Kritikus dan Arsitektur Sepakbola Rafa Benitez

benitezdm250507_468×435.jpgLiverpool sering dikritik sebagai sebuah bangunan rumah yang tak pernah selesai dibangun. Selalu bongkar pasang tak pernah usai. Ruang utama yang tadinya dianggap ideal, terpaksa dirombak ulang. Belum selesai ruang utama dirombak, teras yang sudah kelihatan manis dan kokoh harus diubah karena dianggap tak sesuai gaya yang berkembang. Begitulah para pengkritik tim ini menuding. Tak hanya mereka, sebagian fans juga menganggap rancangan ideal itu tak pernah usai. Juga di tangan Rafa Benitez, arsitek saat ini.

Orang lalu membandingkan Liverpool dengan Manchester United, Arsenal, atau Chelsea. Namun para pengkritik ini seharusnya mendapat gambaran utuh tentang perbandingan antara MU atau Arsenal dengan Liverpool. Sir Alex Fergusson menukangi MU sejak musim 1986/1987 dan baru meraih gelar Liga Inggris setelah tahun keenamnya 1992/1993. Arsene Wenger sedikit berbeda. Masuk ke Highbury di tahun 1996, pelatih berhidung bangir ini menuai sukses meraih gelar Liga Inggris di tahun keduanya, namun baru meraihnya lagi empat tahun kemudian. Selama itu pula Wenger dan Arsenal menjadi bayang-bayang MU, bahkan hingga sekarang. Pelatih pertama non Britania Raya dalam sejarah Arsenal ini memang telah menjadi pelatih tersukses juga dalam sejarah Arsenal, tetapi kebesarannya di Liga Inggris masih tertutupi oleh Sir Alex Fergusson.

Masih menurut para pengkritiknya, Jose Mourinho dianggap justru lebih sukses dibandingkan para pelatih manapun Liverpool di era Premiership. Di tahun pertamanya menukangi Chelsea ia menghadirkan gelar yang didambakan fans dalam 50 tahun terakhir. Namun, para pengkritik ini lupa bahwa Jose datang di Stamford Bridge dengan bekal tak kurang dari 200 juta pound dari kantong sang juragan, Roman Abramovich. Tak bisa dipungkiri, Jose memang memberi warna kuat dalam membentuk motivasi para pemainnya dalam berburu kemenangan dan gelar, terutama di musim pertama dan keduanya. Hanya sifat angkuhnya kadang menelikung kecerdasan pria Portugal ini di mata orang.

Kembali ke Liverpool, banyak orang menilai Rafael Benitez adalah arsitek yang seharusnya dapat menyelesaikan bangunan rumah ideal yang dicita-citakan fans sejak puluhan tahun. Ibarat membangun rumah, di tahun pertama 2004/2005 Rafa memang mewarisi material yang pas-pasan dari arsitek sebelumnya, Gerrard Houllier. Sudah begitu, material ini banyak yang cacat (baca: cedera), atau tak sesuai peruntukan yang dikehendaki sang arsitek.

Namun, Rafa tetap mampu membawa pulang gelar Liga Champions di tahun pertamanya. Sesuatu yang bahkan tak bisa dilakukan Wenger sampai sekarang atau Mourinho sampai dia hengkang. Selama kurun waktu itu pula, Rafa sebenarnya juga memiliki keterbatasan dalam hal belanja pemain, setidaknya dibandingkan Sir Alex dan Jose Mourinho.

Ketika investor Amerika masuk, Rafa memiliki sedikit keleluasaan belanja bahan, meskipun tetap saja tidak sebesar belanja yang dikeluarkan Sir Alex. Namun dengan modal itu, Rafa terus mendengung-dengungkan perbaikan timnya dari waktu ke waktu. Perlu diketahui, sejak Rafa mengarsiteki The Reds, ia mencatat persentase kemenangan terbaik kedua setelah era Kenny Dalglish di penghujung tahun 80-an. Sesuatu yang bahkan tidak dapat dilakukan pelatih legendaries The Reds seperti Bill Shankly atau Bob Paisley.

Namun, para pengkritiknya terus merangsek. Dengan anggaran belanja pemain yang terus meningkat, mengapa Rafa tak juga menuai gelar Liga Inggris? Dengan duit lebih dari 40 juta pound dihabiskan untuk belanja musim ini, mengapa Liverpool kelihatan tetap menderita penyakit lamanya yakni inkonsistensi?

Saya punya pandangan, kebelumberhasilan Rafa menuntaskan dahaga gelar Liga sedikit banyak dipengaruhi oleh proses penataan material (baca: pemain) yang ia kumpulkan satu per satu. Dari sisi ini, ia terus mencoba mencari yang terbaik, sembari menyesuaikan dengan kondisi dan tuntutan klub. Craig Bellamy adalah salah satu contoh nyata bagaimana Rafa mencoba-coba menemukan material di pasaran yang pas sesuai anggaran di kantong, meski kemudian pemain ini dianggap kurang memenuhi standar Rafa.

Contoh yang berbeda, Fernando Torres adalah upaya Rafa menemukan yang bahan berkualitas KW 1 alias terbaik, sekalipun ketika dibeli dengan harga mahal masih mengundang pertanyaan dan keraguan. Dalam perjalanannya yang masih terbilang singkat, Torres ternyata adalah material terbaik yang juga pas dengan karakteristik rancangan “bangunan” yang dimaui dan hendak dibangun Rafa. Pemain lain di pasaran yang dianggapnya terbaik dan pas untuk ciri kearsitekannya adalah Ricardo Quaresma dan Simao Sabrosa. Namun hingga kini, keduanya masih beredar di luar. Rafa sebenarnya memiliki pilihan yang relatif setara dalam diri Jermaine Pennant. Bila pun terdapat perbedaan, waktulah yang rasanya akan membuat level pemain ini meningkat.

Dugaan saya, pertengahan musim dan akhir musim nanti Rafa akan melakukan sebuah pembelian sekelas Torres (bukan dalam hal budget melainkan dalam hal keserasian dan kecepatan adaptasi) untuk lini belakang dan sayap. Seorang bek tengah yang akan melapis Carragher, dan seorang pemain sayap yang berkualitas KW 1. Dengan skenario ini, adalah sangat mungkin bila salah seorang pemain sayap yang ada saat ini (saya tak punya pandangan siapa) akan dilepas.

Untuk menutupi anggaran yang tentu besar guna mendatangkan material KW 1 di sayap dan tengah, sangat mungkin pula Rafa akan berhitung untuk melepas salah satu penyerangnya dan menukar dengan penyerang lain yang harganya bukan KW 1 tetapi bisa menyetel dengan tipe permainan yang diingini Rafa. Bisa jadi, striker yang bebas transfer akan menjadi salah satu opsi. Namun, dengan skenario ini Rafa sesungguhnya memerlukan rincian anggaran biaya (RAB) yang lebih detail dan perhitungan yang sangat matang.

Karakter dasar permainan Rafa sesungguhnya adalah variasi permainan dan variasi serangan. Selama ini pendukung dibuat gemas dengan rotasi yang dijalankan Rafa. Dan sorotan melulu terarah pada kebijakan rotasi ini. Namun Rafa seolah mengabaikan kritik-kritik ini, sekaligus tak mengungkapkan secara eksplisit mengapa ia bertahan pada pilihan rotasi.

Bila dibaca tersirat dari kumpulan pemain yang dijadikan pilar oleh Rafa dan pemain yang harus berjuang mendapat tempat utama di tim, Rafa sesungguhnya lebih memilih variasi cara penyerangan daripada sekadar rotasi sebagaimana yang dikritik banyak orang. Ini bisa dilihat dari tipe striker yang sekarang dimilikinya. Pada Torres, sebagaimana diungkapkannya sendiri atas pemain ini, Rafa memerlukan tipikal penyerang yang mampu menusuk dari luar kotak penalti. Pada Voronin, Rafa mengharapkan penempatan bola/placing dan penempatan ruang yang jeli. Pada Kuyt, Rafa mendambakan sebuah kerja keras tak kenal lelah yang bisa memberi ruang bagi tandemnya di depan. Sementara Crouch diharapkan Rafa memberi pilihan ketika menyerang dengan memanfaatkan lebar lapangan dan tusukan sayap dan atau umpan lambung.

Karakter ini adalah dasar dari filosofi permainan yang diinginkan Rafa, yang tentu saja sangat tergantung dengan kondisi lapangan dan lawan yang dihadapi. Maka, memahami Liverpool sekarang haruslah memahami pola variasi berdasarkan striker yang diturunkan (tentu saja juga memperhitungkan kebugaran sebagaimana selalu disampaikan Rafa).

Secara permainan, Rafa memiliki dua kombinasi atau variasi yakni (1) umpan pendek dan mengalir (yang secara kualitas masih berada di bawah Arsenal sekarang) dan (2) umpan jauh ala Inggris 80-an. Tipe permainan pertama menggunakan pilar Finnan, Arbeloa, Gerrard, Mascherano, dan Pennant. Sayang sekali Rafa belum banyak member tempat pada Benayoun sehingga kecerdasan pemain ini dalam membuka celah sempit di pertahanan lawan belum optimum. Sedangkan tipe kedua mengandalkan terutama Alonso dan Gerrard. Memang pemain lain juga memiliki kemampuan passing jauh yang menawan, tetapi dua pemain ini mampu menempatkan bola panjang pada area yang dimengerti oleh pemain lain secara maksimal.

Tipikal karakter Rafa yang menginginkan variasi serangan dari variasi striker yang dimiliki berbeda dengan karakter Sir Alex atau Arsene Wenger atau Mourinho. Sir Alex jelas menggunakan tipe permainan cepat dan menusuk, sekaligus serangan balik yang menakutkan. Pola ini sudah diidealkan Sir Alex sejak jaman ia masih memiliki Andrey Kanchelskis hingga sekarang dengan Cristiano Ronaldo. Tipe striker yang diidealkan Sir Alex bahkan sulit untuk dipolakan seperti yang diidealkan Rafa, tetapi memiliki keutamaan dalam hal timing dan posisi ketika harus menyepak bola ke gawang lawan.

Sementara Arsene Wenger, sejak awal sudah mengidealkan sebuah permainan yang mengalir pendek-pendek dan cepat, dengan tusukan dan operan tak terduga lawan sebagai pamungkasnya. Tentu saja, Wenger pernah memilikinya ketika di tahun 2003-2004 selama semusim penuh Arsenal tak bisa dipecundangi siapapun di Liga domestik. Saat ini, Wenger masih setia dengan pola ini dan mengandalkan pada pemain-pemain mudanya guna mengejawantahkan sebuah permainan cantik tetapi mematikan.

Sir Alex dan Wenger sudah mulai mendekati permainan yang mereka masing-masing idealkan, tetapi memerlukan batu uji yang sesungguhnya untuk menunjukkan sejauh mana idealisasi ini mendapat bukti di lapangan rumput dan lemari kabinet untuk menampung gelar. Rafa Benitez mula-mula berada pada track yang relatif sama, tetapi kemudian dilanda problem cedera pemain dan penyakit kepercayaan diri selama beberapa pekan, sehingga harus menjalani masa-masa yang lebih sulit dibandingkan Sir Alex dan Wenger. Kini, batu uji itu sudah tersedia baik di Liga Champions ataupun di Liga Primer buat keduanya. Sedangkan Rafa masih harus mendaki bukit terjal untuk bisa mendapatkan batu uji yang lebih berat, terutama nanti di pekan-pekan awal Desember dan menjelang Natal.

Repotnya, bila Sir Alex dan Wenger tidak disibukkan dengan isu dan gossip seputar diri mereka sendiri, kini Rafa digoyang isu kepindahannya ke Bayern Muenchen. Dengan kontrak yang masih dua musim di depan, Rafa memang menjadi incaran banyak klub besar mengingat reputasinya di Valencia dan Liverpool, juga karena kepintarannya sebagai arsitek lapangan hijau.

Nah, mampukah Rafa menyelesaikan bangunan rumah ideal yang didambakan Liverpool, ataukah ia akan tergoda untuk mengarsiteki bangunan besar lain yang memerlukan sentuhan pikiran dan pengalamannya?

Foto: www.dailymail.co.uk

8 comments:

  1. Andy N. Gultom, 19. November 2007, 6:43

    @ Aloysius :
    depth analysis….sounds interesting for any football fans :)

     
  2. yaperkasa, 19. November 2007, 10:06

    buset… makin tokcer aje nih, bro alois kalo ngomongin liverpool.. alamak, sampe bingung gw mau komen apaan…

    keep on the track bro…

    YNWA

     
  3. Adi Wirasta, 19. November 2007, 11:34

    “Contoh yang berbeda, Fernando Torres adalah upaya Rafa menemukan yang bahan berkualitas KW 1 alias terbaik, sekalipun ketika dibeli dengan harga mahal masih mengundang pertanyaan dan keraguan.”

    >> KW 1 ? Hehe… emangnya keramik… ^_^v

    btw, issue nya Om Rafa mau ke Bayern?

     
  4. yaperkasa, 19. November 2007, 13:00

    @ adi

    [OOT]

    kalo torres aja KW1, trus siapa yah yang pantes dikasih label “original”…

    lo kira jersey ape… wakakakaaka…..

    :kabur:

     
  5. wisnuhardana, 19. November 2007, 14:38

    Thanks for comments. Ini nulis panjang karena sebenarnya gak rela Rafa “bahkan baru sekadar digosipin” untuk melatih Bayern Muenchen…

    Salam hangat selalu…

     
  6. yaperkasa, 20. November 2007, 11:22

    weh, baru gosip aja, lo dah curhat segini panjanganya…

    apalagi kalo pindah beneran :amitamitmogamogagakejadian: lo nulis buku kali yah bro… wehehehehehe….

     
  7. jojo, 20. November 2007, 14:00

    udahlah, pokoknya we won the throphy on May…

    lakon menang keri..

     
  8. Artikel terbaru per 21 Nov 2007 « SepakBola At It Best (Pingback), 21. November 2007, 12:27
     

    […] Kritikus dan Arsitektur Sepakbola Rafa Benitez […]

     

Write a comment: