Atletico merangsek ke papan atas
Madrid bukan lagi hanya milik Real !!! Tim sekotanya, yang secara historis terus bersaing memperebutkan simpati publik ibukota Spanyol tersebut, mulai menunjukkan tajinya.
Bertindak sebagai tamu di Stadion Manuel Ruiz de Lopera, kandang Real Betis, Atletico menghabisi tuan rumah dengan 2 gol tanpa balas. Adalah Diego Forlan dan attractive young midfielder, Raul Garcia, yang membobol gawang Ricardo.
Hasil ini melejitkan Atletico ke peringkat ke 4 Primera Liga dengan 27 angka. Menggeser Espanyol, yang bermain seri 1-1 dengan Barcelona, ke posisi 5. Pemimpin klasemen sendiri masih dikuasai El Real dengan 32 angka, dikuntit Barcelona dengan 28 angka. El Barca “hanya” unggul selisih gol, dibandingkan penghuni peringkat ketiga, “Yellow Submarine” Villareal, yang gagal menambah angka, karena kalah 0-2 dari Valladolid.
Pengeluaran lebih dari 60 juta euro di awal musim, tampaknya memang tidak sia-sia. Sempat dikecam oleh publiknya sendiri karena “melepaskan” maskot tim, Fernando Torres ke Liverpool, manajemen Atletico mulai membuktikan kejeniusannya dalam jual beli pemain.
Torres memang striker hebat, namun kehadiran Torres di Atleti, justru menimbulkan efek negatif ketergantungan strategi permainan terhadap seorang target man. Hal inilah yang coba dipecahkan oleh manajemen Atletico.
Memboyong Forlan dari Villareal adalah keputusan yang tepat. Forlan cepat nyetel dengan pola permainan Atletico. Keunggulan sektor penyerangan Atletico semakin menjadi-jadi, dengan melejitnya kehebatan Sergio “Kun” Aguero. Kun, yang punya keunggulan dalam kecepatan, menjadi teman paling pas untuk Forlan.
Belum lagi kehadiran sayap-sayap hebat di Vicente Calderon. Simao Sabrosa, Maxi Rodriguez dan Jose Antonio Reyes sangat cocok untuk mengiris-ngiris pertahanan lawan, dan mensuplai umpan untuk para striker. Tipe ketiganya kebetulan sama, dengan satu sentuhan, diakhiri dribbling atau sprint.
Kolaborasi yang terjadi, membuat Atletico bermain dengan gaya latin, yaitu umpan pendek. Ketidakmampuan para winger dalam memberikan crossing, justru memberikan blessing disguise bagi Atletico, karena striker mereka “kebetulan” lebih suka bola-bola area, dibandingkan bola matang.
Mungkin di sinilah permasalahan Atletico terpecahkan, karena dalam 4 tahun terakhir, dengan Torres di depan, mereka sering memainkan umpan direct atau crossing ke mulut gawang. Hasilnya, Atleti hanya dikenal dunia bukan karena prestasinya, melainkan jor-jorannya di bursa transfer.
Saking menyerangnya, tercatat 21 gol terjadi di Stadion Vicente Calderon dalam 3 pertandingan terakhirnya. Atletico memang sangat tajam, namun mereka juga harus lebih memperhatikan stopper/sweeper mereka yang lemah dalam penjagaan daerah. Pablo Ibanez masih membutuhkan rekan sepadan, untuk melindungi kiper Leo Franco. Mungkinkah Diego Lugano (stopper Fenerbahce) adalah jawabannya ?
Source : www.nancarrow-webdesk.com (Photo)



[…] Atletico merangsek ke papan atas […]