Liverpool: Menang atau Mati!
Jenderal Oda Nobunaga membakar kapal perangnya demi menaklukkan sebuah pulau yang dihuni pasukan lawan, hanya supaya pasukannya bertarung sampai mati karena sudah tidak ada cara lagi untuk kembali. Legenda perang Jepang di abad-16 ini menginspirasi banyak orang untuk melakukan serupa. Seharusnya, pasukan Rafa Benitez mengambil roh Nobunaga ketika menghadapi Porto di Anfield dalam lanjutan Liga Champions.
Kalah artinya tersingkir ke kasta lebih rendah, UEFA Cup. Seri pun demikian. Tiada pilihan kecuali menang, dan senjata andalan Rafa Benitez adalah pengalaman anak-anak asuhnya menghadapi sebuah partai yang sedemikian menentukan.
Setelah mengalami pekan-pekan sulit menang (tapi positifnya juga sulit kalah), Liverpool mengalami “kebangkitan kembali” ketika meremuk Newcastle di St. James Park. Dari awal hingga akhir pertandingan, pasukan merah ada di mana-mana dan membuat permainan menjadi tampak hidup dan menghibur.
Dilihat dari cara bermain, sangat terlihat bahwa Rafa mengombinasikan aliran bola melalui umpan jauh dan pendek yang sangat ideal. Serangan Newcastle yang bisa dipatahkan akan dibalas dengan serangan balik lagi yang cepat melalui umpan dari gawang langsung ke pemain depan. Sementara serangan yang dibangun secara berlapis-lapis diselesaikan dengan umpan satu dua pendek yang belakangan ini diasosiasikan sebagai “Wenger’s style”.
Menghadapi Porto yang memiliki Ricardo Quaresma –pemain yang dikagumi Benitez– Liverpool tentu saja tak bisa seleluasa seperti ketika membuat 3 gol ke gawang Newcastle. Ini artinya, pemain sayap harus secara berlapis membuat benteng terhadap serangan yang dibangun dari kaki Quaresma. Mematikan Quaresma berarti memberikan kesempatan kepada Mascherano untuk melakukannya. Mascherano jauh lebih stylish dalam mematikan lawan ketimbang Sissoko yang lebih fisikal.
Dari sisi tengah, Liverpool semestinya tetap memberikan kesempatan kepada Lucas Leiva karena kecerdasan pemain ini membuat permainan Liverpool di tengah dan sayap menjadi kelihatan hidup. Sebagai penopang Steven Gerrard, Leiva memerankan dirinya secara ideal, sekalipun Xabi Alonso juga bukan pilihan yang jelek. Bila Xabi diprioritaskan bermain lebih dahulu, semestinya Rafa tetap memberikan kesempatan kepada Leiva untuk bermain setidaknya 20-30 menit untuk mengubah arah permainan.
Secara tim, Porto memang kerumunan yang berpengalaman di Liga Champions. Mereka menjadi juara sebelum Liverpool merebutnya di tahun 2005. Oleh karenanya, pengalaman semata-mata tidaklah cukup untuk memenangkan pertarungan kali ini. Beruntung bahwa Liverpool sudah berkali-kali menghadapi situasi semacam ini, baik ketika harus bertarung melawan Olympiakos, Juventus, maupun Chelsea di kompetisi yang sama. Modal berharga ini tentu saja penting karena lagi-lagi, Liga Champions sudah mulai menunjukkan tradisinya sebagai kompetisi yang sangat ketat.
Ketidakberhasilan Porto melanglang ke negeri Inggris juga harus dioptimalkan untuk menekan psikologi lawan. Satu-satunya kemenangan Porto atas tim Inggris ketika bermain di Inggris adalah melawan Manchester United, yang kemudian membawa mereka menjadi juara untuk kedua kalinya pada tahun 2004 itu. Selebihnya, yakni sembilan kali, Porto selalu pulang membawa angka kosong.
Bagi Liverpool, tentu ini bukan pertandingan mudah mengingat mereka juga menghadapi masalah internal seputar “selisih pendapat” antara pemilik klub dengan sang pelatih. Jawaban Benitez yang diulang-ulang hingga belasan kali menjelang persiapan melawan Newcastle beberapa waktu lalu mengabarkan bukti itu. Kemudian, muncul pula sebuah surat terbuka dari fans dan kolumnis Paul Tomkins, yang ditujukan kepada pemilik klub, duet Hicks dan Gillette yang asal Amerika.
Saya sendiri menduga, pertandingan ini akan berakhir setidaknya 3-1 atau 2-0 untuk tuan rumah. Sebuah gol dari pemain tuan rumah akan datang di menit-menit awal, yang membuat pertarungan akan berjalan lebih hidup.



ki wisnu, jin gunung yang membisikimu kayaknya sudah bersulang lebih dahulu, jadi tak sempat lihat tandukannya crouch menambah jadi 4-1. Rafa, jangan sia-siakan petisi yang mendukungmu bertahan, tinggal Besiktas ae kok..
Pool masih melawan Marseille Bung Imron….Bukan Besiktas. Kita akan main di Stade Velodrome, Marseille. Mudah-mudahan jinnya betah sama Pool…
pull my panties down…
pull my panties down…