Jermain Defoe, I’m Back….
Tiada lagi kegetiran muncul di raut muka suporter The Pompeys. Meski ditinggal sebagian besar pilar utamanya, yang “boyongan” ke Piala Afrika. Publik masih tetap dapat berharap banyak kepada peningkatan prestasi tim asal kota London tersebut.
Semuanya dimungkinkan dengan undisclosed transfer, yang melibatkan nama Jermain Defoe, striker kencang dari Tottenham Hotspurs. Jermain diboyong dengan perputaran uang senilai 7-12 juta poundsterling.
Nilai yang sepadan, dengan ekspektasi publik Fratton Park, dan “telah dibayar lunas”, pada aksi debutnya, menghadapi another blue Londoners, Chelsea. Ya. Sebutir gol dicetak Defoe, dengan menggeber speed dan diakhiri finishing maut, mempecundangi kiper terhebat di EPL, Petr Cech.
Meski hanya “sebiji” gol saja, bagi Defoe, nilainya jauh lebih berharga. Defoe dipasang Harry Redknapp sejak menit pertama, dan baru diganti ketika waktu menunjuk menit 89. Suatu hal yang tidak mungkin dialaminya di klub sebelumnya, Tottenham.
Hotspur memang klub yang jauh lebih besar daripada Portsmouth. Akibatnya Defoe, hanya menjadi “paket” terakhir dari komposisi Berbatov, Robbie Keane dan Darren Bent. Juande Ramos, sang koki Hotspurs, merupakan pelatih dengan patron physical play dan mengedepankan lini tengah yang kuat.
Ramos lebih suka striker berpostur ideal, dan mengandalkan umpan matang, hasil kerja keras para gelandang. Untuk itulah dia dikenal dengan “prasastinya”, 3 striker dengan tipikal nyaris sama di Sevilla (Kerzhakov, Kanoute dan Luis Fabiano).
Itulah sebab tersingkirnya Defoe, tiada tempat bermain area dengan gaya khasnya di White Heart Lane. No, it’s not personal for Ramos, it’s only business….
And for another business reason, Defoe memainkan alurnya kembali di lapangan hijau. Lewat “pertolongan” Harry Redknapp, dirinya berpindah kiblat ke Fratton Park. Harry adalah nama yang sama membesarkan dirinya di awal karir.
Bersama-sama dengan Joe Cole, Rio Ferdinand dan Frank Lampard, Defoe adalah bagian dari kuartet berlian asahan pelatih bertangan dingin tersebut. Ya, keempatnya adalah produksi akademi West Ham, di mana Redknapp lama melatih di sana.
Defoe muda, menghabiskan 93 pertandingan dengan kontribusi 29 gol. Mulai dari debut pertama di umur 17 tahun, sampai menginjak usia ke 22, dan menjalani pertandingan terakhirnya di The Hammers. Mungkin memang sudah garis tangan Defoe, bahwa dirinya akan mengadu nasib di kota London, karena dirinya berpindah ke klub ibukota Inggris tersebut lainnya, Tottenham Hotspurs.
Di tim yang berjulukan Lilywhites, Defoe menghabiskan 4 tahun karir, dengan torehan 43 gol dari 139 pertandingan. Sebelum akhirnya (lagi-lagi) berpindah ke klub London lainnya, Portsmouth.
Defoe hanya menjadi bagian dari reformasi tim. Pasca lengsernya Martin Jol, pelatih anyar Juande Ramos, punya pendapat berbeda dengan lini depan timnya.
But that’s fine Defoe. Life is goes on. Seperti apa yang sudah anda lakukan sebelumnya, setiap debut dengan klub baru, anda selalu mencetak gol. Dan kali ini Chelsea menjadi “korbannya”. Sama seperti Porstmouth, yang anda “habisi” ketika masih berkostum Tottenham pada pertandingan perdana.
I’m back……


