Amerika Latin, Patron Pertahanan FC Hollywood
Winter Break yang berlaku bagi semua partisipan Bundesliga, ternyata tidak cukup “dingin” di kota Munich. Sang pemimpin klasemen Bundesliga dan manajemennya meutuskan untuk tetap “panas” di dalam dan di luar lapangan.
Sesaat sebelum libur, Bayern Munich yang lazim dijuluki FC Hollywood, masih sempat-sempatnya mengambil “tukang jagal muda” dari Brasil. Namanya, Breno, seorang sweeper berusia 18 tahun asal klub Sao Paolo.
Breno, yang digadang-gadang menjadi bek muda Brasil paling berbakat di dunia, diambil dengan biaya transfer mencapai 12,3 juta Euro. Suatu nilai yang cukup tinggi, bahkan lebih mahal dari harga seorang macan gol Miroslav Klose, yang juga diambil Muenchen dari Werder Bremen, senilai 12 juta Euro.
Fenomena transfer gila-gilaan, merupakan suatu hal yang dianggap perlu oleh Bayern. Setelah “kegagalan tak termaafkan” di musim lalu, yang membuat mereka tidak lolos ke Liga Champions (untuk pertama kalinya dalam 10 tahun terakhir), memaksa pihak manajemen untuk “menghambur-hamburkan” uang di bursa transfer.
Gelontoran total 84.5 juta Euro dibelanjakan, guna memboyong Franck Ribery, Luca Toni, Hamit Altintop, Marcell Janssen dan terakhir adalah Breno. Harapannya cuma satu, membawa kembali Bayern ke tangga tertinggi Bundesliga. Sejauh ini pencapaian tersebut cukup berhasil, Muenchen memuncaki klasemen tengah tahun, dengan 36 angka, hasil perolehan 10 kali kemenangan, 6 seri dan 1 kali kalah.
Namun hal yang paling mencolok adalah selisih gol mereka dengan 31 (memasukkan) berbanding 8 (kemasukan). Dengan angka kebobolan di bawah 2 digit, merupakan rekor tersendiri bagi Muenchen. Bahkan Werder Bremen sekalipun (runner up klasemen) sudah kebobolan 24 gol, alias 3 kali lipatnya.
Apa resep tim asuhan Ottmar Hitzfeld ini ? Jawabannya adalah karena Muenchen sekarang sudah berkiblat ke negara latin dalam urusan pertahanan.
Jika dulu tim-tim di dunia (bahkan termasuk klub-klub lokal Indonesia) selalu mencari pemain-pemain dari benua latin, untuk menjadi motor lapangan tengah ataupun sektor depan, kali ini tidak lagi begitu ceritanya. Setidaknya menurut tim terbesar di negara Jerman, FC Bayern, yang mengambil individu latin sebagai kunci utama di sektor belakang.
Muenchen menemukan kestabilan pertahanan, dengan menduetkan Lucio (Brasil) dan Martin Demichelis (Argentina). Satu hal yang jarang terjadi, jika mereka memasang duet Jerapah dari Eropa, Van Buyten (Belgia) dan Valerien Ismael (Prancis). Kelebihan bek latin dalam hal kecepatan dan improvisasi serangan, membuat Muenchen tampak lebih kuat, baik dalam kerjasama antar lini, maupun dalam melakukan counter attack.
Memang ada sedikit X Factor dalam pemilihan duet latin tersebut. Ottmar Hitzfeld, sang “koki” Munich, dikenal punya “kesukaan berlebih” terhadap stopper-stopper Latinos. Ingat saja nama-nama Marcio Santos dan Julio Cesar, yang dulu diorbitkan olehnya semasa melatih Borussia Dortmund. Hitzfeld sepertinya lebih suka karakter bek tengah latin, ataupun bek-bek lokal asli Jerman, daripada bek-bek Eropa. Musim ini pun beliau tetap mengatur minutes play para punggawa lokal macam Christian Lell, Andreas Ottl dan Marcell Jansen, dalam formasi back four.
Adalah karakter pejuang khas Bavaria, maupun kombinasi kecepatan-skill individu asal Brasil, yang dinilai Hitzfeld jauh lebih efektif daripada sekedar mengambil bek Eropa dengan harga selangit. Dalam benaknya, bek Eropa memang hebat secara taktik permainan dan zona marking, namun mereka terlalu statis dan tidak cocok dengan pola permainan satu lawan satu khas Bundesliga.
Haram kisahnya bagi Hitzfeld, untuk “mengkhianati” prinsip utama pertahanan staying power ala Jerman. Di mana man to man marking harus selalu diagungkan, karena itulah dunia pernah sempat melihat Guido Buchwald, Klaus Augenthaler, Juergen Kohler dan Mathias Sammer. Dan dengan alasan tersebut dirinya melihat bahwa kiblat Jerman senantiasa perlu ditegakkan, kalaupun tidak ada tersedia SDM-nya, maka tengoklah ke ke negara latin.



sygnya Hitzfeld musim dpn bakal meninggalkan Muenchen, manajer baru biasanya “bawa” pemain baru yg dirasa cocok.. moga2 aja pondasi pemain yg dibangun Hitzfeld ini bisa berbicara banyak di liga champions musim depan.. untuk ajang domestik & piala UEFA mgkn bakal jadi miliknya Muenchen taun ini….
Ditinggal Hitzfeld gw berharap The One and The Only Klinsmann yg bakal ngegantiinnya or The Special One (Versi Gw) Arsene Wenger, dijamin Munchen makin atraktif dan bertenaga, karena dua-2nya Doyan daun muda
kalau urusan bertahan, pertahanan timnas jerman dan tim bundesliga memang sudah terkenal dari dulu. yang pasti tacklingnya itu ga ada yang seakurat dan seberani defender di bundesliga. yang jadi masalah sampai sekarang, striker yang orang jerman asli sedikit banget yang berkualitas.
Untuk urusan man to man marking, saya lebih setuju untuk dimasukkan nama-nama seperti Thomas Helmer dan Markus Babel daripada Klaus Augenthaler dan Mathias Sammer. Augie dan Sammer adalah pemain sweeper dimana tugasnya adalah second playmaker (Jerman ketika itu sedang getol-getolnya pakai formasi 3-5-2). Seorang sweeper bermain zona defense karena dialah orang terakhir sebelum keeper.
Periode 1993 - 2002 adalah periode kelam buat Jerman karena miskin sekali pemain muda dan ada kecenderungan klub2 bundesliga lebih senang memakai pemain asing. Mungkin hanya Ballack dan Deisler sebagai the rising star era itu.
Pasca 2002 mulailah bermunculan pemain2 muda Jerman, hasilnya adalah WC’06.
Untuk Bayern Munchen, saya tetap menanti kemunculan seorang Toni Kroose, playmaker muda yg mungkin masih disimpan Hitzfield. Mudah2an dengan kehadiran Klinsi dia akan dipercaya lebih.