Kuartet Teletubbies “Warna baru Timnas Indonesia” ( Bagian II )

ponaryo.jpgBagian I ( Klik di sini )

Personil ketiga dari Teletubbies Indonesia adalah Syamsul Chaeruddin. Dibesarkan di kawasan angin mamiri, Syamsul sangat berkarakter PSM. Permainan lugas dan spartan menjadi merek dagangnya.

Syamsul, memang diorbitkan sebagai “teman duet” Ponaryo Astaman di PSM Makassar. Ketika Ponaryo aktif merancang serangan, Syamsul diminta untuk “membersihkan” gangguan laten dari tim lawan.

Akhirnya, hasilnya bisa dilihat saat ini, Syamsul adalah the best defensive midfielder in Indonesia.

Stamina dan daya jelajahnya memang luar biasa. Sepanjang 90 menit, Syamsul akan terus “merusak dan mengganggu” serangan lawan. Demi pertahanan yang kuat, Syamsul memang harus “berkorban” dalam hal lain. Skill menyerangnya, boleh dibilang lemah dan tidak berkembang. Passingnya tidak akurat, dan tidak punya crossing bagus.

Hampir sama seperti Eka Ramdani, Syamsul yang sering menempati gelandang kiri/kanan, kadang menjadi kikuk dan serba salah jika diminta lebih sering melepaskan umpan crossing ke trio striker.

Mungkin Syamsul perlu berkaca kepada Gennaro Gattuso di AC Milan
. Dalam permasalahan yang sama, Gattuso malah terus merasa terasah skillnya, dikarenakan Andrea Pirlo banyak membantunya, terutama dalam peningkatan teknik. Akibatnya Gattuso yang sekarang tidak hanya bertenaga saja, melainkan juga punya “passing” yang lebih akurat.

Ponaryo Astaman, is the last of Teletubbies
. Ponaryo merupakan personil Teletubbies yang bertinggi badan di atas 170 cm (172 cm). Ponaryo saat ini berstatus sebagai kapten timnas Indonesia.

Ponaryo adalah gelandang seimbang. Dari perangai dan penampilannya, sehari-hari, terlihat jelas bahwa beliau adalah tipikal pemimpin yang mau berkorban demi kepentingan bersama.

Permainannya sangat stabil. Ponaryo punya passing ciamik , dan punya kelebihan dalam mengorganisir rekan-rekannya. Kelebihan lain ? Long Shot dan free kicknya sangat kencang dan terarah. Belum lagi crossing dan set piecenya.

Kelemahannya ? Ponaryo rentan cedera. Cedera lutut yang pernah dialaminya, membuat Ponaryo terkadang harus absen di pertandingan penting, dan menyulitkan dia dalam mempertahankan performa. Satu lagi, ketika tim Indonesia ketinggalan dari lawan, Ponaryo sering terlihat ragu untuk menyerang, padahal boleh dikatakan, seharusnya dia “nothing to lose”, untuk all out attack.

Setiap pemain dalam Teletubbies Indonesia, memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Untuk itu, sang sutradara Ivan Kolev, diharapkan mampu meramunya dan memadukannya sesuai kondisi lawan yang dihadapi.

Semoga, kuartet Teletubbies ini minimal mampu melejit dan sempat memberikan gelar bagi timnas Indonesia, sama seperti serial Teletubbies yang sempat booming, walau sekarang sudah tidak tayang…

Source : www.img.photobucket.com (Photo)

1 comment:

  1. keane, 5. December 2007, 10:13

    terus terang saya jarang banget nonton tim2 lokal bertanding,membaca artikel ini membuat saya jadi pingin sering nonton & kalo memang banyak bibit bagus di tim kita mungkin memang dibutuhkan pelatih yang jeli dan pintar untuk mengatur pemain&strategy dan manager yang profesional, pertanyaannya apakah kita sudah punya itu semua……..????atau mas andy berniat menjadi salah satunya……hehehe

     

Write a comment: