Watch for IA and IA (Ibrahim Afellay and Ismail Aissati) !!!!
Shock defeat yang baru saja dialami oleh PSV Eindhoven di kandangnya sendiri, 0-4 oleh Roda JC Kerkrade, tidak terlalu mengusik hati saya.
Ada yang lebih penting, yang perlu diungkapkan kepada pembaca BOLANOVA sekalian. Hal ini terkait dengan 2 anak muda seumur jagung yang boleh saya katakan fenomenal.
Ibrahim Afellay dan Ismail Aissati adalah anak muda “bau kencur” dalam sisi usia, namun bercita rasa surga, dalam sisi style bermain. Lucunya keduanya berinisial IA, dan sama-sama keturunan negara Afrika, Maroko.
Ibrahim Afellay (foto kanan atas), sudah pernah muncul dalam “seonggok” kalimat pada artikel “Bedah Belanda ala BOLANOVA”. Di situ saya menulis bahwa pemain tersebut dapat menjadi solusi Belanda di sektor sayap. Afellay sejatinya adalah midfielder “rupa-rupa”, yang dapat ditempatkan di mana saja.
Tensinya adalah menyerang dengan kecepatan tinggi. Alih-alih mempermainkan bola dengan dribbling, Ibrahim lebih suka, “merusak” pertahanan lawan dengan penetrasinya ke kotak penalti. Kengototannya atas setiap jengkal permainan, juga membuat dirinya dapat menjadi tembok pertahanan pertama bagi rekan-rekannya.
Atas kehebatannya ini, pemain berumur 21 tahun ini, juga sudah memulai debutnya dengan tim senior Belanda, melawan Slovenia, 28 Maret 2007 (Wikipedia).
Ismail Aissati (19 tahun), tampak lebih elegan dibandingkan seniornya, Ibrahim Afellay. Adalah wajar, jika memang begitu stylenya. Posisi permainannya pun “sedikit” berbeda, karena Ismail adalah playmaker. Meskipun demikian, Ismail bukanlah playmaker “malas” seperti Riquelme. Ismail justru bermain dengan Ribery Style (Bayern Muenchen).
Franck Ribery, bintang Prancis dan Bayern Muenchen mempopulerkan gaya forward dengan role bebas bergerak, namun tidak berlama-lama menahan bola. Intinya konstan memberikan tekanan sepanjang pertandingan dengan kecepatan dan tusukan langsung ke jantung pertahanan. Gaya ini dicontek habis oleh Ismail Aissati.
Aissati sendiri sudah menjadi incaran klub elite eropa, diantaranya AC Milan, Inter, Arsenal dan Valencia. Tahun 2006, dirinya pernah “dikibas” oleh tawaran 11 juta euro oleh Milan, namun ditolak oleh PSV (Wikipedia).
Secara umum, Ibrahim dan Ismail punya kelebihan utama, yaitu kecepatan. PSV memang rajanya menciptakan pemain-pemain “kencang”, mulai dari Romario Faria, Ronaldo, Jesper Gronkjaer, sampai yang terbaru, Arjen Robben. Tetapi lebih daripada itu, yang saya suka dari keduanya adalah style permainan yang cepat dan tidak terduga, sangat “menyebal” dari pesepakbola saat ini.
Saya sangat menyadari, bahwa menulis tentang kedua pemain ini, sangat berisiko, terutama jika ternyata keduanya gagal menjadi pemain terkenal. Namun, saking menariknya hal-hal yang dilakukan keduanya di lapangan, “memaksa” saya untuk tetap bercerita bagaimana pentingnya untuk anda mengetahui kehadiran duet IA tersebut.
Penasaran ? Tongkrongin saja Lativi, untuk menunggu jadwal main PSV Eindhoven
Source : www.brabantsdagblad.nl , www.mountakhab.net (Photo)



emang mantep mas andy ini… ga da pemain muda berbakat yg lewat dari pengawasannya…hueheehheheheh (kayak pengawas ujian aja)
@ seno :
hehehhehhehehe, kebetulan bgt wktu itu nonton PSV vs Roda JC…., dan puas rasanya melihat keduanya….jd kepengen nih jd scout pemain muda di klub bola, abis enak sih kerjaannya
@andy
coba ngelamar jadi scout di klub2 lokal aja ndy..!!! sapa tau bisa memperbaiki perform pemain2 kita yg katro maennya..