Sao Paolo, “peruntungan” baru Il Imperiatore
Adriano Leite Ribeiro, memperpanjang “daftar kerusakan” pesepakbola andal, yang disebabkan Nerrazuri. Kejadian ini bukanlah satu-dua kali, yang pernah dialami oleh Inter Milan.
Lihatlah kasus Adrian Mutu, Clarence Seedorf dan Andrea Pirlo, semuanya “terbuang dan tidak terurus” di klub biru hitam tersebut. Untunglah, ketiganya “diselamatkan” oleh klub pesaing, dan sekarang dunia bisa melihat hasilnya.
Inter tidak bersalah 100% dalam hal tersebut. Untuk kasus Adriano, dirinya mutlak punya andil, dalam menurunnya karir di lapangan hijau. Dengan membiarkan diri, larut dalam kehidupan malam, diskotik dan kenikmatan duniawi lainnya, membuat dirinya lupa akan fungsi profesionalitas sebagai goal getter papan atas.
Akhirnya semenjak pertengahan November 2007, diputuskan bahwa Adriano akan bermain untuk Sao Paolo, sampai Mei 2008.
Mengapa Sao Paolo ? Yang pertama, karena Sao Paolo mengajukan penawaran. Dan yang kedua, Sao Paolo sebetulnya merupakan “rumah idaman” Il Imperiatore. Ketika kawan menjadi lawan, kenangan masa kecil ataupun “sahabat-sahabat” lama selalu membekas. Teman boleh datang silih berganti, namun “sahabat setia” selalu menanti.
Personifikasi “sahabat lama” tidak harus selalu berbau konteks asal muasal. Karena Adriano sendiri justru dibesarkan oleh Flamengo, klub elit Brasil lainnya. Namun kesamaan geografis, memecahkan perbedaan diantara keduanya.
Seperti lazimnya, bintang sepakbola latin, yang di usia emas, mencari rezeki di Benua biru eropa, ketika beranjak uzur, mereka tidak segan-segan kembali ke negara asalnya, dan bermain dengan klub yang membesarkan namanya.
Adriano, memang merindukan “suasana lampaunya” di klub sepakbola Brasil. Situasi yang diterimanya, sangatlah pelik. Dalam usia emasnya, dirinya “dipaksa” bermain bukan pada level liga yang seharusnya. Hanya demi mencari jati diri dalam rupa “kenikmatan bermain”.
Ya !!! Adriano memang kehilangan rohnya dalam 2 tahun terakhir berkostum biru-hitam Inter Milan. Entah karena alasan apapun, dia melupakan filosofi sepakbola yang mencintai permainan bola bundar itu sendiri.
Dan ketika tekanan maupun kritik datang bertubi-tubi, hanya hampalah yang menerpanya. Dalam kesendiriannya, ingatlah dirinya akan nuansa putih, merah, hitam nun jauh di kampung halamannya. Sao Paolo bersedia “menebusnya” dan menjadikannya kembali sebagai “juruselamat” sepakbola.
Pindahnya “sang kaisar” ke Sao Paolo, tidak dapat disamakan atau bahkan menghasilkan prospek cerah, seperti pada kasusnya Roman Riquelme. Romi, yang kerap dijuluki The Lazy Magician, menjalani masa-masa “romantis” bersama klub lamanya Boca Juniors.
Bedanya, Romi adalah pemain siap tayang, yang memiliki kondisi fisik dan mental prima. Dan hanya karena faktor subjektifitas (baca : dislike) pelatih lamanya di Villareal, Manuel Pellegrini, Romi akhirnya “dibuang” secara halus ke tim lain.
Jikalau ada kesamaan Romi dengan Adriano, adalah bahwa keduanya mendapat sanksi sosial oleh fans dan manajemen klub. Keduanya menjadi public enemy di klubnya masing-masing. Merasa terbuang dan terhukum, keduanya mencari “tempat yang nyaman untuk berlindung”.
Dan di “rumahnya”, mereka kembali, beribu-ribu kilometer di Buenos Aires dan Sao Paolo, jauh dari gemerlapnya benua biru, kembali menata karir dengan kasih sayang dan bekapan senyum kekeluargaan, terbalut “hasrat” nikmatnya bermain sepakbola.
Source : www.ilmessaggero.it (Photo)



puitis kali bahasanya…kayak nulis surat cinta aja
wakakkakkakak….
[…] Sao Paolo, “peruntungan” baru Il Imperiatore […]
@ seno :
geggegggeegeg, lagi terpengaruh gaya penulis tempo “goenawan muhammad”, tp tetap ada nuansa sepakbolanya kan ?
[…] Beruntung bagi Adriano, ketika terbetik kabar bahwa Sao Paolo berniat meminangnya. Walau bukan klub impiannya, dirinya merasa berharga ketika mendengar bahwa masih ada klub yang menghargai jasa-jasa olah bolanya. Peruntungan baru di klub tersebut pun telah dimulai. […]