Lusuhnya Sepakbola di Halaman Rumah Kita

Ditulis oleh Eka Nuryana

LOGO_KONTES_MENULIS_BOLANOVA Semangat nasionalisme terhadap suatu negara dan sepakbola acap kali berjalan berdampingan. Coba lihat saja, tatkala kesebelasan Inggris bertemu kesebelasan Argentina pada kejuaraan sepabola dunia misalnya, bisa dipastikan aroma nasionalisme menyeruak di sana. Duel musuh bebuyutan itu jelas akan mengingatkan kenangan dasyatnya perang Falkland ataupun Perang Malvinas (Bahasa Spanyol: Guerra de las Malvinas) di tahun 1982. Jika Argentina berhasil menekuk kesebelasan Inggris misalnya, maka bisa dipastikan jutaan rakyat Argentina akan memadati jalan-jalan di Buenos Aires untuk merayakan kemenangan itu. Mereka akan menggibarkan bendera biru-putih dan menyanyikan lagu kebangsaan negeri Tanggo, seakan mereka merayakan kemenangan pasukan perang negaranya.

Tidak masuk akal memang, tapi itulah realitas yang terjadi, sepakbola kadang mampu menjadi sihir yang mampu membakar api semangat nasionalisme dalam jiwa manusia. Bahkan di Jerman, sepakbola mampu membangkitkan kembali semangat patriotisme dan nasionalisme banyak rakyat Jerman yang selama ini merasa inferior dengan ke-Jermanan-nya. Mereka malu dan super minder dengan sejarah kelam Nazi pimpinan Adolf Hitler yang demikian rasis itu. Tapi kini, setelah Jerman cukup perkasa di ajang sepakbola sejagat itu, mulai merambat rasa percaya diri rakyat Jerman.


Franz Josef Wagner, seorang kolumnis tersohor di Jerman, memberi kesaksian kejadian tersebut. Dia menulis di harian Berliner Zeitung setelah menyaksikan kegairahan masyarakat Jerman mengibarkan bendera Schwarz-Rot-Gold (Hitam-Merah-Emas) untuk mendukung tim nasional mereka di Piala Dunia. Bendera nasional ditemui di segala sudut kota dan desa, di kaca spion mobil, di atas atap rumah, juga di dekat kanal-kanal air yang tersebar di hampir semua daerah. Para suporter Jerman juga mulai rajin dan bangga menyanyikan kalimat pertama dari lagu kebangsaan Jerman, Das Deutschlandlied: Deutschland, Deutschland ueber alles…! (Jerman, Jerman di atas semua…!). Melihat fenomena di atas sampai-sampai Kanselir Jerman, Angela Merkel menyebut hal ini sebagai tumbuhnya semangat nasionalisme dan patriotisme Jerman yang baru.

***

Saya, dan mungkin jutaan rakyat Indonesia lainnya, sangat merindukan suasana seperti yang dirasakan jutaan rakyat Jerman itu. Saya merindukan timnas sepakbola Indonesia mampu menggetarkan jiwa nasionalisme dan patriotisme 210 juta rakyat dari Sabang sampai Merauke ini, seperti yang dirasakan jutaan rakyat Jerman ketika melihat timnas sepakbolanya bertanding atas nama negara.

Mungkin saja kerinduan saya di atas, juga menjadi kerinduan rakyat Indonesia lainnya. Namun jika melihat kenyataan mutu timnas sepakbola kita saat ini yang belum layak untuk dibanggakan. Jangankan untuk bersaing di ajang piala dunia, bersaing di tingkat Asean saja belum tentu berjaya timnas Indonesia. Kualitas timnas memang tidak bisa mutu pemain-pemain yang ada di klub-klub sepakbola saat ini. Siapa pun sudah tahu hampir semua klub di Indonesia selalu mengandalkan APBD untuk kelangsungan hidupnya mengikuti kompetisi, sehingga untuk dijadikan sebagai klub sepakbola yang dikelola secara profesional masih sangat sulit.

Tidak mudah memang mencari solusi untuk mengurai persoalan sepakbola di negeri ini, tapi menurut saya, ada dua langkah penting yang mesti dilakukan. Kedua langkah itu antara lain:

Pertama, penempatan orang yang betul-betul paham tentang sepakbola untuk mengurus klub-klub yang ada selama. Jadi jika ada orang yang hanya ingin mencari uang dan tidak paham mengurus klub sepakbola, sebaiknya singkirkan saja jauh-jauh orang jenis ini. Organisasi yang menaungi klub-klub di seluruh Indonesia -dalam hal ini PSSI- harus ditangani orang yang paham betul dunia sepakbola. Rekruitment orang-orang yang duduk dalam kepengurusan PSSI harus transparan dan fair. Bahkan jika perlu harus diadakan fit and propertest. Ini penting, jangan samapi memilih pengurus seperti memilih kucing dalam karung.

Kedua, mutu kompetisi sepak bolanya harus ditingkatkan. Kompetisi harus dikelola secara professional, bukan berarti meningkatkan prestasi sepak bola Indonesia, tapi meningkatkan mutu permainan sehingga pertandingan menjadi enak ditonton. Karena dengan mutu kompetisi yang berkualitas, secara tidak langsung nantinya akan bisa meningkatkan prestasi sepak bola Indonesia.

Ya, meski kondisi sepakbola kita saat ini seperti ini, tapi saya yakin masih banyak orang yang peduli. Mencari kambing hitam atas keterpurukan prestasi sepakbola kita adalah hal yang gampang, tapi apakah bisa memberi solusi yang baik itulah yang jadi persoalan kemudian. Tidak ada salahnya kiranya jika saya ingin mencuplik petikan lagu Iwan Fals, “Lusuhnya kain bendera di halaman rumah kita bukan satu alasan untuk kita tinggalkan” Bravo sepakbola Indonesia.

***

Ditulis oleh Eka Nuryana sebagai bagian kontes menulis Bolanova. Eka Nuryana adalah penulis adalah pecinta sepakbola nasional, tinggal di Yogyakarta.

13 comments:

  1. nothing, 9. January 2008, 0:14

    sebenarnya kita [endonesa] ga kalah kok untuk masalah nasionalisme…[sungguh]
    dan jangan anda katakan, maysarakat endonesa tidak mendukung sepakbola timnas hanya karena kalo timnas bermain tidak mengibar-ngibarkan [menaikkan dirumah-rumah mereka] bendera merah putih. kalau hanya itu ukuran nasionalisme sepakbola ya salah….

    salam sepakbola. [tak sabat lihat semifinal copa dan 8 besar ligina]
    viva Arema

     
  2.  

    […] Lusuhnya Sepakbola di Halaman Rumah Kita […]

     
  3. dhimas, 9. January 2008, 13:00

    apapun kondisi timnas kita, aku tetap cinta kok

     
  4. joko wardiman, 9. January 2008, 13:04

    mantab, tajam, menukik ulasan anda bung. tapi jangan2 nasionalkisme ente perlu diragukan juga nehhh

     
  5. nova revalina, 9. January 2008, 13:06

    sepakbola endonesa yang malang. pssi biang kerok hancurnya sepakbola kita. tapi gw yakin, jiwa mereka (pemain-pemain timnas kita) tetap merah-putih

     
  6. bongur simanjutak, 9. January 2008, 13:10

    gobloknya pssi yang ngelola sepakbola kagak becus, ketyua umumnmya aja di bui, mana bisa ngurus dg benar, orang ngurus dirinya aja gak becus. rombak aja pssi, jayalah sepakbola indonesia

     
  7. candra firmanjaya, 9. January 2008, 13:12

    kembalikan merah-putih berkibar. masih ingat kan jaman jaya-jaya timnas era Dede Sulaiman, Hemansyah, Rully Nere? kenapa sekarang malah mlempem. ama vietrnam aja payah kita mainnya?

     
  8. tina subastian, 9. January 2008, 13:17

    lihat irak, rakyatnya ditengah kefurastaian melihat kondisi negaranya yang nacur, tetap merasa bangga tatkala timnasnya jagoan di Piala Asia kemarin. Timnas merah-putih, kapan dong kau beri kado indah buat rakayt negeri ini?

     
  9. tiur endang sutisna, 9. January 2008, 13:21

    sepakbola harus dikelola oleh orang yang ahli sepakbola. ingat hadis nabi: jika suatu urusan ditangani oleh oarng yang bukan ahlinya, tunggu aja kehancurannya. saekarang sepakbola kita dikelola oleh PSS (yang belum tentu paham bola) yang tunggu aja kehancurannya…

     
  10. dika brajamusti, 10. January 2008, 9:41

    sudah saatnya timnas kita biar orang indonesia sendiri yang tangani, pelatih asing mana ada nasionalisme buat kita, mereka toh mikirnya uang, soal hasil mah gak ada urusan, seribu alasan selalu ada kalau timnas yang meraka latih keok mulu… Hidup Benny Dollo, Bravo Rahmad Darmawan

     
  11. si gondrong Pasopati, 10. January 2008, 9:46

    Salut bung, tulisan anda semakin menambah semangat kita buat ndukung timnas dan juga klub lokal. HIDUP MERAH PUTIH, Hidup Bambang Pamungkas dkk

     
  12. yuslan kisra, 11. January 2008, 10:53

    gw setuju Timnas kita orang Indonesia juga yang hartus pegang. SXelain sola komunikasi dan hubungan emosi yg dekat, juga masalah spirit kebangsaan. Terbukti pelatih asing selalu gagal, kendalanya ya komunikasi dan spirit nasionalisme nurut gw.

     
  13. RCKY, 18. June 2008, 10:36

    BAGI GUE SEPk bola di indonesia bisa menumbuhkan semangat nasionalisme apalagi kalo di dukung dengan pengurus pssi nya yang bener2 mempunyai kapabilitas sepak bola yang mumpuni’ hidup timnas hidup bepe dkk.
    slam dari the jak mania jatim 4 smua pecinta sepak bola indonesia

     

Write a comment: