Debut Sempurna Adriano
Bak Ebert dan Roeper, dua pengamat film, yang sering berujar Big Thumbs Up, hal yang sama patut kita sematkan kepada Adriano Ribeiro Leite.
Cerita indah Alexandre “Si bebek” Pato, ternyata mengilhami dirnya, dalam performa perdananya di Sao Paolo.
Jika Pato, bermain”menggeliat” dengan lincah menari-nari, merusak tembok-tembok lawan, Adriano “menghajar” gawang lawan, dengan gaya khasnya. Tidak tanggung-tanggung, 2 gol merupakan debut sempurna, yang memberikan harapan baru kepada striker perkasa tersebut.
Di babak pertama, tidak banyak yang menyangka bahwa pemain yang pada saat ini tidak mau dijuluki Il Imperiatore, akan menjadi kartu as bagi timnya. Beberapa peluang, entah dari sundulan, one man show penetration ataupun tembakan jarak jauh, gagal dikonversinya menjadi gol. Ditambah lagi, Sao Paolo tertinggal 0-1.
Seperti mesin diesel yang lambat panas, Adriano perlahan-lahan menemukan kembali kepercayaan dirinya. Aksi sebuah tembakan rebound dari sisi kiri kotak penalti, meluncur deras ke gawang lawan, 1-1. Ketika hype dan crowd pendukung semakin bergejolak, sebuah free kick super 30 m, dari pemilik kaki kiri dahsyat tersebut, kembali menghujam gawang musuh, 1-2 !!!!
Debut yang sempurna, melambungkan Adriano ke puncak tertinggi. Bukan hanya ingin menunjukkan kepada dunia mengenai kualitas individunya, namun juga peranannya sebagai “juruselamat” tim, di kala kebuntuan membuncah.
Tertera dalam scoresheet di board, bukan merupakan hal yang istimewa bagi Adriano, namun beda halnya pada saat ini, apalagi mengingat apa yang terjadi dalam 1 tahun belakangan. Kehidupan malam dan hura-hura kota Milan, telah mengubah perangainya, yang memang sebenarnya rentan dan tidak stabil.
Seperti seorang anak muda, yang gampang dimabukkan oleh ketenaran sesaat, Adriano melanglang buana di kota yang merupakan ikon mode dunia, bukan dari satu training camp ke training camp lain. Melainkan dari satu night club ke night club lainnya. Bagai seorang Julius Caesar yang merambah jajahannya, dari satu propinsi ke propinsi lain, Adriano melakukan hal serupa, hanya dalam konotasi yang negatif.
Ketika di atas, anda berkawan, namun begitu di bawah, anda berlawan. Semakin terpuruk dalam larutnya kerlap kerlip kehidupan malam, pelan-pelan menyeret Adriano ke dalam lingkaran tanpa batas. Dirinya tidak lagi menjadi superstar lapangan hijau. Tekniknya menghilang, imajinasinya seret dan fisiknya hancur-hancuran.
Satu posisi di lini depan Inter (yang secara harafiah adalah miliknya) lepas dari genggaman. Tambah memalukan, ketika dirinya pun “terbuang” dari bangku cadangan. Allenatore Internazionale, Roberto Mancini, beranggapan Adriano sudah lewat, fisik dan performanya sudah tidak sesuai dengan standar Liga Italia. Sanksi sosial semakin terasa ketika tiada satupun rekan tim yang membelanya, tidak juga kompatriot senegara macam Maicon dan Julio Cesar.
Beruntung bagi Adriano, ketika terbetik kabar bahwa Sao Paolo berniat meminangnya. Walau bukan klub impiannya, dirinya merasa berharga ketika mendengar bahwa masih ada klub yang menghargai jasa-jasa olah bolanya. Peruntungan baru di klub tersebut pun telah dimulai.
Jalan telah terbentang luas, Adriano “lunas”membayar kepercayaan tim dan pelatih klub berjulukan Tricolore tersebut. Satu pertandingan adalah awal bagi segala-galanya.
Sebungkah senyuman dari sang kaisar, terlihat jelas di akhir pertandingan, ketika anda selalu dielu-elukan dan di mana anda merasa tim sangat bergantung pada kemampuanmu, hasilnya adalah sebuah pertunjukan eksploitasi aksi sepakbola yang mengagumkan.
Congratulation Adriano !!!



Semoga Adriano mau balik ke Inter bila kondisi mental dan fisiknya sudah pulih.
aq yakin,, adriano akan kembali seperti dlu..