Torres Membayar Lunas
Enam peluang bersih, tanpa satu gol pun. Tinggal berhadapan dengan kiper, tak juga berhasil. Sepakannya selalu berhasil dipatahkan pemain belakang atau kiper. Tipuannya tak jalan. Itulah Torres. Itulah El-Nino. Striker yang digadang-gadang akan menggantikan peran si burung betet, Ian Rush dan meneruskan sentuhan mematikan Robbie Fowler. Striker termahal yang pernah dibeli Liverpool itu gagal mencetak gol.
Tapi itu Torres dalam pertandingan melawan Newcastle di Liga Inggris akhir pekan lalu. Dalam pertandingan melawan Porto di Liga Champions malam tadi, Torres menjawab kemandulannya dengan dua gol lewat kepala dan kaki yang amat menawan. Dua gol lain disumbang pemain Inggris, kapten Steven Gerrard dan si lanky striker Peter Crouch.
Sejak menit pertama, Liverpool memainkan operan-operan yang nyaris sempurna. Kombinasi umpan lambung dan patah-patah pendek-pendek diperagakan oleh Benayoun, Babel, Voronin, Torres, dan Gerrard begitu rancak, meski sebenarnya masih bisa diimbangi oleh pemain-pemain Porto dengan potongan-potongan yang sedikit keras sekalipun jauh dari kasar. Pelatih Ferreira kelihatan sekali menginstruksikan pemain-pemainnya untuk memperlambat tempo yang diperagakan oleh anak-anak Anfield dan menusuk dengan serangan balik dari sayap.
Upaya ini sedikit berhasil tapi tak mengurangi kesempatan dan semangat anak-anak Liverpool untuk terus menekan. Tiga tendangan penjuru dalam kurun waktu tak tak terlalu panjang di babak pertama adalah buktinya. Dan gol pertama sendiri, juga dihasilkan dari sepak pojok Gerrard yang tepat mengarah di kepala Torres. Mula-mula, para pemain Porto kelihatan berusaha menutup gerakan Hyypia yang dikenal jago sundul dan sepak dalam set piece semacam ini, dan membuat ruang sempit untuk Torres menjadi terbuka. Tanpa kesulitan, Torres membayar kemandulannya pekan lalu. Itu kejadian di menit 18-19.
Di menit 33, Finnan yang merasa dilanggar pemain Porto terlambat untuk bangkit kembali sehingga pemain sayap bernama punggung Kaz (aselinya sih Kazmierczak atau Indonesianya Kasmiran) berhasil mengirim umpan ke Lisandro Lopez. Reina kelihatan tak berdaya sekalipun tangannya hampir menggapai bola sehingga skor menjadi 1-1. Babak pertama berakhir tanpa tambahan gol, dan bahkan sempat Porto berpeluang menambah gol kalau saja tendangan pemain Porto Lisandro tak menyamping di mistar gawang Pepe.
Di babak kedua, Liverpool kembali ke penyakit lamanya, salah mengirim umpan, lemah dalam penyelesaian akhir. Hingga menit ke-60, penyakit grogi dan khawatir menyergap hampir seluruh pemain Liverpool yang saat itu ada di lapangan, mulai dari Hyypia, Masche, Babel, dan juga Gerrard. Bahkan Gerrard sejak babak pertama terlihat beberapa kali salah mengirim umpan atau umpannya terpotong pemain-pemain berkaos biru.
Untung Si Merah memiliki pelatih yang jeli dalam detil dan pandai membelokkan arah permainan. Maka iapun mengintrudusir Kewell menggantikan si burung gagak Voronin. Pergantian ini Tak langsung membawa dampak. Maka, Crouch pun diminta melepas jaketnya di menit 70. Perubahan ini baru membawa dampak penting karena umpan-umpan menjadi lebih terkendali.
Dampak dari dua pemain ini makin terlihat jelas ketika Kewell bertarung di sisi kiri lapangan tengah Pool melawan gelandang Porto dan memenanginya. Ia menggiring bola menyisir garis lapangan, lalu berbelok ke dalam, di mana Steven Gerrard sudah berteriak-teriak meminta umpan. Kewell mengacuhkannya, terus menusuk ke dalam dan kembali berduel dengan pemain belakang Porto. Aussie satu ini menang dan punya kesempatan mengirim umpan tusuk ke Torres. Malam itu, Torres benar-benar menjelma menjadi pembunuh mematikan di depan gawang Helton dengan mengirim umpan Kewell itu menjadi tembakan terarah ke sudut kiri penjaga gawang bercelana panjang itu. 2-1.
Gol ketiga menjelaskan mengapa Gerrard adalah inspirator tim yang menyangga beban seluruh pemain dan operator dari instruksi pelatih. Umpan yang dikirim ke kotak penalti disambar dengan tangan oleh Stepanov. Maka, penalti sudah menjadi keharusan karena sepakbola adalah permainan kaki, bukan tangan seperti yang diperagakan pemain belakang Porto Milan Stepanov itu.
Beban penalti ini sendiri sesungguhnya sangat berat karena bila gagal, masih ada waktu bagi Quaresma untuk meremuk kepercayaan Gerrard dan kawan-kawan dan membuat fans Liverpool menangis di kandangnya sendiri sesuai yang ia janjikan sebelum pertandingan. Tapi bila gol, ia akan menyudahi permainan secara teoretis dengan kemenangan di kubu merah. Dan sebagaimana pengalaman selama ini di Liga Champions, Gerrard membayar lunas kepercayaan itu dengan memperdaya sang kiper Porto. 3-1. Kemenangan ini disempurnakan oleh Crouch di menit 87 melalui tandukan kepala hasil sepak pojok.
Dengan kemenangan ini, semua klub di grup ini musti menang untuk bisa lolos, dan semuanya memiliki kesempatan yang sama. Keuntungan tentu saja akan menjadi milik tuan rumah tetapi dalam partai seketat ini, semuanya akan bisa terjadi mengingat secara teknis semua tim mampu untuk saling mengalahkan.
Dua pilar terpenting Liverpool, Steven Gerrard dan Rafa Benitez sama-sama menyatakan kepercayaan timnya untuk mampu melewati badai terjal ini tanpa menghilangkan penghormatan dan pujian atas lawan-lawan mereka. Tentang Porto, Rafa menyatakan, “Kami punya kepercayaan diri sebagaimana saya katakan sebelumnya, dan ini tentu saja sebuah pertandingan yang berat. Porto adalah tim dengan kualitas bagus.”
Satu tangga lagi yang harus didaki adalah tugas paling berat. Rafa sudah kehilangan banyak poin dan satu-satunya cara untuk dapat lolos adalah dengan memenangi pertandingan melawan Marseille di pertandingan terakhir babak penyisihan grup. Namun jelas partai ini tidaklah mudah karena Marseille akan bermain di kandang sendiri. Pelatih baru Eric Gerrets yang pernah membawa PSV Eindhoven meraih gelar kompetisi ini memang belum menemukan racikan yang pas. Kekalahan di kandang Besiktas 2-1 jelas membuat mereka tak bisa berleha-leha karena mau tidak mau Cisse dan kawan-kawan harus meraup poin di pertandingan terakhir melawan Pool. Dengan demikian, grup ini merupakan satu-satunya grup yang masih menyisakan peluang bagi setiap kontestannya untuk melaju ke babak knock out.
Malam itu menjadi malam yang fantastis untuk seluruh fans Liverpool, dan Rafa punya komentar spesial tentang hal ini. “Hasil ini kami tujukan untuk seluruh fans kami. Mereka –seperti biasanya– selalu magnifincent.”
Satu-satunya yang membuat saya pribadi “kesal” adalah gol Crouch yang menyudahi pertandingan dengan skor 4-1. Kenapa? Karena dengan demikian saya jadi kehilangan kesaktian dalam menebak skor pertandingan ini. :-p
Gambar: www.soccer.org.au



satu lagi bro info yang lupa dicatat.. kalo ngga salah ngartiin, maklum inggris gw masih blentang-blentong, hehehehe, gol penalti gerrard semalem itu golnya yang ke 22 diajang UCL and menyamakan koleksi owen diajang serupa..
pantesan gerrard yang ngambil penalti, padahal gw pengen banget torres bikin hattrick lagi…
CMIIW…
makasih info tambahannya. Seingatku memang komentarnya bilang twenty bllupblupblum…secara gw juga gak nyimak lagi.
kayaknya torres bukan mandul waktu lawan newcastle kemaren tp sial , 1 kali kena tiang walau gawang udah kosong, keganjel lawan, ga sukses nipu kiper yah kayaknya sial dia kemaren untung aja liverpool menang kalo enggak bisa habis di salahin si torres (kan kasian).
baru kali ini aku punya rasa gregetan liat aksi striker setelah batistuta walau mereka beda mainnya,tapi yang jelas mereka berdua sama2 mematikan di depan gawang lawan…
YNWA..
Sial adalah sebab. Mandul adalah akibat….:D Tapi saya tetep seneng gaya Torres waktu main lawan Newcastle, menunjukkan kelasnya sebagai penyerang dengan kecepatan, penyerang ulet.
Dan di pertandingan semalam, Torres menunjukkan sekali lagi, ia bukan penyerang yang terbelenggu oleh masa lalu. Di St. James Park ia tak mencetak gol, tapi tidak tumpul secara tim….Di Anfield semalam, Torres jadi kayak Finnan, Hyypia, Carra, dan Arbeloa, because he is back….:D