Kemenangan Sriwijaya, Kemenangan Rahmad Darmawan
Sriwijaya FC, akhirnya berhasil mengalahkan Persipura Jayapura, setelah melalui rangkaian pertandingan panjang dan melelahkan. Meski “hanya” mampu mengais kemenangan melalui adu penalti, kemenangan Sriwijaya, boleh dibilang banyak ditentukan oleh kapasitas Rahmad Darmawan, sang pelatih.
Di musim perdananya, Rahmad telah menyulap Sriwijaya FC, from no one to someone. Berbekal pemain-pemain yang diinginkannya, manajemen tim, bekerja keras memboyong “pesanan” tersebut ke bumi Sumsel. Outputnya pun menjadi jelas dan gamblang, Rahmad memberikan sebuah gelar perdana kepada tim asal kota pempek tersebut.
Meski tertinggal 1 gol dari gol cepat hasil sepakan deras Ernest Jeremiah, anak-anak “wong kito” tetap konsisten dengan ciri khas karakter permainannya. Seperti apa yang ditunjukkan ketika menghadapi Pelita Jaya di semifinal, Sriwijaya FC membuat “badai serangan” tak henti di segala arah.
Sebenarnya tidak ada yang salah dengan kedua tim yang berhadapan di final tadi malam. Persipura bermain dengan gayanya sendiri. Menumpuk 5 pemain di belakang, Mutiara Hitam, bermain menunggu dan mengandalkan counter attack lewat long pass.
Cara ini sudah terbukti efektif di semifinal, ketika Alberto Goncalves (Beto), memborong 3 gol kemenangan, melalui aksi-aksi yang serupa. Namun, tadi malam, mereka menghadapi lawan yang berbeda. Meski barisan belakang Sriwijaya tetap kedodoran dalam menjaga Beto, namun secara tim, mereka tetap solid, ditambah lagi penampilan mantap Ferry Rotinsulu, yang berhasil menyelamatkan gawangnya dari beberapa peluang emas Persipura.
Sriwijaya FC, yang bermain dengan pola 4-3-1-2, di babak Pertama, banyak bergantung kepada Zah Rahan. Ketiadaan Lenglolo, sedikit banyak mengurangi kreasi yang ada. Sehingga praktis gebrakan Nobioura dan Keith Kayamba sebagai duet striker, tidak terlalu “menggigit”.
Sebaliknya Persipura, juga tidak memberikan porsi lebih terhadap permainan menyerang. Unggul cepat,1-0, membuat mereka harus bermain karena tuntutan strategi di lapangan. Memang inilah andalan sang pelatih mutiara hitam, Raja Isa, yang sadar bahwa anak buahnya punya keunggulan pada sisi fisik dan kecepatan.
Bek-bek Persipura tampil bak benteng kukuh di sektor belakang, Salampessy, Jack Komboy dan Pierre Paulin, berhasil bukan hanya mematikan pergerakan pemain depan Sriwijaya, secara man to man marking, namun juga menjadi “penghalang” bola yang efektif bagi semua tembakan-tembakan dalam kotak dan luar kotak penalti.
Namun ibarat kata, “hujan yang deras, akan membuat anda “basah” juga. Serangan demi serangan yang tiada henti, “memaksa” stopper Persipura, Jack Komboy berbuat kesalahan sendiri. Handsball yang dilakukannya di babak kedua, tak pelak , membuat wasit Jimmy Napitupulu menunjuk titik putih. Eksekusi Keith Kayamba, melesak mulus, 1-1.
Setelah gol penyama kedudukan ini, permainan relatif berjalan seimbang, dengan jenderal permainan yang “berganti kulit”. Di kubu Sriwijaya, Zah Rahan tak lagi dominan, peranannya diambil alih oleh Christian Worabay. Sedangkan di Persipura, Beto terlihat kelelahan, untunglah ada Paulo Rumere yang mengcovernya.
Hasil ini terus bertahan sampai akhir perpanjangan waktu. Dan di adu penalti, mental Persipura mulai terlihat ketika Eduard Ivakdalam sebagai algojo pertama di timnya tidak mampu mengarahkan bola secara terarah, padahal dirinya adalah spesialis bola mati. Hasil ini kemudian diikuti oleh penendang kedua, David Da Rocha, seorang bek kiri, yang menendang dengan kaki kanan. Hanya saja tendangannya ke tengah gawang, gampang terbaca.
Jendri Pitoy sempat menepis satu tendangan penalti Sriwijaya, namun pada akhirnya bumi Sumsel bergelora mengangkat piala. Kemenangan ini merupakan bukti kontribusi nyata Rahmad Darmawan. Kebebasan berkreasi dan wewenang yang “luas”, membuat dirinya bekerja lebih leluasa dalam mengangkat tim “kampung” ke kelas elite.
Selamat Sriwijaya !!!



oh Persija…hiks…hiks…
Rahmad Darmawan for National coach….
sriwijaya emang pantas juara karena permainannya bener2 terkoordinir dan setiap pemain tau tugasnya masing2, mungkin ini yg ditegaskan oleh rahmat darmawan.semua pemain bermain dengan mental juara dan semangat yg berapi2. kalau masalah mental sriwijaya kayaknya udah teruji dengan dua kali menang meyakinkan lewat adu penalti…
kita lihat saja kiprah srwijaya di masa2 mendatang, apakah dapat eksis dan mempertahankan performa bagus yg diperlihatkan sekarang….