Geliat Klub Semenjana Liga Eropa


Klub semenjana, adalah istilah yang diberikan kepada tim-tim “kuda hitam” di masing-masing liga. Tim-tim tersebut dianggap sebagai tim penghuni papan tengah, tim yang belum matang, atau bahkan angin-anginan.
Terkadang mereka sangat kuat, tetapi di sisi lain, dapat mengalami paceklik kemenangan secara berturut-turut. Ketidakstabilan dalam mengarungi pertandingan, membuat mereka dijuluki sebagai tim semenjana ataupun tim medioker.
Di Liga Inggris, kita mengenal Tottenham Hotspur, Manchester City, Everton, ataupun Aston Villa sebagai klub-klub semenjana. Musim ini, Manchester City bahkan melejit jauh melebihi ekspektasi pengamat sepakbola, bahkan dengan sempat menduduki peringkat 3 klasemen, pada awal kompetisi. Kehadiran eks arsitek timnas Inggris, Sven Goran Eriksson, dianggap sebagai faktor memicu keberhasilan tim asal kota Manchester ini.
La Liga Spanyol, memasukkan Real Zaragoza, Villareal dan Real Betis ke dalam kategori klub medioker. Musim ini, antiklimaks terjadi pada Real Zaragoza, dengan skuad yang “cukup mengerikan”, Zaragoza masih gagal menempati papan atas klasemen. Padahal Zaragoza telah diperkuat oleh bintang Argentina, Pablo Aimar, “workaholic” eks Atletico, Peter Luccin, goalscorer Ricardo Oliveira, dan bek tangguh Roberto Ayala.
Sedangkan, untuk Liga Italia, kita dapat melihat kiprah Palermo, Udinese dan Sampdoria, sebagai tim-tim kuda hitam “perusak” kemapanan Magnificent Seven (AC Milan, Inter, Juventus, Lazio, Roma, Parma dan Fiorentina). Melalui aksi-aksi Christian Zaccardo, Carvalho Mauri, Fabrizio Miccoli, Mark Bresciano serta kapten Andrea Barzagli, Palermo semakin menunjukkan kualitasnya sebagai peraih salah satu tiket kejuaraan Eropa di musim depan.
Asalkan dapat menjaga keharmonisan tim, menahan pemain bintang agar tidak pindah klub, dan tentunya menghindari resiko cedera, setiap tim semenjana, memiliki peluang besar untuk masuk dalam posisi papan atas di liganya masing-masing. Keberhasilan Real Zaragoza menjuarai Piala Winners 1995 dan lolosnya Villareal ke semifinal Piala Champions 2006, telah membuka mata dunia, bahwa persaingan sepakbola akan semakin berwarna dan menarik, terutama dengan kehadiran klub-klub tersebut.
Source : www.manchestercityyears.com,www.diariosdefutbol.com , www.mondorosanero.it (Photo)


