Pengakuan pelaku penembakan suporter Lazio

kerusuhan-italia.jpg…” Saya melepaskan tembakan ke udara, mencoba untuk menenangkan situasi. Saya tak berniat mengarahkannya kepada siapapun. Bagaimana bisa ? Karena saya berdiri dari jarak sedikitnya 200 meter.

Saya melepaskan tembakan pertama ke udara. Tembakan kedua meletus secara tak sengaja ketika saya sedang berlari. Kenapa saya tak memasukkan pistol kembali ke sarungya, setelah tembakan pertama ? Karena kami terbiasa mengejar perampok atau gembong nakoba, yang membuat senjata itu harus tetap di tangan.

Kini, semua sudah terjadi. Saya tahu, saya akan berantakan setelah apa yang terjadi. Saya telah menghancurkan dua keluarga. Keluarga anak muda itu dan keluarga saya sendiri….”

Kutipan kata-kata tersebut terucap oleh Luigi S, opsir polisi pelaku penembakan terhadap Gabriele Sandri, yang dimuat oleh harian TopSkor.

Gabriele Sandri, adalah suporter Lazio yang tewas dalam kerusuhan suporter, sesaat sebelum partai Inter melawan Lazio, yang akhirnya ditunda.

Kejadiannya boleh dibilang sangat tidak terduga. Sandri yang berada di dalam mobil, dihampiri oleh keramaian suporter, yang sedang dicoba dihalau oleh polisi.

Sepertinya beliau berada dalam situasi wrong man at the wrong place and at a wrong time. Sandri tewas setelah terkena peluru nyasar. Kejadian ini cukup mengundang polemik di Italia. Para suporter sepakbola di sana, memanfaatkan momen ini untuk “menyerang” penegak keamanan di sana, yang bertindak bagai koboi liar.

Namun, pengakuan yang “tulus” oleh sang pelaku, Luigi S, diharapkan dapat memberikan pencerahan atas penyelesaian kasus ini. Luigi, boleh jadi sangat menyesal, dan akan melalui proses hukum atas tindakan yang (mungkin) tidak sengaja dilakukannya.

Kisah ini adalah bagian dari risiko pekerjaannya. Dan percayalah, tidak ada seorang polisi pun, yang mau berada di dalam posisi Luigi, pada saat ini.

Kita semua memang hanya menjadi “penonton” dan penyimak dari kejadian ini. Seraya berharap, hukum di Italia dapat bertindak adil dan sebenar-benarnya dalam membuat keputusan atas kasus tersebut.

Sedikit banyak, kita semua harus menghargai setiap kalimat yang tersusun dari pengakuan ksatria Luigi, sang polisi, atas semua kesalahan yang telah diperbuat.

Nasi telah menjadi bubur, semoga kejadian ini menjadi tonggak baru dan pelajaran untuk kita semua, untuk lebih bisa mengendalikan emosi.

Alangkah nikmatnya menikmati sepakbola dengan cara-cara yang baik dan benar. Karena sungguh, world without violence adalah kenikmatan tiada tara.

Selamat jalan, Gabriele Sandri…

Source : Harian TopSkor, www.theoffside.com (Photo)

3 comments:

  1. Harya Bimo, 14. November 2007, 6:20

    “f*ck the police that’s how I treat ‘em,
    We buy way out of jail but we can’t buy freedom” (Nas, One Mic)

     
  2. keane, 14. November 2007, 9:25

    Siapapun tidak ada yang mau dalam posisi Grabiele & Luigi, tapi sering kali ada istilah peluru nyasar pada tiap kali kerusuhan ataupun pada saat polisi melakukan “pengamanan” entah dinegara manapun, apakah itu harus akan selalu berulang?? Pelaku kerusuhan, kejahatan dan polisi sama2 menakutkan….hehehe

     
  3. Anonymous (Trackback), 24. March 2008, 10:47
     

    dirty latina maids sasha…

    dirty latina maids sasha…

     

Write a comment: