Nerrazuri berkibar di Milan
Arak lama dalam kemasan baru ala Milan, lagi-lagi tidak mempan dalam menghadapi vitalitas Internazionale. Milan kembali kalah 1-2, dengan “cara-cara” yang mirip seperti pada tahun lalu.
Setelah unggul terlebih dahulu, Il Diavolo Rosso, malah tersusul oleh tim sekotanya tersebut. Kunci kemenangan Inter, seperti sudah diramalkan BOLANOVA dalam artikel Preview Inter VS Milan, ada pada sektor pertahanan.
Ketika pemain bertahan Inter, bermain nyaris sempurna. Dan sebaliknya, bek-bek Milan, kalang kabut menghadapi badai serangan yang bertubi-tubi.
Andrea Pirlo memulai pertandingan dengan sempurna, ketika spesialisasinya yaitu tendangan bebas, pada menit ke 18, tidak mampu diantisipasi pagar hidup Inter maupun kiper Julio Cesar. Melengkung dan bergulir keras ke sisi kanan gawang La Beneamata, 1-0.
Setelah gol pertama ini, sifat realistis Carlo Ancelotti, kembali muncul. Carletto menginstruksikan trio gelandang Milan, Ambrosini, Gatusso dan Pirlo, bermain lebih safe dan agak ke belakang. Suatu komando yang kemudian membawa Milan, terus menerus dihujani tekanan-tekanan berbahaya oleh lawannya.
Masih untung Milan beroleh beberapa peluang emas, meskipun hanya melalui kejeniusan individu seorang pemain terbaik dunia 2007 bernama Kaka. Kaka nyaris “unstoppable” di berbagai sisi lapangan, hanya pelanggaran saja yang mampu menhambatnya.
Serangan berdatangan silih berganti dari kedua tim. Namun lama kelamaan, Milan “menyerah”. Bek Milan kembali melakukan “arisan” di kotak penaltinya sendiri. Kali ini untuk kedua kalinya dalam 1 minggu. “Arisan” pertama sendiri dilakukan Milan pada gol penyama kedudukan Boca Juniors pada partai final Kejuaraan Dunia Antar Klub.
Kali ini, “arisan” dilakukan 3 pemain bertahan Milan, plus seorang kiper, yang tidak mampu menahan laju striker Julio Cruz, untuk melesakkan tembakan akurat ke tiang dekat gawang, 1-1. Gol ini, nyata-nyata meruntuhkan semangat personil Merah-Hitam, yang nantinya berlanjut terus setelah turun minum.
Pada babak kedua, Inter Milan, langsung menggebrak dengan spirit dan hasrat menggapai kemenangan. Pressing ketat terhadap Andrea Pirlo, benar-benar merusak aliran distribusi bola AC Milan. Hampir setiap kali, Pirlo membawa bola, dirinya selalu ditempel oleh pemain terdekat, baik itu Cambiasso, Chivu ataupun pemain lainnya.
Inter sendiri, bermain “masuk akal” dengan memanfaatkan umpan pendek satu sentuhan yang cepat. Sadar bahwa dirinya tidak punya playmaker andal, Nerrazuri menampilkan teamwork yang prima dan kokoh. Bola terus dialirkan secara bergelombang, dan ketika kehilangan bola, pressing ketat langsung diterapkan, mulai dari ¾ lapangan.
Sedangkan Milan semakin larut dalam chaos. Kebingungan tanpa dirigen permainan, Pirlo yang mati kutu, bek-bek Milan malah bermain dengan umpan direct dari belakang, ataupun crossing langsung ke kotak penalti. Apa sanggupnya Gilardino, menghadapi 4 bek kokoh Inter ? jelas itu sebuah pekerjaan yang sia-sia.
“Ketidakwarasan” Milan mencapai puncaknya ketika Cambiasso sendirian di tengah, melepaskan tendangan dari luar kotak penalti, tanpa dijaga/ditutup oleh seorang gelandang bertahan Il Meravigliosi. Ditambah blunder Dida yang salah dalam mengantisipasi, lengkap sudah penderitaan Milan, 1-2.
Dalam kondisi tertinggal, Milan makin tidak dapat mengatur irama, berbagai turnover dilakukannya, seperti kesalahan dalam mengumpan, maupun “alpa” dalam mengeksploitasi bakat hebat Kaka di sisi kanan.
Sang bintang Brasil tersebut, memang nyaris jadi “pengangguran” di babak kedua. Dirinya tidak mendapat pasokan yang cukup dari lini tengah AC Milan.
Peluang emas terakhir yang diperoleh Milan, adalah ketika crossing Serginho ke kotak penalti, disambut oleh Ambrosini yang unmarked, namun gelandang pirang tersebut telat bereaksi dalam eksekusi, walhasil bola berhasil diamankan.
Sampai akhir pertandingan, Milan tetap megap-megap dan “didikte” oleh Internazionale. Permainan bitu hitam kali ini, memang sangat impresif, mereka seakan ingin menunjukkan kepada dunia, bahwa spirit dan vitalitas dapat mengalahkan kualitas teknik sekalipun.
Jika terus mempertahankan performa seperti ini, Inter punya kans yang bagus dalam mempertahankan Scudetto ataupun melangkah lebih jauh di Liga Champion.
Source : www.le-football-2007.skyrock.com (Photo)



[…] tidak ada Nesta, mungkin skor derby Seri A terpanas hingga saat ini bukan 2-1 untuk kemenangan Inter. Bisa jadi 3 atau lebih untuk kemenangan Inter. […]