Jeritan Hati seorang fans bola
Dulu saya penggemar MU, ketika Ferguson di awal karier, ketika kipernya masih seorang Skotlandia bernama Jim Leighton. Bertambah kagum, ketika MU membeli Cantona dari Leeds. Makin bosan dan luntur ketika mereka terlalu mendominasi liga, dan membuat tim lain tampak kecil.
Dulu saya pengagum Andrei Kanchelskis, sayap overspeed dari Rusia. Sampai suatu hari, beliau “dibuang” ke Everton, dan menjadi terlupakan karena pertandingannya jarang disiarkan di stasiun TV kita.
Dulu saya senang Kurniawan Dwi Julianto. Harapan seluruh bangsa Indonesia lewat tim Primavera. Menjadi primadona kaum Hawa tanah Jakarta. Sebelum dirinya terlalu jauh tenggelam dalam dunia malam, dan obat-obat terlarang. Permainannya pun surut dengan sendirinya.
Dulu saya salut kepada Roman Abramovich. Seorang yatim piatu, dengan usahanya sendiri berhasil menjadi 50 orang terkaya dunia dalam usia 38 tahun. Sampai ketika, tanpa ampun membuang seorang Jose Mourinho, yang memberikan 2 gelar Premiership dalam tempo 3 tahun.
Dulu saya seorang maniak bola, sekarang pun masih, dan nanti atau sampai kapanpun, meskipun banyak orang mencibir saya, dengan berkata “ bola cuma satu kok, direbutin rame-rame…”. Yah, menurut saya SLANK dalam salah satu lagunya benar adanya “ Mereka tak akan mengerti….”
Just like my mom said, “the show must go on, find your own way kids…”


