Baghdad FC

iraq-soccer.jpgDitulis oleh Ubaidillah Nugraha

Banyak ilmuwan dan sejarawan sepakat menyebut Irak- dengan ibukotanya di Baghdad yang berada kawasan lembah Sungai Tigris dan Eufrat -sebagai tempat lahirnya peradaban dunia.

Begitu banyak cendekiawan dan budayawan yang berpengaruh pada sejarah ilmu pengetahuan lahir di sana, kita bisa sebut beberapa diantaranya antara lain Ibnu Irak (Astronom dan Matematikawan), Abdul Latief (ahli kedokteran dan anatomi) dan Almas’udi (Sejarawan).

Tetapi tampaknya Irak dengan segala kekayaannya tidak lekang dari rangkaian nasib sial, invasi berbagai pihak sejak abad 12 sampai sekarang. Bergantian bangsa Mongol, Persia, Turki, Inggris dan Amerika Serikat datang dan pergi meluluh lantakan peradaban dan jejak ilmu pengetahuan yang menjadi landmark Negara “1001” malam ini. Berkali-kali pula rakyat Irak harus mengalami penindasan dan hidup dalam penderitaan. Bahagia seolah jauh sekali dari mereka.

Kondisi negara juga sejalan dengan apa yang dialami oleh persepakbolaan di sana, sebuah buku yang sangat dramatis bercerita tentang bagaimana rasanya menggeluti sepakbola di Irak teah ditulis oleh Simon Freeman baru-baru ini yang berjudul ”Baghdad FC: Iraq’s football story, a hidden story of sport & tyranny”. Mengkisahkan pengalamannya sebagai saksi mata penderitaan sepakbola.

Di bawah komando Uday Hussein yang mengepalai Iraqi National Olympic Team, para pemain bahkan pelatih harus menjalankan aktivitasnya di bawah teror. Penyiksaan bahkan pembunuhan kerap terjadi pada pemain dan pelatih tergantung mood dari putra tiran Irak, Saddam Hussein . yang dijuluki ”iron maiden” tersebut. Bahkan salah satu mantan pemain irak yang sempat bermain di beberapa piala dunia, Ahmad Radhi, menuturkan bahwa ”many times we was punishes because we lost, sometimes even after we had won”. Bayangkan betapa depresinya para pemain dalam suasana berkehidupan semacam itu.

Itulah yang menjadi alasan terbesar dari Younes Mahmoud dan kawan-kawan yang malam itu menciptakan sejarah menjadi Juara piala Asia untuk yang pertamakalinya.. “Kami memikul tanggung jawab dan kewajiban untuk memebrikan kemenangan bagi masyarakat Irak dan mereka yang selama ini sengsara karena berjuang membela negara melalaui sepakbola, karena mungkin hanya itulah satu-satunya kebahagian yang dapat dirasakan mereka hari-hari ini “ ujarnya penuh semangat. Gol sundulan di menit 70 dari sepak pojok itu telah mengalihkan perhatian masyarakat dunia dan menyadari bahwa Irak masih terus eksis sebagai bangsa dengan tradisi yang panjang.

Dunia belajar banyak dari prestasi Irak tersebut, bagaimana mungkin sebuah negara yang hancur tercabik cabik, menyisakan tabir yang sangat tipis antara hidup dan mati esok hari, bisa menjadi jawara di tengah kumpulan negara-negara dengan ekonomi termaju, pertumbuhan ekonomi tertinggi dan tempat berkumpulnya orang-orang kaya dunia seperti yang dilansir berbagi media dunia yang selalu menyebut Asia sebagai episentrum pertumbuhan kemakmuran belakangan ini selain Eropa timur.

Sementara itu. bak bumi dan langit, Irak adalah mosaik sebuah negara yang berdarah-darah karena tragedi kemanusiaan. Menduduki peringkat terendah dalam faktor keamanan dan konflik dimanapun yang ada di dunia ini. Belum pernah ada negara yang harus bergelimang dengan darah dan korban hampir setiap hari, entah ledakan bom ataupun gempuran tentara pendudukan Amerika. Kondisi sedemikian parahnya sehingga ratusan ribu orang terpaksa ekdosus ke berbagai negara tidak terkecuali dengan tim nasional Irak, yang tidak saja pemain-pemaiannya merumput di berbagai liga di negara tetangga tetapi juga tim nasionalnya harus berlatih di luar Negara mereka. Banyak orang yang berpendapat seandainya, tim Irak tidak mampu mengikuti berbagai kompetisi internasioanl, sudah seharusnya dimaklumi dan dibebaskan dari berbagai sanksi.

Tetapi apa yang terjadi? Tidak sekedar mampu untuk berkiprah, bahkan semua tim raksasa yang memiliki latar belakang modern, maju, kaya dan berkehidupan makmur berhasil di libasnya satu persatu.

Penulis serasa mengingat kembali cerita agama di masa kecil, bagimana sebauh pasukan yang bermain dengan bantuan tentara malaikat yang tidak terlihat dan menghancurkan lawannya yang lebih kuat. Tim yang bermayoritaskan pemain-pemain klub Liga Inggris, Austalia harus menelan pil pahit.

Mark Viduka, Herry Kewell dan pemain-pemain dari negara yang merupakan salah satu wilayah berpendapatan perkapita tertinggi dunia tidak bisa berkata-kata, palatihnya harus mundur dan para pemain harus menunduk malu menghadapi kecaman penggemar yang tidak bisa membayangkan tim kesayangannya yang baru saja lolos dan tidak mengecewakan di Piala Dunia, harus takluk di babak awal .

Kemudian, sepak terjang tim asuhan Jorvan Vieira terus berlanjut dengan , sampai puncaknya, negara langganan piala Dunia, mantan semifinalis bahkan di ajang itu. meski tidak menampilkan Park Ji sung, tetapi tidak mengurangi favoritisme penonton karena masih menyisakan Lee Chun-soo, Sekali lagi semuanya berhasil dijunkirbalikan Irak. Oleh karena itu, pelatih Pim Verbeek pun harus menangguk pil pahit, mundur.

Dan malam ini, kembali perhatian kepada mereka membetot dunia, kali ini tanpa pinalti, tidak kurang Presiden FIFA, Sepp Blater menungkapkan kekagumannya. Catatan yang membuat Irak selangkah lebih unggul dibandingkan Arab Saudi, yang meski mengalah kanmereka 1-0 di tahun 1996, tetapi mampu untuk dibalas 8 tahun berikutnta dengan 2-1. Tidak sedikit simpati datang dari berbagai pihak termasuk masyarakat Indoneisa bahwa kali ini Irak mampu membawa pulang gelar.

Paling tidak jalan-jalan Irak akan dilanda kebahagiaan beberapa hari ke depan. Perhhatian liga-liga besar untuk mencoba talenta-talenta luar biasa.yang akan menjadi duta-duta baru Irak. Younous Mahmud mampu bermain di liga terbaik sekalipun. Nashrat Akram akan cemerlang di Sunderland jika jadi direkrut. Mengangkat harkat dan nasib pemain sekaligus gantungan harapan bagi anak-anak Irak.

Sudah saatnya Irak bangkit kembali bukan oleh poliitisi haus kuasa apalagi Amerika yang sok kuasa tetapi sepakbola, hadirkan saja Sepakbola setiap hari di kaca-kaca televisi masyarakat, Insya Allah pediah itu akan hilang.. Kami sedih selalu berada dalam lingkungan yang menyedihkan. “Terkadang, saya berharap agar tim sepakbola Irak bisa selalu mengikuti turnamen internasional supaya kami selalu berada dalam suasana gembira “(Ibrahim Al Musawi).

Pandangan bahwa rakyat Irak senang kekerasan akan sirna sama sekali melihat wajah-wajah yang jauh dari garang, menerima dengan baik segala keputusan wasit. Dan sekali lagi yang paling penting ironi-ironi yang harus dialami Irak sampai menjadi kampiun Asia harus membuat pihak-pihak yang selalu mencari alasan-alasan tidak masuk akal menjadi malu dan seterusnya ke depan fokus terhadap prestasi karena tidak saja sudah tidak ada alasan yang memadai untuk semua ketidakberhasilan dibandingkan dengan kasus Irak..

Kalau ada pengurus sepakbola yang selalu mencari alasan dana sebagai kemandekan prestasi, berhentilah berbicara dan teruslah ingat bahwa Irak telah juara dengan modal minus sekalipun termasuk modal tewasnya keluarga kiper Noor Sabri Abbas sesaat sebelum laga di Piala Asia. Dan belum terhitung sanak saudara dari pemain-pemain lainnya.

No comments yet.

Write a comment: