Milan – Celtic lolos dari phase Group
Kemenangan Milan 1-0, atas Glasgow Celtic pagi tadi, tidak hanya memberikan senyum kepada punggawa Diavolo Rosso, namun juga kepada pasukan hijau Celtic.
Glasgow Celtic lolos ke fase berikutnya, menyusul kemenangan Benfica atas Shakhtar Donetsk, 2-1. Dengan demikian poin Celtic (9), tidak terkejar lagi oleh para pesaingnya.
Gol Milan dicetak oleh Filippo Inzaghi, pada menit ke 70. Gol ini menjadi rekor tersendiri bagi Super Pippo. Rekor golnya di Piala Champions berhasil mencapai angka 63 gol, dan melewati rekor gol sebelumnya atas nama Der Bomber, Gerd Muller.
AC Milan sendiri bermain dengan sangat tenang dan percaya diri. Memulai pertandingan , dengan beberapa pemain cadangan (Zeljko Kalac,Cafu, Favalli dan Simic), Milan tetap tidak mau mengambil resiko di sektor tengah dan depan. Komposisi Gattuso, Ambrosini dan Pirlo tetap dipertahankan, dan tentunya masih mengandalkan kreativitas Kaka dan Seedorf di belakang attacante Pippo Inzaghi.
Celtic masih mengandalkan poros Steven Pressley-Massimo Donati-Aidan McGeady. Donati yang eks Milan, diharapkan mampu memompa semangat rekan-rekannya, dan membuka jalan bagi peluang berbahaya.
Fakta lapangannya, Celtic tidak mampu mengatasi dominasi Milan. Milan menggila di lini tengah, lewat permainan khasnya, umpan-umpan pendek. Possesion Football, mutlak dikuasai oleh Rossoneri dengan persentase 63-37.
Soal efektivitas peluang lain lagi. Celtic memberi contoh kepada Milan, bagaimana menciptakan peluang secara efektif. Mengetahui kelemahan Milan ada di sektor pertahanan yang lemah dalam kecepatan, Celtic bermain menunggu dan melakukan serangan balik, dengan dimotori McManus, Scott Brown dan Jiri Jarosik.
Meski demikian, Milan akhirnya memenangkan pertarungan. Memiliki rekor hebat di Eropa, Milan melanjutkan rekor baiknya di San Siro, semoga hasil ini berpengaruh terhadap partai kandang mereka di Liga Italia (yang belum membuahkan kemenangan).
Source : www.espnsoccernet.com (Photo)



Maaf Bung Andy…pernyataan anda sangat perlu untuk dipertanyakan “Celtic memberi contoh kepada Milan, bagaimana menciptakan peluang secara efektif”.
Pertama, jika kita berbicara peluang, pada pertandingan semalam, maka kita akan melihat bahwa justru peluang-peluang yang sangat memungkinkan terjadinya gol justru dimiliki oleh skuad Don Carletto, bukan skuad Mr. Strachan.
Kedua, jika yang anda maksudkan adalah ‘counter-attack’, maka sangat kecil kemungkinan AC Milan yang memainkan possession football melakukan ‘counter-attack’. Jadi, serangan balik yang diterima Milan pun adalah hasil dari skema permainan yang diterapkan, dan karena Celtic bermain pada konsentrasi di lini belakang. Yang terpenting adalah bagaimana menangkal serangan balik tersebut.
Ketiga, jika anda berbicara mengenai efektivitas, maka dalam hal ini (mohon maaf) anda keliru besar. Karena dari beberapa peluang Celtic tak ada satupun yang menjadi gol. Dan justru Milan lah yang mencetak gol. Jika kita berbicara mengenai efektivitas, mungkin kita semua harusnya setuju klo sesuatu dikatakan efektif jika dengan peluang yang sedikit , hasil maksimal (gol) dapat tercapai.
@ yopie pieters :
thanks atas komentarnya. Milan memang mencetak gol, tetapi tahukah anda, terlalu banyak peluang dibuang-buang oleh Milan ?
Data Statistik dari espnsoccernet.com, menunjukkan bahwa, sepanjang pertandingan Milan melakukan 26 kali tembakan, namun yang mengarah ke gawang (shot on goal ) hanya 5. Bandingkan dgn Celtic, walau hanya 7 tembakan namun shot on goalnya mencapai 3. Jadi inilah alasan saya mengemukakan bahwa serangan Celtic jauh lebih efektif
Jika Milan pada akhirnya mencetak gol, itu menunjukkan derasnya serangan mereka, dan itulah makna dari efisiensi, soal efektif, lain lagi…..
@ yopie pieters :
saya pribadi sepakat dengan yang disampaikan Andy.. jika berbicara masalah efisiensi..
pada dasarnya milan adalah master dalam melakukan pola permainan yang efisien.. tapi entah kenapa dipertandingan melawan celtic ini, Milan ngga keliatan seperti biasanya.. terlalu banyak peluang yang dibuang2.. seperti orang yang hanya memiliki pola permainan.. “yang penting bola ada ditangan Milan dan berada didaerah kekuasaan celtic”
konsep seperti itu biasa diterapkan sama tim2 yang punya gelandang2 yang hebat dalam mengolah bola baik sendiri mau pun secara tim.. dan milan meilikinya..
melihat peluang2 yang dimiliki celtic.. sangat amat disayangkan.. seharusnya dari beberapa peluang itu bisa dijadikan gol andai saja celtic punya striker sekaliber striker2 milan..
soal efisiensi.. masih teringat jelas dibenak saya bagaimana Milan Menghancurkan impian Liverpool di Athens di final liga champions yang lalu.. semua yang melihat game tersebut juga pasti setuju.. permainan dikuasai liverpool.. tak lebih dari 5 peluang yang dihasilkan milan.. tapi dua diantaranya menjadi gol… itu karena milan memiliki striker oportunis sekelas inzaghi…
celtic sudah menerapkan strategi yang baik.. tapi perlu digarisbawahi mereka menghadapi tim dengan pertahanan yang hebat..
andaikan strategi milan bisa berjalan sebaik strategi celtic.. ngga tertutup kemungkinan skor jauh diatas 1-0..
satu lagi OOT, kalo kuping ini ngga salah.. terdengar lagu Youll Never Walk Alone di san siro yah… ada yang denger :D, seperti dari tribun supportersnya celtic…
dooh serius amat yak komennya….aq yg ini pas ga nonton
@ ekowanz :
sabar kaleee mas eko..masih banyak pertandingan menarik lainnya, apalagi buat phase berikutnya yang sudah sistem gugur…pasti lebih seru dan menarik !!!!
Waah…kemaren, udah nulis panjang2 ternyata servernya down
@ Andy
wah, bener bung…maaf, saya yang salah membaca.
Komentar saya didasarkan pada level ‘hasil pertandingan’, sedangkan tulisan anda pada level ‘penciptaan peluang’. Namun menurut saya, Efisiensi pada level ‘penciptaan peluang’ sangat mungkin menjadi efektivitas pada level ‘hasil pertandingan’.
Oia, satu OOT lagi. Data statistik memang terkadang berguna untuk me-review hasil pertandingan. Tetapi mohon berhati-hati, sebab terkadang data dapat berbohong. Ambil contoh jika ada suatu serangan berbahaya yang kemudian diakhiri dengan, katakanlah, tendangan yang meleset 10-20 cm dari tiang gawang akan tercatat sebagai ’shot wide’. Sedangkan bola yang sebenarnya mudah diantisipasi oleh kiper tapi mengarah ke gawang disebut sebagai ’shot on goal’. Padahal, menurut saya, peluang itu bukanlah sekadar bola ditendang ke arah gawang, tapi lebih kepada seberapa bahaya serangan yang dilakukan.
AC Milan sangat wajar menciptakan banyak peluang terbuang (@ yaperkasa juga), hal ini lebih disebabkan oleh sistem permainan Milan yang memainkan possession football. Sistem ini biasa digunakan jika lawan memperkuat lini pertahanan mereka sambil menunggu celah untuk melakukan counter attack. Jadi menurut hemat saya, peluang terbuang Milan justru dikarenakan lini defensif Celtic yang bermain sangat disiplin, bukan karena macetnya strategi yang dijalankan oleh Don Carletto.
Oia, tolong benarkan klo salah, rekor gol Gerd Muller memang telah dilewati oleh Inzaghi, tapi klo tidak salah rekor pencetak gol terbanyak di Eropa masih dipegang oleh seorang pemain lain (saya lupa namanya…Jose Altafini, mungkin??)
@yaperkasa
AC Milan bermain dengan kedua pola tersebut (possession football dan counter attack). Bukti paling shahih justru saya lihat di pertandingan kontra ManU di semifinal Liga Champions tahun lalu. Sadar akan sangat berbahaya secara fisik jika meladeni permainan uptempo ManU selama 90 menit, CArletto memerintahkan anak asuhnya untuk menekan dari awal dengan penguasan lini tengah yang boleh dibilang sangat dominan. Hasilnya, Milan unggul 2-0.
Ketika fisik old crack Milan sudah mulai berkurang, seluruh pemain diperintahkan untuk membantu pertahanan. Inzaghi diganti di babak kedua. Padahal dia bermain baik di babak pertama, Mengapa? Karena Gila adalah seorang penyerang yang dapat lebih membantu pertahanan dibanding Inzaghi. Carletto bermain safe dengan memperkuat pertahanan tanpa mengurangi kualitas penyerangan (lewat counter attack -red). Hasilnya, dengan satu pukulan telak pasukan SAF yang mulai menemukan ritme permainan dipaksa bertekuk lutut oleh satu umpan terukur Max23 yang diselesaikan secara sempurna oleh Gila.
@ ekowanz
ayo mas ikutan diskusi
Oia, Rekor gol Pippo bukan di Piala/Liga Champions, tetapi diseluruh pertandingan Eropa (UEFA Cup, Winners Cup -red). Untuk urusan gol terbanyak di Liga Champions, pemain aktif yang mencetak gol terbanyak adalah Raul Gonzalez.
@ yopie pieters :
saya setuju soal kriteria shot on goal, sptnya tendangan lemah ke arah muka gawang, malah dihitung shot on goal, dibandingkan tendangan berbahaya tetapi melenceng 30-50 cm dr gawang, akibatnya perhitungan pemanfaatan peluang juga serba subyektif, mungkin dlm pandangan say tidak sperti pandangan mas yopie dan pecinta bola lainnya
justru krn itu, blog BOLANOVA hadir, jd untuk mensharing bagaimana pandangan kita bersama terhadap sepakbola yg kita gemari (tanpa terkecuali )
Being different is natural…..so lets share our point of view