Trend Menguatkan Tim Medioker

derby county fc logoTrend memajukan tim-tim medioker sedang melanda kawasan Inggris. Yang paling anyar adalah bakal beralihnya kepemilikan Derby County ke tangan investor asal Amerika Serikat, sebuah grup usaha bernama General Sports and Entertainment.

Dorongan utama adalah gelontoran poundsterling berkarung-karung dan tentu saja niat yang kuat buat membangun tim medioker menjadi tim kuat. Otomatisasi dijamin akan berlangsung dengan sendirinya seperti pemain mahal dan pelatih berkelas akan dengan mudah digaet. Sudah pasti unsur bisnis tetap akan muncul disitu, bermain main dengan mencari untung di pembelian tiket, merchandise, hingga sponsor/partners yang lebih besar yang akan datang menggandeng. Apalagi bila memang dana yang dikucurkan oleh si pembeli sangat tak berbatas, seperti contohnya Chelsea. Lahirnya trend tersebut, mau gak mau ditandai dengan merengseknya Chelsea yang kini menjadi kekuatan baru, hingga tim biru biru itu masuk jajaran The Big Four di Premiere League sana.


Chelsea

chelsea logoBukan tanpa sebab, Chelsea ujug ujug menjadi tim menakutkan seperti sekarang. Sebabnya karena gelontoran dana dari pohon uang milik Roman Abramovich, pria keturunan Yahudi yang jadi milyuner di Rusia. Bandingkan dengan Chelsea yang pada masa 10 tahun silam, hanyalah sebuah tim medioker yang sudah lebih dari 40 tahun tidak lagi menjuarai liga Inggris. Insting bisnis Roman tentu saja bermain kala dia lakukan gerakan ambil alih. Chelsea yang memang beberapa saat akan dibeli Roman, sudah menjadi tim perongrong tim tim mapan di Liga Inggris.

Revolusi gaya bermain Chelsea yang telah didengungkan Glen Hoddle-Ruud Gullit-Gianluca Vialli hingga Claudio Ranieri di tubuh Chelsea. Menarik minat si Roman rupanya. Bayangkan pada masa deretan pelatih sebelum The Midas Ranieri itu, Chelsea hanyalah sebuah klub dengan pemain2 kelas dua macam Dennis Wise, Frank Sinclair, Dhimitri Kharine, Tony Cascarino, Roberto Di Matteo, Pierluigi Casiraghi, dan Gustavo Poyet. Bahkan Chelsea sempat dikenal tempatnya para pemain “buangan” yang dulunya top banget di klub sebelumnya

Nama-nama macam Ruud Gullit dan Gianluca Vialli (kelak jadi pelatih juga), Frank Leboeuf, Gianfranco Zolla, Didier Deschamps dan Marc Desailly-pun muncul menghiasi perjalanan Chelsea yang menjelma menjadi kekuatan menakutkan

Kerajaan Bisnis Roman-pun dengan enteng menggelontorkan dana, gak heran nama-nama setelah pemain diatas mengemuka… Frank Lampard, Geremi, Claude Makalele, Peter Cech, Joe Cole sampe ke Didier Drogba hingga Michael Ballack. Imbasnya selain menjadi pendobrak dan masuk wilayah The Big Four, ribuan penggemar-penggemar baru pun muncul di seluruh dunia termasuk Indonesia.

Sebelum revolusi, Chelsea boleh dibilang tim medioker yang sempat berprestasi tahun 1970. Saat itu mereka untuk pertama kalinya merengguk nikmat anggur juara FA.

Liverpool

Liverpool FC logoSebenarnya The Reds sudah menjadi tim yang solid jauh sebelum duo yankee tycoons George Gillett dan Tom Hicks men-take over-nya. Liverpool pernah merajai sepakbola Inggris pada dekade 1970 hingga 1980. Kehebatan racikan Bob Paisley saat itu, juga menjadikan The Reds sebagai raja Eropa….

Paisley adalah pengganti pelatih legendaris The Reds Bill Shankly, yang telah berjasa besar jadikan The Reds raja EPL. Hanya saja, disini unsur bisnis yang bermain.. sangat kuat tercium aromanya. Tak kurang Alan Curbisley mengecam tindak tanduk duo tycoons tadi. Bahkan legenda The Reds, Ian Rush dan Kenny Dalglish-pun turut bersuara lantang ketika Gillet dan Hicks sepertinya panik dan pengen hasil instant dan bak lakukan roda bisnis saja…guna memajukan Liverpool.

Itu setelah Gillett dan Hicks lakukan pembicaraan rahasia dengan Juergen Klinsmann di California. Dan mereka ada niatan untuk melengserkan Rafael Benitez.

Uniknya para fans The Reds, malah menginginkan mereka akan mengambil alih klub dengan cara “member-share”, yakni minimal mengumpulkan dana dari sekitar 100 ribu orang fans The Reds di seluruh dunia. Alamak… Sekedar informasi, bahwa Barcelona duluan melakukan hal ihwal member share. Itu terjadi kala mereka menjuarai piala Champions pada 2006 (mengalahkan Arsenal). Saat itu Barcelona sudah dimiliki oleh sekitar 100 ribuan fans member-nya.

Manchester City

Manchester City yang merupakan sodara sekota dari Manchester United, coba menjalani kedua hal tersebut, gelontoran poundsterling dan gencarnya niat Pertama setelah taipan asal Thailand mengambil alih dan kedua adalah sosok Sven Goran Errickson. Walaupun tidak sebesar dan sekuat Chelsea dan Liverpool yang sama-sama diguyur poundsterling. Manchester City tampaknya serius membangun timnya. Paling tidak konsisten menjadi tim perongrong The Big Four…

Thaksin tidak mau setengah setengah dan pelit seperti halnya Al Fayeed yang miliki klub Fulham saat ini. Fulham boleh dibilang maju nggak…mundur juga nggak.

Fayed yang boleh dibilang sudah menyuntik dana segar jauh sebelum Roman Abramovich mengambil alih Chelsea. Tapi ketidakseriusan dalam hal belanja pemain KW1, nampaknya yang membuat Fulham seperti menari poco poco. Sudah maju, mundur lagi rame-rame…

(minjem istilah nih)

Raja telekomunikasi asal negeri gajah putih itu jelas beda dengan Al Fayeed. Takhsin kini telah mengguyur The Citizen dengan dana milyaran dari koceknya. Gibasan poundsterling yang dia lakukan yang utama adalah menyeret SGE yang kala itu masih menganggur paska dipecat FA setelah piala dunia 2006.

Kemudian masuklah berturut-turut nama-nama menjanjikan macam Bojinov, Petrov, Elano dan yang ter-gres…adalah… predator kelaparan dari Zimbabwe, Benjani Mwaruwari(mantan legiun pasukan hitam Redknapp)

Selain klub-klub diatas, Manchester United, Portsmouth dan West Ham United. Tidak lagi murni dimiliki orang Inggris…

Ada hal menarik yang perlu kita garis bawahi dari trend yang kini berlaku di ranah Briton tadi, bahwa sebenarnya grup usaha Sampoerna-pun telah masuk ke dalam wilayah liga yang semakin gemerlap itu. Setelah gagal menjadikan Manchester United sebagai mitra-nya, Grup Sampoerna berhasil masuk ke Tottenham Hotspur, dengan bendera Mansion-nya. Ironis memang.. Disaat negeri ini butuh kebangkitan sepakbola yang hakiki, namun justru orang Indonesia diluar, ikut bermain bisnis empuk menjanjikan yakni terjun dan berinvestasi di English Premiere League yang kian hari kian berwarna dan gemerlap saja.

No comments yet.

Write a comment: