Oranye tinggalkan 4-3-3

basten.jpgKetika gelar tiada kunjung diraih, yang muncul adalah revolusi besar-besaran. Kalimat tersebut pantas untuk disematkan pada Tim “Oranye” yaitu Belanda.

Setelah mengganti kostum utamanya, kali ini Marco van Basten memperbaiki strategi pakem permainannya dari pola keramat 4-3-3, menjadi 4-2-3-1. Ada apa sebenarnya ?

Pada polanya ini, van Basten menekankan kepada arti penting tentang penguasaan bola, dan perlindungan menyeluruh terhadap dominasi lapangan tengah. Adapun, Basten juga menyadari bahwa selama ini materi ofensif yang dimilikinya, ternyata tidak cukup bagus untuk mengemas hasil positif dalam setiap pertandingan yang diikutinya.

Salah satu penyebabnya adalah kemampuan pemain macam van der Vaart, Ryan Babel, van Persie, Wesley Sneijder tidak keluar secara maksimal. Berbeda dengan Nistelrooy dan Robben, yang sudah mantap di posisinya masing-masing, keempat pemain di atas adalah pemain semi half-court.

Ambil contoh, Rafael van der Vaart dan Van Persie, keduanya lebih sering dipasang sebagai penyerang kanan dalam patron 4-3-3. Asal tahu saja keduanya kidal, sehingga bakat dan kemampuan kaki kiri mereka “teranggurkan” di area kanan. Longshot dan effort mereka cenderung mandek dan stagnan.

Memang menjadi dilema tersendiri bagi Meneer Marco, karena Belanda melahirkan banyak pemain kidal, selain van der Vaart dan van Persie, masih terdapat Robben, Babel dan Drenthe.

Nah, dengan pola 4-2-3-1, diharapkan, dapat lebih memberi lebih banyak ruang terhadap pemain spesialis kiri, karena ada 2 spot lowong yang dapat ditempati. Pola ini sendiri, sebenarnya bukan patron baru, sedikit diadopsi dari 3-3-1-3, yang kadang disebut sebagai Ajax Formation.

Ajax Formation dikembangkan oleh Louis van Gaal pada tahun 90-an. Karakter materinya pada masa itu, “memaksa” dirinya harus membuat formasi khusus, karena pemain-pemain yang dimilikinya juga sangat spesial.

3 striker di depan, van Gaal punya Overmars, Kluivert dan Finidi George, yang didukung oleh playmaker Jari Litmanen. Ketiganya sudah sangat eksepsional di tempatnya masing-masing, bukan hanya secara individu, melainkan juga team work dan pergerakan antar pemain. Hal inilah yang membedakannya dengan tim Belanda saat ini.

Oleh karena itu perubahan pola dipandang perlu oleh van Basten. Daripada memaksakan pola permainan secara otoriter, lebih baik sedikit “mengalah” sesuai dengan materi, situasi dan kondisi yang ada.

Satu lagi pekerjaan rumah yang perlu diselesaikan Basten, bagaimana soal peningkatan team work dengan pola barunya ? Ajax Formation, membutuhkan 2 tahun, bagi para personilnya untuk mampu mengejawantahkan keinginan sang pelatih di lapangan. Bagaimana dengan tim Belanda ?

Unsur keharmonisan kerjasama dan permutasi pemain di lapangan, punya spesialisitas yang unik. Di mana terkadang pendekatan persuasif secara personel adalah jawabannya. Van Basten, yang kurang vokal, harus mampu menjabarkan hal tersebut kepada anak asuhnya.

Berbeda dengan dirinya di masa jaya (yang memang diplot sebagai pemain yang tugasnya jelas dan tegas untuk membobol gawang), kali ini beliau harus mampu “memanfaatkan” karakter pemain di timnya yang sebenarnya banyak “bunglon”.

Materi “bunglon” yang dimiliki meneer Marco, sebenarnya adalah suatu keuntungan tersendiri
. Masterpiece di berbagai posisi lapangan, maupun kemunculan tiba-tiba dari second line, adalah hal-hal yang dapat diharapkan dari pemain yag tadi saya sebut sebagai semi half court. Tinggal menunggu “triggernya” saja, dan dalam hal ini van Basten yang harus pegang peranan.

Source : www.djenol.blogspot.com

3 comments:

  1. Kamaludin, 8. January 2008, 20:43

    Mungkin, emang sudah waktunya kale. Ambil contoh Jerman, ketika Klinsi memegang jabatan itu, formasi klasik 3-5-2 ditinggalkan. Begitu juga dengan komposisi pemain. Di era Klinsi pemain-pemain muda begitu mendominasi. Beda dengan yang terdahulu, lebih mengedepankan pemain yang berpengalaman.

     
  2. Andy N. Gultom, 10. January 2008, 10:47

    @ Kamaludin :
    Selamat datang di BOLANOVA.COM…bung kamaludin, ketika Klinsi mengambil alih timnas Jerman, beliau langsung mereformasi taktik dan formasi permainan…..

    Hal yang jauh berbeda dgn van basten, karena ketika dia memimpin timnas Belanda, dirinya tdk merevolusi timnya. Baru skrg dirinya sadar bahwa dia perlu sedikit “berjudi” dalam meraih kerangka utk hasil yg positif.

    Jadi situasi dua tim di atas, tidak dapat disamakan, karena berbeda kondisinya :)

     
  3. Kamaludin, 11. January 2008, 20:28

    Tapi, seenggaknya Basten juga merombak formasi timnya kan. Yaitu, dengan membuang para pemain-pemain senior, dan memanggil pemain yang tidak berpengalaman dari klub-klub papan bawah.

     

Write a comment: