Pelajaran Dari Derby Inter Milan vs AC Milan
1. Trik mematahkan kaki lawan. Ternyata, untuk mematahkan kaki lawan, tidak diperlukan tackling yang keras. Cukup tiru apa yang dilakukan Kaka terhadap Walter Samuel. Saat counter attack, lakukan gerakan menipu sesering mungkin diiringi dribbling bola yang cepat. Analogi yang tepat adalah seperti mengendarai motor sambil zig-zag. Alhasil, sang penjaga akan selalu memaksakan pemindahan tumpuan kaki yang bisa berakibat fatal. Contoh sederhana ini sering kita temui juga di NBA yang biasa disebut Cross Over dribbling. Cross Over dribbling adalah gerakan perpindahan arah dribbling yang dilakukan penyerang untuk menipu penjaga lalu menerobos masuk ke jantung pertahanan. Kadang-kadang, penjaga yang melayani Cross Over dribbling bisa mengalami patah engkel. Sehingga, pelaku dari Cross Over dribbling biasa disebut Ankle Breaker. Master dari Cross Over dribbling atau Ankle Breaker hingga saat ini adalah Penny Hardaway dan Allan Iverson.
2. Mencetak gol dengan 10 orang. Ternyata, untuk mencetak gol, bisa dilakukan dengan 10 orang. Tanyakanlah kepada pemain Inter Milan. Saat Walter Samuel harus mengerang kesakitan dipinggir lapangan, Inter mampu menghasilkan gol. Walaupun gol yang dicetak adalah buah skill individu cemerlang Julio Cruz.

3. Pastikan untuk melakukan peregangan melebihi kebiasaan. Ketika memimpin sebuah pertandingan penting, lakukan peregangan lebih dari waktu yang biasanya dijalani. Ya, pesan untuk wasit yang memimpin pertandingan penting, apalagi pertandingan derby AC Milan vs Inter Milan, perbanyaklah waktu peregangan sebelum pertandingan. Hal ini menyangkut pertandingan yang berjalan dengan cepat dan tensi yang tinggi. Badan kurang regang ditambah pikiran yang tegang, otomatis, keram betis tidak bisa dihindari.
4. Tidak ada alasan dimakan umur. Terkadang, ketika seseorang bermain bola atau futsal, selalu mengeluh kalau kalah berlari dengan berkata, "Duh, dah tua nih. Dah dimakan umur." Padahal umur masih kepala 2. Hal ini bisa dilihat pada Zanetti yang sudah berumur 34 tahun. Ketika menjaga Kaka yang masih berusia 25 tahun, larinya pun tidak kalah kencang. Luar biasa. Begitu juga dengan Maldini. Meski sudah berumur 39 tahun, permainannya masih seperti pemain dibawah 30 tahun. Berani membantu penyerangan.
***
foto: Soccernet


