Benny Dolo dan Ivan Kolev ? Sama Saja…
Rapor merah sepakbola nasional kembali terukir di pentas Sea Games Thailand 2007 yang baru saja usai berlangsung. Timas Indonesia asuhan Ivan Kolev, mengalami penurunan prestasi yang amat sangat (kalau tidak boleh dapat dikatakan memalukan).
Boro-boro meraih medali emas, lha wong lolos dari grupnya saja tidak mampu. Thailand dan negeri liliput Myanmar, memberi bukti, bahwa Indonesia sudah tidak punya “gigi” dalam percaturan sepakbola Asia Tenggara.
Prihatin, itu sudah pasti, namun tiada gunanya lagi berkeluh kesah, aksi nyata jauh diperlukan, daripada menangisi apa yang sudah terjadi. Seperti biasanya, mari kita mencari “kambing hitam” siapa yang patut bertanggung jawab atas kejadian ini. Dari pelbagai opini di aneka media, figur Ivan Kolev, paling mendapat sorotan. Hal yang wajar, mengingat posisinya sebagai pelatih timnas.
Namun perlu ditelaah lebih dalam, apakah dengan selalu mempermasalahkan pelatih, akan menjawab semua pertanyaan mengenai kualitas buruk timnas ? Apakah dengan (lagi-lagi) menggantinya dengan pelatih lain, akan menyelesaikan “paceklik gelar” ? Apakah dengan mengangkat seorang Benny Dolo ataupun Rahmad Darmawan, timnas akan melangkah lebih jauh ?
Jawabannya, bisa Ya dan bisa Tidak. Saya sendiri akan menjawab TIDAK !!! Tidak ada asap, kalau tidak ada api. Mengganti pelatih hanyalah langkah kecil dalam mengobati “sakitnya” prestasi sepakbola Indonesia. Sedari dulu saya bertanya, kenapa bangsa ini, maunya sukses secara instan, dengan main pecat pelatih, manakala dia gagal, tanpa diberikan keleluasaan waktu.
Masih ingatkah anda, masa-masa sekolah ataupun kuliah dulu ? Ketika kita diajarkan oleh guru dan dosen, mengenai pentingnya suatu proses pengerjaan suatu masalah ? Ketika kita di waktu ujian, dididik untuk mementingkan “caranya” bukan “hasil akhir”.
Tahukah anda intisari dari wacana tersebut ? Bahwa dengan cara yang baik, kita akan memiliki basic/pondasi yang kuat dalam hal apapun. Bahwa kita tidak dapat digoyang dengan hambatan dan jebakan. Dan yang terpenting adalah bahwa jika kita telah mengenyam cara yang benar, niscaya dengan sedikit koreksi serta perbaikan, mau tidak mau, pastilah kita akan memetik hasil yang baik pula.
Yah, omongan saya mungkin sepertinya cuma teori belaka, dan saya tidak menyalahkan anda, jika berpikiran seperti itu. Barangkali saya perlu figur yang hebat, untuk memuluskan pendapat saya ini. Untungnya ada satu, namanya Benny Dolo.
Sudah tak terhitung, berapa kali Benny Dolo (Bendol), berujar bahwa masalah utama tim nasional Indonesia, bukanlah pelatih, melainkan tidak adanya blueprint yang jelas mengenai sepakbola nasional. Drawdownnya, mulai dari pembinaan pemain yang berjenjang, jadwal liga yang tidak bentrok dengan pelatnas, ataupun koordinasi dengan klub-klub agar mampu bekerjasama dalam menciptakan tim Indonesia yang mumpuni.
Jadi cukup jelas kan ? bahwa mengganti pelatih merupakan cara-cara lama PSSI, yang hanya ingin sukses instan, tanpa memperhatikan esensi dari sedikit demi sedikit, lama-lama menjadi bukit. Maaf bapak-bapak petinggi PSSI, kalau mau sukses instan, silahkan ikut kontes-kontes Idol aja di TV, jangan kotori sepakbolaku…..
Source : www.afcasiancup.com (Photo)



Untuk memajukan sepak bola Indonesia , kita harus memulai dengan sistem profesional, yaitu : 1. Managemen kepengurusan harus ditata secara profesional, 2. Strategy pembinaan terhadap para pemain sepak bola , dimulai dari segi tekhnik dasar harus dikuasai, segi skill individu, segi kerjasama Tim, segi strategy menyerang dan bertahan, segi improvisasi secara keseluruhan baik dari Tim maupun individu. segi menciptakan persepakbolaan Indonesia dengan mengimport pemain asing yang berkualitas setara dengan Liga Utama Inggris, Belanda, Argentina, Brasil, Jerman, Italia, Perancis , memang cukup besar budget yang dikeluarkan untuk membeli pemain dan pelatih kaliber dunia seperti : sekelas Kaka , Sir Alex Ferguson Pelatih dll. 3. Modal / Budget harus berani dikeluarkan dari sponsor ataupun pemerintah.
Demikianlah hanya tiga cara untuk memajukan persepakbolaan Indonesia.
dari Pemerhati Sepakbola Indonesia
Rantas
Timnas itu gambaran liga, bagaimana liga kita bermain ya begitu juga timnasnya. Manajemen sepakbola kita yang musti dibenerin dulu, jangan pikirin soal teknis/skill dulu, itu sih akan berjalan sendiri kalo infrastruktur (manajemen) sepakbola di sini bener. Sayangnya, manajemen bola kita memang sengaja dirusak PSSI
“Seperti biasanya, mari kita mencari “kambing hitam” siapa yang patut bertanggung jawab atas kejadian ini”
jawabannya hanya ada satu : NURDIN HALID
pemimpin adalah imam, selama imam-nya msh ga bener, yg dipimpin juga ga akan bener
niat yg baik, untuk tujuan yg baik, harus dilaksanakan dgn cara yg baik pula
@ hedi :
thx atas inputnya bung hedi….liga kita memang masih semrawut, hanya labelnya saja yang SUPER BIG MATCH…..hehhehhehehheh
Saya cukup setuju dengan Liga Indonesia sekarang yang mana tim yg masuk 9 besar akan masuk ke liga super tahun depan dan dari yang pernah saya baca di Bola kalo ndak salah syaratnya tim anggota liga super harus punya standar tertentu berkaitan dengan fasilitas lapangan, dll.
Suatu liga tidak perlu beranggotakan banyak tim seperti sekarang, total 36 tim divisi utama. Tidak masalah jika hanya 12 tetapi tim tersebut sangat siap dan mandiri dalam hal dana. komitmen, dan visi pembinaan yang bagus. Dan hal ini harus benar2 dikontrol PSSI sebagai lembaga tertinggi persepakbolaan nasional. Jika pemain dibina secara profesional dan ditempa di liga yang profesional pula, yakinlah timnas Indonesia bisa berbicara banyak di Asia.
Bisa gak nih tim Bolanova mencari info lebih jauh ttg syarat tim anggota liga super?
Pelatih Benny Dollo yg terhormat……..
saya ingin menanyakan,
Konsep permainan ap yang digunakan saat melawan Thailand?
Saya kecewa dengan konsep yang pelatih terapkan…….