Peraturan Baru FIFA tentang Ketinggian Venue

main-bola-di-ketinggian.jpgAltitude, ataupun ketinggian suatu tempat di atas permukaan air laut, secara umum merupakan kondisi given, yang tidak dapat diganggu gugat oleh siapapun. Kondisi geografis seperti ini merupakan takdir alam yang telah terbentuk melalui proses panjang yang tak terbayangkan.

Dalam sepakbola, kondisi alam seperti ini, terkadang dapat dijadikan salah satu sarana untuk memberikan keuntungan signifikan bagi tim tuan rumah. Seperti kata pepatah, jago kandang, atau istilah lainnya, sudah mengerti luar kepala kondisi medan.

Tanyakan saja kepada Bolivia, yang terkenal angker di Stadion La Paz (3.600 m), di mana para pemain lawan yang dijamu, akan tercekat dan kesulitan bernafas, sebab tidak terbiasa bermain di ketinggian.

Atau untuk kasus tim lokal, kita dapat melihat ke Persiwa Wamena, yang melejit di Liga Djarum musim ini, 2007/2008. Catat angka-angka ini, ketika bermain di kandangnya, Persiwa mencatatkan hasil 14 kali kemenangan dengan hanya 1 kali seri dalam 15 pertandingan. Tabungan golnya juga sangat jomplang, dengan 36 memasukkan dan kebobolan 7 gol saja.

Membandingkan La Paz dengan Wamena, mungkin kedengarannya seperti bumi dan langit. Bahwa memang benar, tidak semirip yang kita sangka, namun persamaannya, seseorang yang besar dan lahir di daerah dataran tinggi, pasti punya kondisi fisik yang berbeda dengan orang-orang yang terlahir di dataran rendah atau daerah berketinggian normal lainnya.

Kondisi fisik di sini mencakup daya serap oksigen ke dalam darah, yang nantinya berkaitan dengan stamina maupun aklimatisasi tubuh. Artinya pemain tamu akan kalah “nafas” dengan pemain yang terbiasa bermain di dataran tinggi. Hal ini memang tidak mutlak 100 persen. Coba saja tandingkan timnas Argentina atau Brasil dengan Bolivia di La Paz-nya. Saya tetap yakin ko, tuan rumah bakal kalah.

Namun paling tidak, secara umum, hal ini merupakan “unfair advantage” yang perlu untuk dikaji ulang dan “diluruskan” oleh pihak-pihak yang berwenang. Setidaknya oleh FIFA, induk organisasi sepakbola dunia. Wacana baru tentang ketinggian venue pertandingan sepakbola, mendapat perhatian khusus oleh ketuanya, Sepp Blatter pasca World Club Cup di Jepang.

Di sana beliau mengatakan, bahwa berdasarkan keputusan suatu komite di dalam FIFA, pertandingan sepakbola tidak boleh dilakukan di tempat berketinggian 2,750 m di atas permukaan air laut, tanpa waktu aklimatisasi yang cukup kepada tim tamu.

Beberapa waktu kemudian, FIFA kemudian merevisinya, menjadi maksimum 3,000 m, hal ini disebabkan beberapa stadion di kawasan Amerika Selatan yang memang berada di dataran tinggi. Bahkan FIFA juga membuat privillege khusus bagi La Paz, Bolivia, yang memiliki ketinggian 3,600 m.

Dari keputusan-keputusan tersebut, kita harus menunjukkan apresiasi yang baik kepada FIFA, karena organisasi tersebut, terus berusaha menciptakan kondusifitas dalam hal apapun, untuk semakin membuat sepakbola sebagai olahraga yang fair, menarik, maju dan semakin berkembang.

Meski demikian, pekerjaan rumah Sepp Blatter dan kawan-kawan masih cukup banyak. Ada baiknya, jika mereka membuat rincian waktu aklimatisasi yang seharusnya diberikan kepada tim tamu, jika bermain di kawasan berketinggian 3,000 meter. Selain itu FIFA juga harus melarang pembangunan stadion baru pada dataran yang lebih dari 3,000 meter, per Januari 2008.

Niscaya dengan 2 usulan BOLANOVA di atas, tekad FIFA untuk mengurangi unfair advantage akibat ketinggian suatu tempat, tidak dinilai sebagai aksi aji mumpung belaka. Sehingga semua pihak dapat secara ikhlas menerima aturan baru tersebut.

Source : www.reuters.com (Photo)

2 comments:

  1. Hedi, 30. December 2007, 11:44

    Sewaktu FIFA bikin aturan, konfederasi Amerika Selatan protes karena memang sudah “dari sononya” dataran mereka high attitude. Sulit sih…mau ga mau harus menerima, kecuali ada dana besar buat bikin stadion layak di bawah dataran ekstrim itu, minimal 1000-1500 meter di negara-negara seperti Ekuador, Kolombia dan Bolivia. Tapi khusus Kolombia, mayoritas daratannya memang di atas 1000 meter.

    Belum lama ini ada hasil studi dari Inggris yang meneliti 1000 lebih pertandingan di dataran tinggi. Bahwa tim yg terbiasa main di dataran tinggi punya peluang menang lebih besar dari tim yang terbiasa main di bawah 1000 meter. Jadi, misalnya Brasil main di La Paz dengan tim terkuat dan Bolivia main dengan tim terjelek, tetap Bolivia yg menang… :D

     
  2. Andy N. Gultom, 30. December 2007, 12:31

    @ hedi :
    Thx atas infonya bos, btw bisa dicantumkan linknya yang mengenai hasil studi tersebut, supaya pembaca BOLANOVA lainnya bisa ikutan mafhum ?

    Soal Bolivia menang lawan Brasil ? wah saya ko masih ga yakin yah mas…hehehhehheheh :)

     

Write a comment: