How to make a (better) Football Competition in Indonesia (bagian 5)

anak-main-bola.jpg

Bagian 4 (klik di sini)

Inggris menjadi role model untuk filosofi sepakbola sebagai industry, amerika latin tetap pada hakekatnya bahwa sepakbola ada seni permainan yang indah. Asia berada dalam tahap metamorphosis bagi sebagian Negara-negara di kawasan ini, termasuk Indonesia di dalamnya.

Hingga saat ini tahun 2007 Indonesia dengan PSSI-nya tetap berada dalam tahap filosofi sepakbola sebagai alat perjuangan. Namun makna yang terkandung ‘sebagai alat perjuangan’ ini yang kadang sumir terdengar bagi masyarakat awam. Jika berbicara tentang kemerdekaan, maka kondisinya sudah tidak relevan, secara de facto Indonesia telah merdeka pada tahun 1945. Isu bahwa sepakbola sebagai alat pemersatu menjadi tidak maksimal lagi, bahkan cenderung tumpul.

Memang benar dalam beberapa fenomena ruang dan waktu di beberapa belahan dunia termasuk Indonesia, sepakbola dapat mempersatukan rakyat, mempersatukan penguasa dan rakyatnya. Menghilangkan perbedaan kelas social dan rasial. Namun dengan sedikitnya lapangan sepakbola di Negara ini, siapakah yang dapat bermain di lapangan bola dengan standar kualitas yang memang layak guna dan layak pakai?

Sudah tentu jawabannya adalah yang sanggup membayar uang sewa lapangan. Yang tidak mampu alias si kaum proletar hanya dapat bermain di lapangan yang ala kadarnya, bahkan tanpa rumput. Ada juga yang mengatakan bahwa lapangan di Indonesia multi fungsi, musim kemarau menjadi lapangan bola, musim hujan menjadi tambak ikan, karena penuh dengan genangan air.

Visi ‘alat perjuangan’ masih tetap disuarakan oleh PSSI sebagai visi bersama yang layak diusung hingga saat ini. Fenomena ini semakin kental bernuansa kedaerahan dengan tersebarnya klub-klub sepakbola di seluruh nusantara Indonesia. Bentuk klub perserikatan yang diadopsi di Indonesia menyebabkan hampir seluruh klub sepakbola di Indonesia ‘diasuh’ oleh Pemda/Pemkot/Pemkab setempat. Metode anak asuh berfungsi untuk menopang pembiayaan dan pembinaan klub sepakbola.

Kondisi ini berefek kepada kepada manajemen klub, dimana hampir seluruh klub yang berada dalam naungan Pemda/Pemkot/Pemkab dipimpin oleh kepala daerahnya sendiri. Secara financial keberadaan klub ini didukung nyaris 100% oleh APBD setempat.

Dalam waktu berjalan, keberadaan dan kebutuhan klub menjadi semakin nyata. Terutama dalam kompetisi sepakbola nasional, dimana terjadi gengsi kedaerahan yang dipimpin oleh masing-masing kepala daerah. Tentunya sebagai pimpinan daerah merangkap pimpinan klub mempunyai tanggung jawab untuk dapat menghantarkan prestasi terbaik bagi instittusi yang dipimpinnya, dalam hal ini klub sepakbola.

Bagi insan politik/pemerintahan mengeluarkan sejumlah materi untuk dapat memperoleh prestasi dan gengsi adalah wajar. Milyaran rupiah yang digelontorkan tidak menjadi masalah untuk membangun sebuah tim yang powerfull untuk dapat menuju tangga juara. Namun pengeluaran yang besar itu tidak berjalan lurus dengan prestasi di kancah internasional, bahkan keuntungan langsung bagi klub sebagai entitas pelaku kompetisi tidaklah terlalu dirasakan.

Idealnya tim juara akan mendapatkan sejumlah advantage di kemudian hari apabila timnya meraih prestasi, entah itu berkembangnya jumlah supporter, keuntungan dari pemasukan tiket pertandingan home, penjualan merchandise, pemasukan sponsor, dll. Namun fenomena ini tidaklah terjadi di Indonesia.

Memang jumlah supporter setiap tahun meningkat, dan jumlah penggemar sepakbola semakin gandrung dari hari ke hari. Namun hasil keuntungan dari pemasukan tiket pertandingan home tidaklah terjadi. Pemerintah bukannya mencoba untuk menjadikan klub sebagai entitas mandiri namun malah memanjakan klub dengan menggelontorkan dana yang un-limited.

Motifnya tentu untuk menyenangkan rakyat daerahnya, dengan menonton pertandingan sepakbola dengan dana yang sedikit, dengan kemungkinan klubnya menjadi juara akan menambah eforia, kesenangan serta kepercayaan rakyat kepada pimpinan daerahnya.

Maka tak heran, jika sepakbola digunakan sebagai sebuah alat kepentingan bagi kepala daerah yang notabene klub sebagai kendaraan politiknya untuk dapat menyenangkan rakyatnya melalui hiburan rakyat yaitu sepakbola. Semata-mata untuk kepentingan politis ke depannya yaitu Pemilu atau Pilkada.

Source : www.mapasadha.org (Photo)

Written by Izumi Mutsu

5 comments:

  1. fulong, 16. November 2007, 13:53

    iya ya kenapa sepakbola kita makin lama makin menurun, padahal kalau dilihat dari prestasi tim yunior (bukan timnas) seperti U-16 indonesia masih bisa bersaing dengan negara2 lain, tapi kenapa kok Timnas kita malah ambruk??

    Apa yang salah dengan pembinaan sepakbola di negara kita? ataukah pembinaan di klubnya ya yang salah? atau dengan makin maraknya pemain asing di kompetisi kita itu juga ikut andil dalam macetnya pembinaan sepakbola kita? bagaimana menurut bung andy?

     
  2. seno, 16. November 2007, 16:45

    @fulong :
    kayaknya pemain asing yg main di liga kita juga dikit yg mainnya bagus jadi aku rasa faktor pemain asing bisa di bilang ga terlalu berpengaruh karena banyak pemain kita yg mainnya jauh lebih bagus dari pada pemain asing

     
  3. zoel, 16. November 2007, 22:43

    dari dulu sy sudah agak antipati dgn klub2 “plat merah” yg (maaf) mengemis dana ke APBD, hal itu membuat klub-klub di daerah “dipaksa” untuk menjadi klub profesional tapi tidak mau berusaha mandiri… banyak faktor memang yg menjadikan klub-klub kita menyusu pada pemkot/pemkab bahkan pemda, bayangkan bila uang 20 M u/ mendanai klub digunakan u/ memperbaiki fasilitas umum, membuat lapangan pekerjaan, investasi, kesehatan, atau apalah yg “lebih berguna” bagi masyarakat itu sendiri, toh uang itu jg berasal dari rakyat… bukankah potensi “nama” PERSIJA, PERSIB, PSIS, PERSIK, hingga PSM sangat besar dari sisi bisnis? Kalau AREMA bisa, kenapa yg lain tidak? Biarlah sepakbola tetap sebagai sepakbola, dulu di eropa jg tidak pernah dikenal atau terbayang yg namanya “industri sepakbola”….

    memang sih kita lebih senang bermimpi, berkhayal, sedikit berusaha, dan enggan memulai sesuatu yg baik…. hmm….

    atau kita mau memulainya sekarang?

     
  4. Harya Bimo, 17. November 2007, 8:17

    Menurut saya yng HARUS didatangkan bukan pemain asing melainkan management dan administrator asing dari liga di eropa untuk “MENGGUSUR” para pejabat PSSI dan pihak managemen klub yang tidak pro. Memang menurut saya kemampuan orang indonesia agak kurang di bidang managemen olahraga (baik klub maupun liga). Mgkn karena dulu dijajah Belanda bukan Inggris.

    Buat posisi Ketua PSSI menggantikan “Bang Napi” saya ingin menominasikan figur yang muda, dinamis, berpengalaman, dan (tetep) pengusaha yg sukses. Mgkn figur semacam Erick Tohir (Satria Muda, Perbasi, MAHAKA Group, Jak TV, dll) atau yg lainnya (umur max 40 thn). Udah saatnya sepakbola ditangani oleh yang muda.

    Kayanya menarik kalo dibikin artikel mengenai calon pengganti bang napi????

     
  5. Japblog, 13. December 2007, 10:05

    Menurut saya ada beberapa hal yang perlu dilakukan cepat. Pertama, merubah status klub agar profesional. Kedua, menerapkan salary cap agar hemat. Sekarang gaji pemain terlalu tinggi karena banyak mafianya. Ketiga, rekruitmen pemain muda. keempat, sponsor bebas. Kelima, security outsourcing. Keenam, kerja sama dengan TV lokal untuk siaran tunda. Ketujuh, kerja sama dengan Pemda untuk sewa gratis

     

Write a comment: