David Gill = Yudas Iskariot
Kata siapa, jadi Direktur itu nikmat ? Coba tanyakan kepada David Gill, the chairman of the world marketable football club, Manchester United. Kenikmatan kompensasi yang diterima dari kerja kerasnya, harus diimbangi dengan “sanksi sosial” dari lingkungan.
Gill, bukan kehilangan posisi sebagai eksekutif di Man-Yoo, dirinya juga tidak sedang mengalami tuntutan hukum atas kegiatannya selama ini. Lalu apakah sanksi sosial yang dialaminya ?
Gill dijuluki Yudas. Yudas adalah terminologi bagi seorang pengkhianat. Yudas sendiri merupakan salah satu murid Nabi Isa yang “menjual” Yesus kepada kamu Farisi, untuk kemudian ditangkap dan disalib.
Kembali ke kisah David Gill, aksi-aksi graffiti di tembok rumahnya oleh suporter garis keras MU, memang belum masuk tindakan kriminal kelas berat. Namun tetap saja, cukup mengganggu konsentrasinya dalam bekerja. Apalagi tindakan ini merupakan kejadian perdana yang menimpa David.

Cukup mengherankan, atas tuduhan yang dibebankan kepada dirinya, mengingat yang menjadi kekesalan para suporter biasanya adalah sosok Malcolm Glazer. Multi billionaire asal Amerika Serikat, yang memiliki mayoritas saham Man-Yoo.
Dalam suatu perusahaan, kendali kebijakan pada umumnya memang menjadi keputusan major stakeholder. Dalam hal ini, David Gill merasa bahwa suporter “salah alamat” dengan menyerang dirinya. Tetapi di sisi lain, para fans, menganggap, Gill harus “kritis”. Gill adalah harapan para pendukung historis Man. Utd, yang tidak rela dirinya hanya dijadikan seorang “boneka” bagi kapitalis dari negeri seberang.
Kebijkan klub MU, yang terus menerus menaikkan harga tiket dan merchandise, membuat kultur fans MU, terus tercekik. Ketika di belahan dunia lainnya, merchandise The Red Devils, terus meningkat, akan tetapi di tanahnya sendiri, tidak serupa keadaannya.
Man United, bukanlah Chelsea. Klub biru itu terletak di pusat kota London, di kawasan elite. Chelsea juga terbukti secara turun temurun menjadi klub favorit bangsawan Inggris, eksekutif tinggi, bahkan Perdana Menteri. Sedangkan MU punya kultur yang jauh berbeda.
Bagai hujan batu di negeri sendiri, amarah pun memuncak, David Gill dianggap sebagai pengkhianat, bukan hanya bagi MU tetapi juga bagi negaranya sendiri, Inggris. Ketika dirinya terbentur dalam 2 kepentingan, klub dan suporter, Gill harus memilih.
Gill memang tidak bisa lepas sepenuhnya dari rasa bersalah. Mengingat dirinyalah yang membuat Glazer menjadi pemegang saham mayoritas di MU. Dalam proses akuisisi, Gill-lah yang menjual mayoritas kepemilikan sahamnya kepada Glazer. Dan bak buah simalakama, Gill tidak pernah menyangka, bahwa niat baiknya untuk menjadikan klub Setan Merah, semakin besar, malah menenggelamkan dirinya ke sanksi sosial yang mencekam.
Atas aksi vandal tersebut, Gill belum berkomentar apa-apa. Kerusakan tersebut memang tiada sebanding dengan kekayaan yang dimilikinya. Karena dengan semudah membalikkan telapak tangan, Gill dapat membayar tukang bangunan yang paling mahal sekalipun untuk mengecat tembok bata tersebut.
Namun, saya yakin Gill berada dalam kondisi dilematis, mengetahui bahwa dirinya sangat “dicintai” oleh pendukung klub, dan hanya kepadanyalah mereka berharap, agar klub sebesar MU, tidak melupakan akar historisnya, ribuan fans yang turun temurun membela Man-Yoo, dari generasi ke generasi.


