AS Monaco, Potret Miskin Simpati
Monaco adalah sebuah negara liliput, yang berada di dalam negara Prancis. Kondisi geografis yang mirip-mirip sama dengan Vatikan, yang terletak di dalam teritori Italia.
Negara ini tersohor dengan casino-casino, kehidupan jetset ataupun pagelaran Formula One yang menggunakan jalan-jalan raya di sana, terangkai dalam nama Sirkuit Monte Carlo.
Sedangkan dalam cabang olahraga lain, yaitu sepakbola, mereka memiliki AS Monaco. Klub bagus, yang tidak pernah “terlalu bagus” bagi masyarakat Perancis sendiri.
Memang harus diakui, sepakbola yang sebenarnya “milik masyarakat menengah ke bawah”, tidak pernah benar-benar popular di Monaco. Wajar saja, karena mayoritas penduduk Monaco, masuk dalam golongan ekonomi menengah ke atas, yang lebih suka olahraga lainnya.
Akibatnya, Monaco tidak mendapatkan dukungan yang signifikan. Coba bandingkan dengan Marseille ataupun Paris St Germain, yang meski prestasi liganya morat-marit, keduanya memiliki suporter fanatik dari berbagai kalangan.
Sungguh menyedihkan, bagi klub yang pernah menyediakan sekelompok alumnus kelas 1 Les Bleus dalam 1 generasi. Catat nama-nama berikut, Fabien Barthez, Lilian Thuram, Emmanuel Petit, Thierry Henry, David Trezeguet, Franck Sauzee, dan Slyvain Legwinski, mereka semua adalah hasil godokan “kawah candradimuka”, akademi sepakbola Monaco.
Monaco tak pernah memperoleh simpati dari rakyat Perancis. Di kala mereka berjaya di Le Championnat saja, angka rataan penonton stadion mereka di Stade Louis II, hanya berkutat di belasan ribu (kapasitas maksimum 18.500). Apalagi di kompetisi sekarang ?
Jika kita mau bercermin, kondisi AS Monaco, mirip-mirip dengan yang dialami oleh Mastrans Bandung Raya, beberapa tahun silam. Pada saat awal-awal peleburan Kompetisi Perserikatan dan Galatama, menjadi Liga Indonesia, MBR melejit menjadi tim elit, dengan dukungan manajer bertangan dingin Tri Goestoro dan duet striker Peri Sandria-Dejan Gluscevic.
MBR memang bukan sekedar numpang lewat, gelar Juara Liga Indonesia berhasil disabetnya. Ironisnya pada akhirnya MBR bubar. Apa pasal ? MBR tidak pernah mendapat simpati masyarakat Bandung apalagi Jawa Barat. Kerap dicaci dan dihina, akibat “mengungguli” prestasi tim Persib, yang lebih punya ikatan historis dengan barudak Parahiyangan.
Berprestasi tinggi, pun tak cukup untuk merebut simpati. Manajemen MBR mulai patah arang dan kehilangan semangat. Buat apa ada klub sepakbola, namun tidak punya fans yang “mengakar” ? Lebih baik bubar saja, dan jalan tersebut akhirnya dipilih.
Kembali ke Monaco, yang saat ini menghuni papan tengah klasemen Le Championnat Prancis. Perlu ada langkah yang penting dilakukan dalam merevolusi kondisi saat ini. Tidak, kami tidak menyarankan agar Monaco bubar. Tetapi kami menngajukan usulan tidak populis, yang mungkin tidak akan mau dilakukan oleh Chairman Michel Pastor.
Pemindahan home base, dari Monaco ke daerah lain di Prancis, adalah usulan dari saya pribadi. Suatu langkah tidak populis, yang sifatnya sangat berisiko. Tetapi menilik kepentingan bahwa Les Monegasques bukan mengatasnamakan suatu negara, melainkan badan hukum klub sepakbola, saya pikir usulan ini patut dicermati.
Memaksakan Monaco untuk tetap bertahan di homebasenya sekarang, adalah cari mati. Tinggal menunggu waktunya saja, sampai suatu saat bernasib seperti Bandung Raya. Sudah bukan pada tempatnya lagi, ketika kita dibutakan oleh fanatisme sempit kedaerahan, apalagi bagi negara yang sudah sangat maju kehidupan sosial ekonominya seperti Monaco. Ketika sepakbola sudah bicara, apa yang anda lihat, apa yang anda nikmati dan tekuni, niscaya lama-lama akan anda cintai.



[…] AS Monaco, Potret Miskin Simpati […]
AS Monaco mungkin perlu maen ke Jaktim, Solo, hingga Palembang untuk belajar dari “moyangnya” Sriwijaya FC yaitu Persijatim, hehehe…. tapi saya belum pernah dengar (atau mgkn lupa) ada klub Eropa pindah home-base karena minimnya suporter. Atau mgkn karena lokasinya di Prancis ya? Kalo di Inggris, divisi League Two (kasta ke empat) pun rata-rata ditonton lima-selupuh ribu penonton, bahkan Leeds United yg ada di League One (kasta ke tiga) rata-rata penonton home-nya musim ini hampir 30ribu, melebihi rataan penonton beberapa klub Premiership!! Tapi ya kembali lagi ke atas, “kultur” sepakbola di Monako kurang greget….
@ zoel :
hehehehehe…studi bandingnya ga kejauhan tuh….yah mungkin AS Monaco itu cuma jadi “kesayangannya” pangeran albert….sehingga kayanya susah juga utk pindah homebase….