Pepe “Elemen penyempurna Real Madrid”
1 pertandingan tidaklah cukup untuk menilai kapasitas seorang pemain sepakbola. Namun jika pertandingan tersebut adalah duel klasik tim besar, yang sarat muatan gengsi dan politis, pastilah bobotnya tidak sama.
Dan itulah yang terjadi pada duel Barcelona-Real Madrid minggu lalu, ketika semua pihak yang meragukan kemampuan pemain bernomor punggung 3 di tim El Real, perlu untuk mengubah pandangannya tersebut.
Pepe, adalah nama panggilan sang pemain. Nama panjangnya justru jarang dikenal orang, yaitu Kepler Laveran Lima Ferreira. Memulai karir pada tahun 2000-2001 sebagai pesepakbola muda di Corinthians, Brasil, Pepe justru memulai trek sebagai pemain profesional di CS Maritimo Portugal (2001-2004).
Kemampuannya menggalang pertahanan dengan postur tubuh yang prima (187 cm), membuatnya disegani di Liga Portugal. Hal ini pula yang mendorong FC Porto mencomotnya, terutama untuk memback-up atau bahkan meregenerasi bek-bek tengahnya, pasca semakin menuanya Jorge Costa.
Porto (2004-2007), semakin melejitkan namanya dengan 84 kali tampil dan torehan 10 gol, cukup produktif untuk ukuran seorang pemain bertahan. Pepe merupakan satu dari sedikit pemain belakang di dunia yang mampu bermain sebagai stopper dan sweeper.
Pengakuan lebih lanjut datang dari Real Madrid, yang pada awal musim 2007-2008, mengibaskan tawaran 30 juta euro, untuk memboyongnya ke Santiago Barnebeu. Gayung pun bersambut, Pepe menjadi salah satu armada Los Galacticos, bersama-sama dengan Fabio Cannavaro dan Christoph Metzelder.
Banyak yang sangsi dengan kemampuannya, dan tawaran sebesar itu dinilai “terlalu berlebihan” untuk bek kelas “kampung” dari liga antah berantah di Eropa. Apalagi siapapun tahu, bahwa jika Real Madrid ingin mengambil seorang pemain, pasti klub pemilik atau agen pemain, langsung menaikkan harganya secara sepihak. Sehingga kesahihan hebatnya Pepe, menjadi tidak transparan dan belum terbuktikan.
Hal inilah yang akhirnya dituntaskan oleh Pepe pada lawatannya ke kandang Barcelona, Nou Camp. Dirinya bermain sangat taktis dan prima. Kuat di udara, dan pengambilan posisi, baik itu zona maupun man to man marking, sukses dilakoninya selama 90 menit. Nilai 9 pun layak diberikan, sekaligus sebagai man of the match dalam game tersebut.
Sejatinya Pepe adalah orang Brasil, namun keputusan besar dibuat olehnya ketika memutuskan mengenakan seragam timnas Portugal untuk pertama kalinya pada Agustus 2007. Dan yang beruntung tentunya adalah Luiz Felipe Scolari, karena tidak perlu khawatir lagi akan tersedianya pemain muda di sektor belakang, pada tim yang lebih banyak menghasilkan bakat-bakat gelandang serang kualitas satu.
Menurut BOLANOVA, butuh waktu bagi Pepe untuk melegalisasi statusnya sebagai bek tangguh. Usianya sendiri baru 24 tahun, dirinya punya banyak kesempatan untuk berkembang. Untuk sementara ini, namanya sedikit “terkerek” karena bermain untuk klub setenar Real Madrid.
Tapi cepat atau lambat, dirinya harus mampu menemukan jati diri khasnya sebagai seorang centre back. Untungnya (lagi) di timnas Seleccao, Pepe nyaris tanpa pesaing berarti, artinya beliau punya prospek untuk belajar banyak hal, sekaligus mencoba untuk menyamai atau bahkan melebihi, Fernando Couto, bek tertangguh yang pernah dimiliki oleh negara Portugal.
Source : www.goal.com (Photo)


