Kuartet Teletubbies “Warna baru Timnas Indonesia” (Bagian I)

trio-teletubbies.jpgTinky-Winky, Dipsy, Lala, Po….

Kita pasti pernah mendengar theme song dari serial anak-anak Teletubbies, yang pernah ngetop sekitar 3-4 tahun lalu.

Film ini, sungguh fenomenal, di tengah gencaran sinetron dan “miskinnya” serial untuk pendidikan anak, Teletubbies melejit menjadi favorit orang tua dan anak.

Jadi pantas saja, jika Ivan Kolev “menconteknya”. Dalam pandangannya, “Teletubbies Indonesia” akan menjadi penawar dahaga, bagi “miskinnya” prestasi sepakbola nasional.

Teletubbies Indonesia beranggotakan Eka Ramdani, Firman Utina, Syamsul Chaeruddin dan Ponaryo Astaman.

Kenapa sih harus Teletubbies julukannya ? Yah, karena tinggi badan. Tinggi badan 3 personil pertama hanya 165 cm, hanya Ponaryo, yang punya tinggi di atas 170 cm. Mirip-mirip dengan Teletubbies yang kecil mungil ngegemesin…..

Eka Ramdani, produk asli binaan Persib Bandung, adalah nama baru yang digadang-gadang sebagai calon bintang Indonesia. Cobalah menonton Persib jika bermain, peranan Eka sudah “keterlaluan”. Terlalu mendominasi, sehingga Persib benar-benar tergantung olehnya. Meskipun masih muda (23 tahun), Eka merupakan urat nadi kemenangan Persib.

Di klubnya, Eka punya area jelajah yang tinggi. Meskipun diplot sebagai gelandang serang, tidak jarang si cebol (panggilan Eka Ramdani) ini “berimprovisasi” ke area sayap dan bahkan membantu pertahanan. Hal ini terbawa-bawa ke permainannya di timnas (Baca : Pendapat SUBJEKTIF, Timnas Indonesia VS Suriah). Akibatnya, Eka cenderung tidak fokus dan “nanggung”. Seandainya saja Eka difokuskan oleh Kolev, untuk bergerak naik turun saja, niscaya serangan tim merah putih lebih menggigit.

Memang menjadi dilema tersendiri bagi Eka, karena Kolev senang bermain dengan 4-3-3, akibatnya Eka dituntut untuk sesekali menusuk dari sayap, padahal dia terbiasa bermain di tengah dalam patron 3-5-2 di Persib. Di timnas sendiri, Eka lebih sering dipasang di gelandang kiri atau kanan, karena posisi gelandang tengah ditempati Teletubbies nomor 2, Firman Utina.

Akibatnya, Eka jadi serba salah. Dia juga harus pintar-pintar mengatur stamina dan posisi, agar tidak berbenturan tanggung jawab dengan Firman. Eka sebenarnya punya permainan mirip-mirip dengan Firman, bahkan passing Eka jauh lebih akurat dibandingkan Firman. Sayangnya Eka tidak seproduktif Firman, dan juga punya kelemahan dalam crossing.

Teletubbies nomor 2 adalah Firman Utina
. Di usia seperempat abad, Firman boleh dibilang bintangnya timnas Indonesia. Berangkat dari pemain “tarkam”. Firman ditemukan Benny Dolo, dan dipoles menjadi gelandang serang paten. Sebenarnya boleh dibilang, Firman bukan gelandang serang, melainkan penyerang lubang.

Ada sedikit perbedaan, karena gelandang serang lebih sebagai kreator serangan, sedangkan Firman lebih sering mengambil inisiatif menyerang dan menuntaskannya sendiri menjadi gol.

Coming from behind, adalah tipikal khas Firman. Sprintnya dalam area 30-50 meter sangat luar biasa. Masih ingat gol Indonesia melawan Bahrain, di Piala Asia 2007 ?

Tempaan keras karena faktor alam dan kondisi masa kecilnya, membuat Firman menjelma menjadi pemain yang tak kenal takut dan gampang menyerah. Firman menjadi pemain yang tidak takut beradu badan dengan pemain lawan yang tinggi besar.

Aset utama seorang Firman Utina adalah finishingnya. Kedua kaki Firman sama-sama hidup dan kerap mencetak gol, entah dari jarak dekat ataupun tembakan jarak jauh. Kelemahannya ? Stamina dan terkadang sedikit individualis.

Soal individualis, sebenarnya masih “abu-abu”, karena sebenarnya tim kita sangat bergantung pada aksi-aksi lapangannya. Namun, terkadang dalam kondisi masih imbang atau sudah leading, Firman harus bermain secara tim, untuk merapikan organisasi timnas.

Firman dan Eka, telah membuktikan diri, bahwa “Size doesn’t matter…” . Bagaimana dengan 2 teletubbies lainnya ? Syamsul dan Ponaryo ?

Tunggu saja tanggal mainnya, only at BOLANOVA.com !!!

Source : Wikipedia.org, www.football-uniform.seesaa.net (Photo)

4 comments:

  1. seno, 27. November 2007, 16:40

    emang kayak salah satu “kekurangan” pemain indonesia yang memiliki skill aga bagus adalah selalu terlalu memaksa untuk mendribel bola ketimbang melakukan passing, mereka kebanyakan melakukan passing setelah betul2 terdesak dan akibatnya passingnya tidak akurat dan gampang di potong oleh para pemain lawan…..

     
  2. Andy N. Gultom, 28. November 2007, 7:43

    @ seno :
    kayanya terlalu bersemangat, sekaligus gugup….org klo gugup, cenderung lari-lari tanpa orientasi…..boro-boro mau passing akurat, bisa nerima umpan dari temen aja, sering out of position ko…

    makanya mending main tenang dulu, jadi badan sudah siap menerima tekanan yg leih besar, dan jd enak deh mainnya

     
  3.  

    […] Bagian I ( Klik di sini ) […]

     
  4. ari_, 12. April 2008, 14:46

    Dah yg pnting indo maju trus pantang mundur.klo bsa sleksi pmain timnas ke daerah2 kan mungkin aja bnyk pmain daerah yg berp0tensi menjadi pmain hebat….yawdah impianku cman ind0nesia bsa masuk Piala Dunia aja…hehe

     

Write a comment: