Transformasi Monsigneur Michel Platini

michelplatinir_468×323.jpgLiberte, Egalite, Fraternite, merupakan semboyan besar peninggalan negara Prancis, yang terus ditegakkan sampai sekarang.

Kemerdekaan, kesetaraan dan persaudaraan adalah aspek-aspek yang tentunya coba ditegakkan oleh setiap warga negara negara berlambang ayam jantan tersebut. Tak terkecuali oleh warga “kehormatannya” Michel Platini.

Beliau adalah duta bangsa Prancis, yang paling terkenal di dunia, setelah Napoleon Bonaparte. Sebelum datang seorang pujaan baru bernama Zinedine Zidane, telah ada dan eksis cukup lama seorang pemuda dengan bakat alam nan istimewa menyihir seantero Eropa dan dunia bernama Michel Platini.

Platini lahir di kota kecil bernama Joeuf, pada tanggal 21 Juni 1955. Semenjak kecil, beliau punya kesukaan berlebihan terhadap kebiasaan mendribble bola dengan kakinya. Kebiasaan lainnya, yang diajarkan oleh ayahnya, adalah untuk selalu memahami kemana bola akan diumpan, sebelum kita menerima umpan dari rekan kita di lapangan.

Setelah menghabiskan 6 tahun bermain di youth club AS Joeuf (1966-1972), Platini menapak karirnya di AS Nancy. Dengan cepat beliau, menjadi harapan dan bintang di klub ini. Free kick merupakan spesialis utamanya, berkontribusi besar dalam penciptaan 98 gol dari 175 pertandingan di klub tersebut, pada 1972-1979 (Wikipedia.org).

Spontanitas, imajinasi dan efisiensi tindakan, adalah kolaborasi kelebihan teknik Michel Platini. Bakat sepakbolanya yang berbekal keflamboyanan khas prancis dengan gaya bawa bola khas Latin, sedikit banyak “diturunkan” oleh darah Italia dari ayahnya. Platini muda terbiasa untuk mengambil keputusan dalam waktu singkat, apakah bola akan dibawa sendiri atau diberikan kepada rekan lainnya.

Kemampuannya ini, mengantarnya bermain di klub elit Juventus, dan menjadi legenda di Italia. Bahkan “kuku Platini” semakin terpancang kuat, sebagai pemain terakhir di kolong langit ini yang pernah mengecap gelar pemain terbaik Eropa selama 3 tahun berturut-turut (1983-1985).

Aksi heroiknya di timnas dicatat tinta sejarah dalam Piala Eropa 1984, 9 golnya membawa Les Bleus ke tangga terhormat benua biru. Bahu membahu bersama Alain Giresse, Luiz Fernandez dan gelandang legam Jean Tigana, Platini memperkenalkan kuartet lini tengah Prancis ke seantero jagat.

Platini memang tak pernah sukses di Piala Dunia. Prestasi maksimalnya “hanya” menjuarai Piala Eropa 1984, namun kontribusinya terhadap sepakbola dunia akan terus tercipta.

Bukan liukan maut di lapangan hijau yang dapat kita nikmati, melainkan “aksi-aksinya” untuk menerapkan Liberte-Egalite-Fraternite ke dalam peraturan sepakbola. Kontroversi Perubahan format Liga Champion, merupakan usulan jenius anti kemapanan klub besar, yang membuat Platini, layak diganjar sebagai pejuang sepakbola modern.

Akhir kata, profil singkat Platini ditutup dengan sebuah quote terkenalnya :
“What Zidane does with a ball, Maradona could do with an orange…..”

Source : www.dailymail.co.uk (Photo)

No comments yet.

Write a comment: