Kamerun dihajar Mesir
Nama besar tidak berarti segala-galanya. Kamerun yang dihuni oleh sekian banyak pemain berkualitas di Eropa, ternyata tidak ada apa-apanya dalam menghadapi Mesir.
Pada pertandingan penyisihan Grup C di Piala Afrika 2008 yang sedang berlangsung, Pharaoh Mesir menaklukkan singa-singa afrika Kamerun dengan telak, 4-2.
The Indomitable Lions, mutlak kalah segalanya. Butuh 45 menit, bagi sang pelatih Kamerun, Otto Pfister, yang membiarkan seorang Achille Emana duduk manis di bangku cadangan. Akibatnya, badai serangan gurun ala Mesir, memporak-porandakan pertahanan Kamerun.
H.A Abdel dan pemain impor dari Bundesliga, Mohammed Zidan, memberikan kehancuran 3 gol dalam tempo 45 menit pertama. Setelah turun minum, jugador Barcelona, Eto’o memberikan asa bagi Kamerun dengan gol cepatnya. Namun, dibalas H.A Abdel dengan gol keduanya. Finally, pertandingan ditutup oleh gol hiburan Eto’o, memperkecil kekalahan menjadi 2-4.
Selain tuan rumah Ghana dan Pantai Gading, Kamerun, adalah favorit utama peraih gelar juara bergengsi di benua hitam ini. Ghana punya kekuatan ekstra sebagai tuan rumah. Selain itu skuadnya terbilang lengkap, ada nafas kuda Essien, raja jelajah Ali Muntari, maupun si licin, Asamoah Gyan.
Pantai Gading, tentunya karena ada Drogba, dan benteng kukuh Kolo Toure. Dan terakhir Kamerun, masih dengan Eto’o nya dan beberapa pemain berkualitas yang bermain di Liga Eropa. Ironisnya, kita semua lupa (bahkan Kamerun tentunya), Mesir adalah tim senyap-senyap yang selalu menggeliat.
Meski menyandang gelar sebagai Juara Bertahan. Status Mesir tetap tidak terangkat. Dunia seakan-akan lupa, bagaimana tingginya kolektivitas, kebersamaan dan kedisiplinan tim Pharaoh tersebut di dalam dan di luar lapangan. Bagaimana mereka berani “membuang” bintang utamanya, Ahmed Mido Hossam, dari tim pada final Piala Afrika 2 tahun lalu, karena merusak keharmonisan tim.
Modal Mesir adalah kebersamaan, kepercayaan diri dan kerja keras dari semua pemain. Setiap personil adalah bintang bagi negara di ujung kanan atas benua Afrika tersebut.
Dan berhati-hatilah, negara Afrika lainnya, karena Sang Firaun akan bangkit kembali, sama seperti mereka pernah menguasai dunia, beribu-ribu tahun sebelum sekarang…


