Retired, between Club and Country

jamie-carragher.JPGPribadinya kalem dan cenderung tenang. Di lapangan, kesehariannya tidak jauh berbeda. Kendati bersikap lugas dan tanpa kompromi, karakternya sangat jauh dari kesan kasar, dan masih sangat menjunjung tinggi sportivitas.

Dilandasi hal tersebut, dirinya menjadi panutan dan simbol klub. Jamie Carragher memang punya kebanggaan bermain bersama salah satu tim elit Liga Premiership, Liverpool.

Kemampuannya di klub, membuat dirinya terpanggil sebagai salah satu punggawa timnas Inggris. Meski hanya sebagai pemain cadangan, Carra, begitu dia biasa dipanggil, selalu siap sedia mengisi posisi centre back ataupun bek kanan, jika personil utama mengalami cedera ataupun sanksi bertanding.

Carra, mungkin merasa lahir di waktu yang salah. Dirinya, tidak akan pernah menjadi pilihan pertama, starting line up St George Cross. Menyingkirkan John Terry dan Rio Ferdinand, adalah hal yang nyaris musykil. Padahal jika mau diadu, saya melihat, Carra sebenarnya lebih bagus dari Ferdinand sekalipun.

Keputusasaan Carra makin terlihat ketika, dirinya berujar bahwa tidak akan mengubah keputusannya untuk pensiun dari timnas, meskipun Fabio Capello, baru saja terpilih sebagai manajer/pelatih Inggris.

Daripada terus berharap untuk mendapatkan angin baru dalam nama “obyektifitas”pemilihan pemain dari manajer terpilih, Carra lebih memilih untuk fokus di klub. Hal tersebut langsung mengingatkan saya pada Alessandro Nesta.

Pemain ini memutuskan retire dari timnas Italia, dengan alasan ingin fokus ke klubnya, AC Milan. Nesta memang tidak kecewa dengan timnas Italia, karena kejadiannya justru berbalik dengan Carra di Inggris. Nesta hampir selalu memperoleh 1 tempat di area pertahanan.

Nesta memang ingin fokus bermain untuk klubnya, dalam rangka memperoleh semua gelar yang dicita-citakannya. Torehan Piala Champion 2007 yang digenapi dengan Juara Dunia Antar Klub 2007, membuktikan bahwa pilihan hidupnya tidak salah, bersama AC Milan.

Kebetulan juga, ada seorang pemain hebat, yang baru-baru saja memutuskan pensiun total dari sepakbola. Lagi-lagi posisinya adalah centre back. Namanya, Jaap Stam. Stam mundur dari Ajax pada akhir Oktober 2007, dengan alasan kehilangan gairah dan motivasi untuk bermain sepakbola lagi.

Niat untuk mundur dari sepakbola, sebenarnya sudah dikemukakan dirinya sejak awal musim. Namun manajemen Ajax berhasil “membujuknya”, dan sukses menahannya, sampai beberapa bulan kemudian.

Ketika gairah dan motivasi sudah hilang, pensiun mungkin menjadi jawabannya. Untuk berhenti dari timnas, mungkin alasannya dapat lebih sedikit bervariasi, mulai dari kekecewaan terhadap obyektifitas pelatih, sampai kepada ingin mengejar banyak gelar bersama klub.

Kisah ini akan semakin rumit, jika kita melihat kasus Gabriel Batistuta. Batigol, eks mega bintang Fiorentina dan Argentina, memutuskan pensiun dengan skala umur. Dan ketika umurnya mencapai tingkatan tertentu, tanpa ambil pusing dirinya keluar dari hingar bingar dunia sepakbola.

Batistuta memang pemain yang unik
. Seperti yang sering dikemukakannya ketika masih aktif bermain, dirinya tidak pernah mau membicarakan atupun menonton pertandingan sepakbola, di waktu senggang. Baginya sepakbola hanyalah profesi, dan masih banyak yang dapat dibahas dalam kehidupan sehari-hari di luar hal tersebut.

Omongan Batistuta terbukti sampai sekarang. Bahkan ketika dia pensiun pun, tidak pernah terpetik kabar bahwa dirinya menjadi pelatih, komentator atau menjadi seorang manajer sepakbola.

In the end, kebebasan individu adalah dasar eksekusi pengambilan keputusan. Pensiun dari dunia sepakbola, memang tidak mudah. Harus ada alasan yang kuat untuk menjalaninya secara konsekuen. Dan satu yang pasti, tidak ada yang harus disesalkan. Karena inilah bagian dari roda kehidupan yang berputar.

Source : www.gettyimages.com (Photo)

5 comments:

  1. seno, 21. December 2007, 10:58

    kasian kali inggris… udah nyari kiper bagus susahnya minta ampuun malah di tinggal bek setangguh carra.

     
  2. Andy N. Gultom, 21. December 2007, 12:25

    @ seno :
    inggris kehilangan lagi salah satu “batu karangnya”… tp tenang aja sen, dr dulu inggris selalu menghasilkan stok bek-bek tangguh lainnya ko….

     
  3. seno, 21. December 2007, 16:45

    @andy
    iya seh ndy tp kok aku ngeliatnya bek2 muda yg sekarang ga ada yg punya mental dan skill kayak carra. yg paling baru tuh kayaknya orang pada ngomongin anton ferdinand bakal jadi bek masa depan inggris dan menurut aku dia itu terlalu ngefans ama rio ferdinand (abang nya sendiri) mulai dari gaya rambut ampe gaya maen juga di tiru abis dan aku termasuk orang yg ga terlalu suka ama gaya permainan si rio dan juga anton (tenang tp kadang2 over confident dan sering buat blunder) carra oh carra…

    kira2 si carra ini punya anak ga yaa?? sapa tau bisa jadi bek handal juga kayak bapaknya (kayak kata pepatah jawa like father like son)

     
  4. Andy N. Gultom, 22. December 2007, 9:43

    @ seno :
    kayanya punya deh, cuma karena ibunya punya darah Belanda, anaknya Carra, lebih memilih main bersama tim oranye (heheheehe, joke githu loh)

    saya kurang tahu sen, carra punya anak atau belum, cuma yg jelas, salah satu bek terhebat liverpool, sudah retire dari timnas, kita tunggu binaan The Kop baru lainnya.

     
  5. seno, 22. December 2007, 11:48

    @andy
    wah…. sadis kaw ndy, semuanya mau kaw kumpulin jadi pemain belanda… emang dasar penjajah
    koverdome… inlander (eh bener ga sih tulisannya???)
    hahhahahhahahhahaha

     

Write a comment: