Webster Ruling: Sebuah Kerugian atau Keuntungan?
Sebuah keputusan dalam persepakbolaan telah dikeluarkan. Ada yang menganggap sebuah kerugian. Tapi jika dipikirkan kembali, keputusan tersebut bisa dianggap keuntungan bagi sebuah kompetisi sepak bola untuk menjadi lebih menarik dan lebih merata kekuatannya.
Court of Arbitration for Sport (CAS) atau Pengadilan Arbitrase Olahraga yang bermarkas di Lausanne, Swiss, baru saja melansir satu keputusan yang bakal memberi dampak luar biasa kepada pemain dan juga bagi klub terkait soal transfer dan kontrak pemain.
Keputusan CAS yang dimaksud adalah setiap pemain—secara sepihak—dimungkinkan untuk memutus kontrak kerjanya bersama klub (hengkang) setelah menjalani “masa proteksi” dan hanya wajib memberi kompensasi sebesar gaji yang bakal diterimanya di sisa waktu kontrak tersebut. Keputusan yang diambil CAS itu dilakukan ketika mengadili kasus pertikaian antara Andy Neil Webster dengan klub lamanya, Heart of Midlothian FC, klub anggota Liga Premier Skotlandia.
Contohnya, Manchester United yang bisa kehilangan pemain bintangnya, Cristiano Ronaldo—bakal genap berusia 23 tahun pekan depan—di bursa musim panas 2010 dengan fee transfer yang terbilang sangat kecil, hanya 12 juta pound atau sekitar Rp 222 miliar.
Perhitungannya begini. Kontrak baru Ronaldo di Old Trafford 2007-2012. Gaji Ronaldo 120 ribu pound per pekan. Jadi, setelah tiga tahun, 2010, Ronaldo bisa hengkang ke Real Madrid, misalnya, dengan membayar denda atau kompensasi jumlah gajinya dalam dua tahun yang tersisa atau sekitar 12 juta pound.
Hal yang sama juga dapat terjadi pada bintang-bintang premiership lainnya. Sebut saja, gelandang Arsenal, Francesc Fabregas. Kontraknya di Emirates berdurasi delapan tahun yang diteken pada Oktober 2006. Artinya, masa kerja Fabregas berakhir pada 2014. Pada 2010, setelah tiga tahun berjalan, Fabregas (23 tahun), bisa dibeli 12 juta pound atau empat kali gaji tahunannya.
Bahkan, dengan skema serupa, striker Tottenham Hotspur, Dimitar Berbatov bisa hengkang dari White Hart Lane pada musim panas 2009—setahun sebelum kontraknya habis pada 2010—dengan fee hanya 1,3 juta pound atau sekitar Rp 24 miliar.
Jika kita lihat hitung-hitungan seperti ini, sebetulnya klub itu lebih banyak enaknya dibanding ruginya. Kenapa? Pemain bola yang masuk kategori loser disebuah klub, biasanya lebih banyak dibanding pemain bola berkategori winner. Contohnya pelajar SD/SMP/SMA. Dari sekian banyak siswa, juara kelasnya hanya dipilih tiga. Sisanya? Bisa dimasukan kategori pecundang. Namun, didalam sepakbola, tidak ada yang sepenuhnya pecundang. Yang ada, pemainnya memang tidak kompak atau tidak nyetel dengan teman-temannya, sehingga prestasinya kurang bagus. Nah, jika sebuah klub lebih banyak memiliki pecundang tapi sebetulnya berbakat, secara tidak langsung, klub lain yang membutuhkan pemain berbakat tersebut bakalan senang jikalau dia bisa dijual tanpa mahal-mahal. Jika pemandu bakat bisa melihat, oh si A bisa cocok dengan si B, maka si pemandu bakat tinggal menunjukan si A kepada pemilik klub untuk di beli dan pemilik klub tidak perlu keluar duit banyak karena didasari keputusan CAS. Hal ini jelas juga memberikan keuntungan bagi klub-klub yang tidak berduit banyak untuk bisa membeli pemain bintang.
Contoh kecil adalah Thiery Henry. Ketika di Juventus, dia tidak bermain bagus. Karena posisinya memang tidak memungkinkan dia bisa leluasa mencetak gol. Lalu dibeli oleh Arsenal. Seandainya keputusan CAS sudah diberlakukan saat itu, otomatis Arsenal akan senang bisa mendapatkan Thiery Henry dengan harga murah. Karena fee-nya hanya sebesar sisa kontrak si pemain. Dan keuntungan ini bisa meningkatkan persaingan antar klub sehingga didalam sebuah kompetisi, bisa mengurangi superioritas sebuah klub. Khususnya klub-klub berkantong tebal.



bung Adi, peraturan ini sudah diterapkan mulai kapan? apakah bersamaan dgn peraturan kompensasi untuk klub asal pemain yg ditransfer dibawah usia 23 thn? kalo aturan baru ini sudah mulai diterapkan, bagus untuk klub (yg berduit) ingin membeli pemain karena setiap pemain memiliki “release clause”, ga perlu nunggu hingga free transfer.
…dan uang gaji di sisa kontrak bisa ditutup/ditalangi oleh calon klub barunya…permainan akal-akalan para lawyer. Tapi dari sudut pandang CAS, ini untuk keseimbangan porsi keadilan aja sih…
@zoel,
keputusannya itu baru muncul kemarin, Rabu, 30 Januari 2008. Sebetulnya belum benar2 diterapkan sih… tulisan ini hanya ingin mengangkat diskusi saja jikalau tim2 besar mau menerapkannya pasti mereka bakal kebingungan
@hedi:
iya2… bagusnya sih begitu, jadi meniru NBA