fraternite ke dalam peraturan sepakbola. Kontroversi Perubahan format Liga Champion, merupakan usulan jenius anti kemapanan klub besar, yang membuat Platini, layak diganjar sebagai […]