Persija, Maybe Next Year, Guys …
Momok itu belum pecah juga. Asa yang dikekang selama 2 tahun terakhir, setelah kekalahan menyakitkan di Final Liga Indonesia, ternyata masih akan terus membekas.
Persija Jakarta, kembali harus menelan pil pahitnya kekalahan dari tim Mutiara Hitam, Persipura Jayapura, 2-3, dalam partai “thriller” yang berlangsung sangat menarik dan mengesankan.
Menarik, karena partai sebenarnya bertajuk “The Real Final”, yang merupakan puncak dari 2 tim eks Perserikatan, yang punya dukungan basis massa historis dengan tambahan embel-embel status kedaerahan.
Mengesankan, karena melihat bagaimana elegannya Persipura mengatasi auman macan kemayoran. Bagaikan seorang matador menundukkan banteng yang mengamuk, berkat 3 faktor utama, taktik pelatih yang jenius, barisan pertahanan yang disiplin, dan seorang striker bernama Beto.
Di bawah dukungan Jakmania, yang meng-oranyekan Gelora Bung Karno, Persija langsung menggebrak dan mencetak gol terlebih dahulu lewat aksi Bambang Pamungkas di menit ke 28, 1-0.
Masih larut dalam euphoria gol pertama, Persipura “membungkam” suporter tuan rumah, ketika Beto menyambut bola rebound Ernest Jeremiah, untuk menghasilkan gol di menit ke 30, 1-1.
Kubu Persija, setengah tak percaya, ketika menjelang turun minum, mereka harus kebobolan kembali. Lagi-lagi lewat aksi Beto. Pemain asal Brasil ini, melalui skill indivdunya berhasil menang sprint dari Hamka Hamzah, sebelum melesakkan tendangan keras terarah ke gawang Yevgeny, 1-2.
Di babak kedua, Persija tetap mendominasi permainan, namun sepertinya Sergei Dubrovin, sang pelatih,terlambat mengantisipasi situasi lapangan. Di mana Persipura sudah menutup area pertahanan, dan bermain lebih menunggu, untuk melakukan serangan balik.
Cukup ironi, mengingat Dubrovin sebenarnya adalah master of counter attack, flashback kembali akan prestasi apiknya, dengan style yang sama, berhasil membawa Petrokimia Putra Gresik menjadi Juara Ligina 2002, dengan membungkam tim yang lebih diunggulkan, Persita Tangerang.
Dan kali ini, perhitungannya di Persija, ternyata keliru, Ketika Persija tetap melakukan possession football tanpa aksi terobosan, malah membuat bek-bek mereka terlena. Akibatnya di menit 54, Beto mencetak “hattricknya” dengan mempecundangi kiper Yevgeny Khamaruc, 1-3.
Harapan anak-anak Jakmania, yang tidak hentinya bernyanyi untuk tim kesayangannya, sempat terkuak di menit 64. Hamka Hamzah, menebus kesalahannya (yang menyebabkan gol kedua Persipura), dengan “menghajar” gawang Jendri Pitoy, lewat tembakan keras, memanfaatkan sepak pojok, 2-3.
Raja Isa, pelatih Persipura, selanjutnya dengan “cerdik” menutup semua celah pertahanan. 10 pemain ditempatkan secara berlapis 20 meter di depan gawang, dan hanya menyisakan Beto atau Ernest Jeremiah, sebagai striker gantung. Kondisi ini terjaga terus sampai akhir pertandingan.
Kredit tersendiri, wajib dialamatkan kepada Jendri Pitoy, kiper Persipura, yang tampil sangat tenang dan cekatan sebagai orang terakhir di sektor pertahanan. Begitupun dengan duet Salampessy-Jack Komboy. Keduanya tampil taktis dan beringas, dalam menetralisir aksi-aksi penyerang dan gelandang serang Persija.
Hasil ini dengan demikian, membuat Persipura akan melangkah ke partai puncak Copa Dji Sam Soe, yang akan berlangsung hari Minggu, 13 Januari 2008. Di final, anak-anak cendrawasih, akan menghadapi “wong kito”, Sriwijaya FC (yang sukses menang atas Pelita Jaya Purwakarta).
Sebaliknya bagi Persija, harus menunggu 1 tahun lagi, untuk membalaskan “dendamnya” terhadap Persipura.
Don’t give up guys, maybe next year !!!!!


