The World Number #1 , AC Milan !!!!
Kostum putih-putih, memang punya “magi” tersendiri bagi AC Milan. Dengan memilih corak tersebut, Il Rossonero kembali menambah rentetan trophy di Milanello, San Siro.
Gelar Piala Dunia Antar Klub, kembali direngkuh oleh Paolo Maldini, dkk, dengan saksi sejarah Stadion Yokohama Jepang. Klub biru kuning dari Argentina, Boca Juniors, menjadi “korbannya”, dengan hasil akhir 4-2.
AC Milan tampak sangat percaya diri memulai pertandingan, menampilkan skuad “standardnya” dalam balutan formasi cemara 4-3-2-1. Nantinya, pola ini akan sangat efektif, terutama untuk menghadapi tim dengan teknik tinggi dan punya kecenderungan bermain terbuka serta menyerang.
Sebelumnya, kami mengucapkan salut kepada Boca,klub eks legenda Diego Maradona, yang “berani” bermain penuh hasrat atas nama sepakbola menyerang, meski mereka berhadapan dengan time elit Seri A. Dalam benak mereka, apa yang perlu ditakutkan ? Milan lebih banyak kalahnya, ketika menghadapi ajang Piala Dunia antar klub, apalagi jika menghadapi klub-klub asal Amerika Latin.
Namun, kali ini ceritanya beda. Menilik hasil-hasil terdahulu, Milan bercermin dan tidak mau kalah start. Hasilnya ? Dari menit pertama, Rossonero langsung menggebrak dan memegang kendali permainan. Vitalitas Kaka jelas “menggema” dalam setiap serangan berbahaya yang dibangun oleh anak-anak Milanello.
Ketika Kaka bermain melebar dan diikuti oleh 2 Boca’s, dirinya masih sanggup melepaskan tembakan, yang kemudian membentur dan berbalik kembali kepada pemain terbaik Eropa 2007 ini. Kali ini sang bintang, punya pikiran lain, dalam sekali hentakan, kiriman umpan menyusur tanah ke arah kanan, disongsong oleh sang raja eksekutor, Inzaghi. Dalam sekelebat bayangan, Pippo menuntaskannya menjadi gol, 1-0.
Masih dalam euphoria gol pertama, Milan “dihukum” oleh lawannya dalam hitungan detik. Sebuah set piece prima, yang diawali sepak pojok di sebelah kanan gawang Dida. Kiriman umpan crossing ke kotak penalti, disambut Palacio dengan sundulan tak bertenaga, namun mematikan.
Bek-bek tua Milan, rupanya sedang “sibuk arisan”, sehingga 5 orang berbaju putih, plus 1 kiper, tidak sanggup menjaga seorang pemain berikat kuda ala pedangdut Joni Iskandar (Rodrigo Palacio), 1-1.
Mental pemain asuhan Ancelotti langsung hancur dan runtuh. Pelan-pelan gaya main Milan, diadopsi oleh Boca Juniors. Sekarang biru-kuning, mutlak mendominasi merah hitam. Passing-passing terukur dan permutasi flank ke midfield, maupun sebaliknya, didiktekan secara konstan dan presisi, sampai wasit meniup peluit turun minum.
Don Carletto berhasil memompa kembali semangat Rossoneri, dengan memulai start yang apik, persis seperti yang diterapkan di awal-awal pertandingan. Intinya, jika kendali di tangan, gol tinggal menunggu waktunya. Alessandro Nesta, merespon kebutuhan tersebut. Sebuah tembakan keras dari dalam kotak penalti, ke arah sudut kanan gawang, tidak mampu dijangkau oleh kiper Mauricio Ariel Caranta, 2-1.
Suporter merah-hitam kembali bersorak, ketika Kaka lewat aksi individunya, memporakporandakan sektor kanan pertahanan Boca, yang ditutup dengan sebuah tembakan keras kaki kiri ke arah tiang jauh. Sang kiper hanya dapat mengantisipasi, namun tidak sempurna, karena derasnya tendangan. Jebollah gawang Bombonera, Boca, 3-1.
Kaka melengkapi kedigdayaannya sebagai man of the match, ketika passing mautnya, membelah kotak penalti Boca, hampir sama seperti prosesi gol pertama, Inzaghi, dengan gerakan “coming from behind”, menceploskan bola ke pojok kanan gawang Ariel Caranta, 4-1.
Sebuah gol hiburan, bagi Boca, tercipta (lagi-lagi) melalui set play bola mati. Dari sebuah free kick di dekat area sepak pojok sebelah kanan Milan, lengkungan umpan, membuat kemelut di kotak penalti Milan. Selanjutnya, tembakan keras Pablo Ledesma, mampu ditangkal oleh refleks sempurna Dida, namun pantulannya salah diantisipasi oleh Ambrosini. Alih-alih membuang bola, Massimo malah menceploskan bola ke gawang sendiri, 4-2.
Nasib orang memang tak dapat ditebak, setelah beberapa saat menjadi “bintang”, Pablo Ledesma, malah menjadi pesakitan di menit ke 88. Pelanggaran kerasnya terhadap Kaka, berbuah kartu merah. Kejadian ini praktis menutup kesempatan Boca untuk mengejar ketinggalannya dari Milan.
Pada akhirnya, Boca Juniors, terjebak dalam “dogma” falsafah permainannya sendiri. Dalam kebanggaannya mereka masih dapat tersenyum, bahwa kami tidak takut bermain atraktif dan ofensif, menghadapi sang jawara Eropa. Meski demikian, “kelas” Boca dan Milan memang berbeda, dan hasil 4-2 adalah bukti otentiknya.
Tambahan gelar ini membuat seorang Paolo Maldini, tampaknya tinggal menunggu 1 gelar Piala Champion 2007/2008, untuk menutup karirnya sebagai legenda terbesar Il Diavolo Rosso. Dengan penampilan seperti kemarin, tidak ada yang menyangsikan, bahwa Milan punya peluang besar mengulangi memori di Athena, tahun lalu.
Source : www.espnsoccernet.com (Photo)



hmmmm…dee bingung,sebagai milanisti,dee bangga bgt punya ac milan yang bisa berprestasi di kancah internasional,,tapi kalo liat penampilan di serie A,dee jd suka sedih…T-T…tp ga’ p p lah..yang penting berprestasi,ya toh ?????
maju psis semarang….