Should Football adopt American System ?
Anda seorang fans klub tertentu ? Milan, Man Utd, atau Liverpool ? Atau anda adalah suporter militan Arema, Jakmania atau Persib ? Membela tim kesayangan anda, sudah merupakan anugerah tak ternilai, bukan ?
Nah, bagaimana jika anda “memiliki” klub tersebut ?
Please read it more…No, I’m not talking nonsense. Bagaimana jika anda ditawarkan kepemilikan saham, dengan harga sesuai pasar. Bukan dalam partai besar, melainkan benar-benar retail. Artinya, anda pun dapat membeli saham, meskipun cuma selembar sekalipun.
Pada saat ini, khususnya di eropa, skema kepemilikan seperti di atas sedang banyak dibicarakan orang. Skema tersebut diadopsi dari negeri paman sam (Amerika Serikat), dan lebih dikenal dengan sebutan American Style Revenue Sharing System.
Skema ini mulai menyeruak, ketika banyak fans fanatik klub di Eropa merasa tidak puas dengan major stockholder klub kesayangannya.
Malcolm Glazer dengan kebijakan ekspansinya, sangat tidak populis di mata fans Man Yoo. Seorang Abramovich, sempat mendapat kritikan pedas, ketika terus menerus menaikkan harga tiket masuk Stamford Bridge.
Dan yang paling hangat, ketika duet pemilik Liverpool, Tom Hicks & George Gillet, terus menerus di”musuhi” Anfield mania, karena ingin mendepak Rafa Benitez dari kursi pelatih klub.
Akibat dari serentetan kejadian di atas, banyak yang mengharapkan adanya perubahan kebijakan dalam komposisi kepemilikan saham atas klub sepakbola. Dalam benak mereka, ada baiknya ketika konsorsium organisasi suporter klub tersebut mendapat “jatah” kepemilikan dalam range 20-30 %. Hal ini penting, untuk mencegah sistem dominasi seenaknya bagi para pemodal besar, seperti para taipan-taipan tadi.
Sistem ini juga memberikan lebih banyak keuntungan dibandingkan kerugiannya. Dengan cara tersebut, fans menjadi lebih punya “self belonging” terhadap klub kesayangannya. Sehingga mereka dapat lebih menjaga sikap di stadion, dan mengurangi tingkat anarkisme maupun vandalisme sepakbola.
Keuntungan yang kedua, pengumpulan dana dari fans/masyarakat menjadi lebih leluasa, artinya sebuah klub kecil sekalipun, memiliki kesempatan lebih besar untuk dapat bersaing dengan klub-klub lainnya. Karena fresh fund akan selalu tersedia untuk membeli pemain dari bursa transfer.
Sebagai pelengkap penyempurnaan American Style Revenue Sharing System, ada baiknya sesuai usulan BOLANOVA beberapa waktu yang lampau, sepakbola perlu mengakomodir Salary Cap.
Kelebihan pengeluaran dari klub besar, akan “diberikan” sebagai subsidi bagi klub-klub kecil secara proporsional. Hal ini akan membuat peta kekuatan tim semakin merata. Dan diharapkan meningkatkan kualitas persaingan klub secara keseluruhan.



metode ini sedang direncanakan oleh pengurus Yayasan Arema, sbg pelopor klub Indonesia yg melempar saham ke publik (tapi tetap diawasi agar tidak bernasib seperti Niac Mitra dulu)… Seperti kita ketahui PS Arema Malang skrg ini kan murni profesional tanpa dana APBD (uang rakyat), Arema saat ini dibawah Yayasan Arema milik PT Bentoel Prima (salah satu anak perusahaan Philip Morris), dan tidak selamanya Bentoel akan membiayai keseluruhan operasional Arema, oleh sebab itulah wacana “bermain saham” tsb akan segera direalisasikan… Sudah saatnya memang kita mamandang jauh ke depan sepakbola sbg sbuah industri
untuk bung Andy, artikel ini mgkn akan saya angkat di ongisnade.net , thanx
[…] sumber: bolanova.com, foto: bentoel-arema.com, […]
@ zoel : kalau memang benar adanya, berarti berita bagus utk sepakbola indonesia…semoga cepat terealisasi bung zoel…btw saya dikabar2i yah kalo ada IPO-nya..saya mau ikutan beli sahamnya…hehhehhehe
anyway, artikel silahkan dicopas zoel….
[…] pernah mengulas bagaimana akuisisi sebuah klub sepakbola dapat dimiliki oleh para suporternya (baca : Should Football adopt American System ? ) dan sekarang hal tersebut telah terealisasi dengan hadirnya Ebbsfleet […]
No teletrack cash advance….
Unsecured cash advance….